<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>R3ndr1's WebLog</title>
	<atom:link href="http://r3ndr1.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://r3ndr1.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 10 Jul 2011 00:46:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='r3ndr1.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>R3ndr1's WebLog</title>
		<link>http://r3ndr1.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://r3ndr1.wordpress.com/osd.xml" title="R3ndr1&#039;s WebLog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://r3ndr1.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kasus Ruyati: Ujian Kaum Muslimin</title>
		<link>http://r3ndr1.wordpress.com/2011/07/06/kasus-ruyati-ujian-kaum-muslimin/</link>
		<comments>http://r3ndr1.wordpress.com/2011/07/06/kasus-ruyati-ujian-kaum-muslimin/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jul 2011 06:41:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yovi rendri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://r3ndr1.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Telah terjadi hukum pancung atas ibu Ruyati pada tanggal 18 Juni 2011 lalu di negara Saudi Arabia (http://m.inilah.com/read/detail/1620212/inilah-kronologis-proses-hukum-tki-ruyati/), kejadian yang cukup menggemparkan, terutama di Indonesia. Bagaimana tidak? Ibu Ruyati -semoga Allah merahmatinya-, adalah seorang ibu berkewarganegaraan Indonesia, yang bekerja menjadi TKW di Saudi Arabia telah dihukum pancung. Seolah tiada hujan tiada angin, tiba-tiba berita duka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=145&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Telah terjadi hukum pancung atas ibu Ruyati pada tanggal 18 Juni 2011 lalu di negara Saudi Arabia (<a href="http://m.inilah.com/read/detail/1620212/inilah-kronologis-proses-hukum-tki-ruyati/">http://m.inilah.com/read/detail/1620212/inilah-kronologis-proses-hukum-tki-ruyati/</a>), kejadian yang cukup menggemparkan, terutama di Indonesia. Bagaimana tidak? Ibu Ruyati -semoga Allah merahmatinya-, adalah seorang ibu berkewarganegaraan Indonesia, yang bekerja menjadi TKW di Saudi Arabia telah dihukum pancung. Seolah tiada hujan tiada angin, tiba-tiba berita duka tersebut menghujani tanah air ini dengan deras, bahkan keluarga korbanpun mengaku tidak mendapat informasi yang cukup. Sebagaimana pemerintah Indonesia juga mengaku demikian.</p>
<p>Informasi yang tiba-tiba dan dengan segala kekurangannya mengundang banyak komentar di berbagai kesempatan. Tentu, komentar itu pun bermacam-macam sesuai keberagaman orang yang berkomentar.<span id="more-145"></span> Dari muslim, sampai non muslim. Dari orang yang bijak sampai orang yang sembrono. Dari yang menunggu informasi yang cukup sampai yang asal bunyi dengan penuh ketergesaan dan emosi.</p>
<p>Saya memandang bahwa kasus ini sebagai ujian yang cukup berat bagi kita semua, tentu sebagai seorang muslim meyakini, bahwa segala kata-kata yang keluar darinya akan dicatat oleh malaikat, yang bakal ditimbang sebagai amal baik atau buruk di akhirat kelak, <em>‘Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.’</em> [Q.S. Qaf:18]</p>
<p>Inilah ujian pertama bagi kita semua, ketergesaan dalam berkomentar tanpa memiliki informasi yang cukup membuat seseorang terjerumus dalam komentar yang salah dan tidak bijak, sehingga bisa menjadi bencana buatnya atau buat orang lain di kemudian hari.</p>
<p>Memojokkan salah satu pihak dan menyalahkannya tanpa informasi yang cukup adalah sikap yang tidak bijak yang akan merugikan. Ini menggambarkan ketergesaan yang tanpa pikir panjang. Sama saja apakah yang dipojokkan itu adalah pihak Ibu Ruyati -semoga Allah merahmatinya- atau pihak pemerintah RI sebagai penanggung jawab atas warganya, ataukah pihak keluarga majikan sebagai korban pembunuhan Ibu Ruyati, ataukah pihak pemerintah Saudi Arabia sebagai hakim antara dua orang yang bertikai dan yang memutuskan perkaranya.</p>
<p>Tentu untuk menilai siapa yang salah, siapa yang keliru, kita harus mengetahui sejak awal kasus ini, apa yang dilakukan Ibu Ruyati, benarkah dia membunuh, bagaimana membunuhnya, kenapa dia melakukannya, apa yang dilakukan majikan, kenapa dia melakukannya, apa yang dilakukan pihak hakim, kenapa sampai pada vonis hukum mati, apa yang dilakukan pemerintah Saudi Arabia terhadap pihak pemerintah RI, apa upaya yang telah dilakukan pemerintah RI melalui duta besarnya. Apakah informasi itu semua telah kita miliki sehingga kita dapat menilai dengan baik dan benar baik dalam menyalahkan atau membenarkan salah satu pihak?</p>
<p>Apakah komentar kita adalah komentar yang dapat dipertanggung jawabkan di dunia maupun di akhirat di hadapan Rabbul Alamin?</p>
<p>Jangan sampai musibah yang menimpa membuat kita jatuh dalam musibah lain, tergelincirnya kita dalam komentar yang salah.</p>
<p>Sebelum saya lanjutkan, saya ucapkan kepada keluarga Ibu Ruyati -semoga Allah merahmatinya- agar bersabar atas segala musibah. Sebagai umat muslim, tentu meyakini bahwa semua musibah mengandung hikmah, apa yang terjadi semoga menjadi penebus dosa. Semoga Allah mengganti musibah kalian dengan pahala dan yang lebih baik.</p>
<p>Kembali kepada ujian di balik kasus, di antara ujian yang terberat bagi muslimin  dari kasus itu adalah ujian keimanan terhadap ajaran Islam. Tak sedikit dari kasus ini muncul komentar, atau minimalnya perasaan dan anggapan negatif terhadap hukum Islam, <em>qishash</em>. Dari kasus tersebut bisa jadi seorang muslim justru menyalahkan hukumnya, tanpa menengok kepada alur peristiwa dan hukum. Ini yang justru sangat dikhawatirkan, oleh karenanya saya menganggap ini ujian yang sangat berat bagi muslimin, karena ini bisa menggoyah keimanan dan keislamannya. Kembali, sebabnya adalah tiadanya informasi yang cukup tentang kejadian yang sesungguhnya dan tentang apa itu hukum <em>qishash</em> dalam Islam.</p>
<p>Kita tutup sejenak lembaran ibu Ruyati, karena itu sifatnya kasuistik yang untuk mempelajarinya perlu studi kasus. Kita akan coba buka lembaran ensiklopedi fikih Islam, untuk mengetahui apa itu <em>qishash</em>.</p>
<p>Ternyata <em>qishash</em> bukan hanya ada dalam al-Quran bahkan dahulu dalam kitab Taurat pun telah ada syariatnya, saat kitab Taurat masih murni. Allah berfirman yang artinya, “<em>Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” </em>[<strong>Q.S. al-Maidah:45</strong>]</p>
<p>Namun demikian, syariat <em>qishash</em> dalam hal pembunuhan, nyawa dibayar nyawa, tidak sesederhana yang dibayangkan, bahkan hal itu tidak terlepas dari segala aturan yang terkait dengannya. Sebagai contohnya, di antara beberapa syarat seseorang dibalas bunuh, misalnya si pembunuh adalah <em>mukallaf</em> (dibebani hukum, red.), dan si pembunuh membunuhnya dengan suka rela, tidak dipaksa. Dengan pembunuhan <em>‘qotlul amd’</em> (sengaja melakukan pembunuhan dengan alat yang mematikan).</p>
<p>Dan di antara syarat meminta <em>qishash</em> adalah bahwa seluruh wali korban sepakat untuk membalas bunuh, bila ada salah satu saja yang memaafkan, maka gugurlah permintaan <em>qishash</em>.</p>
<p>Untuk diketahui pula bahwa balas bunuh bukanlah satu-satunya pilihan bagi keluarga korban, tetapi ada dua pilihan, Nabi memberikan dua opsi, <em>“Barangsiapa yang salah satu keluarganya terbunuh maka dia di antara dua pilihan, diberi diyat (tebusan) atau di-qishash.”</em> [Sahih, <strong>H.R. al-Bukhari</strong>]</p>
<p>Bahkan, dalam Islam sangat dianjurkan bagi para wali korban untuk memaafkan, artinya tidak membalas bunuh tetapi membayar diyat. Dan lebih baik lagi jika para wali korban tersebut memaafkan tanpa bayaran sama sekali. Lihatlah firman Allah yang artinya, <em>“Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari <strong>saudaranya</strong>,“</em> [Q.S. al-Baqarah:178]. Lihatlah penggunaan kata saudara, apa rahasia di balik itu?</p>
<p>Asy Syaikh as-Sa’dy dalam tafsirnya mengatakan, “Terkandung pada ayat tersebut anjuran untuk berbelaskasih dan memaafkan, mengganti qishash dengan diyat, dan lebih bagus lagi memaafkan tanpa minta diyat”.</p>
<p>Bahkan, Rasulullah sendiri senantiasa menyarankan para wali korban untuk memberikan maaf. Shahabat Anas bin Malik menceritakan, <em>“Tidaklah didatangkan kepada Rasulullah satu urusan qishash pun kecuali beliau menyarankan untuk dimaafkan”.</em> [Sahih, <strong>HR Ibnu Majah</strong>. Lihat Sahih Sunan]</p>
<p>Bahkan Rasulullah pernah memberikan harta yang sangat banyak kepada orang-orang Laits agar mereka mau memaafkan, dan tidak menuntut <em>qishash</em>.</p>
<p>Namun, hal ini tentu tanpa mengesampingkan hak keluarga korban. Kita tidak bisa hanya memandang orang yang hendak dieksekusi. Tentu hak korban juga harus diperhatikan, mereka orang yang telah dirugikan dalam hal ini, salah satu anggota keluarga mereka telah wafat dengan cara dibunuh, dan bukankah membunuh itu dosa yang sangat besar? (lihat Q.S. an-Nisa’:93). Bayangkan kalau itu menimpa salah satu kita -semoga tidak terjadi-. Andai mereka memaafkan, itu keutamaan yang sangat tinggi nilainya, tetapi kalau mereka tetap menuntut hak, itu hak mereka, bukan sikap yang adil kalau hak mereka dihambat.</p>
<p>Pihak pemerintah yang sebagai hakim, mereka adalah pengayom bagi kedua belah pihak yang bertikai, bukan sikap adil kalau mereka langsung memutuskan pancung, atau memutuskan maaf. Dia harus melihat kejadian secara fakta yang nyata lalu menghukuminya tanpa dipengaruhi oleh pihak manapun.</p>
<p>Seandainya pun pihak yang akan di-<em>qishash</em> itu adalah keluarga hakim sendiri, ia harus tetap berbuat adil, dahulu Nabi pernah mengatakan, <em>“Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri tentu akan aku potong tangannya.”</em> Saat itu telah terjadi pencurian oleh salah seorang wanita bangsawan dari kabilah Bani Makhzum, ia telah diproses secara hukum dan ia mesti mendapatkan hukuman potong tangan. Keluarga wanita tersebut merasa keberatan. Bagaimana mungkin seorang wanita dari keluarga bangsawan harus dipotong tangannya karena mencuri. Maka mereka meminta sahabat Usamah bin Zaid, sebagai orang yang sangat disayangi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk memintakan maaf, dengan kata lain, mengurungkan hukum potong tangan tersebut. Beliau pun marah dan mengucapkan, <em>“Yang menghancurkan umat sebelum kalian adalah bila yang mencuri di antara mereka adalah bangsawan, mereka biarkan (kebal hukum), dan bila yang mencuri orang lemah mereka tegakkan hukum padanya”</em> lalu mengucapkan ucapan tersebut di atas. Wanita itu pun akhirnya mengambil pelajaran dari pemotongan tangan tersebut dan semakin memperbaiki ketaatannya. [Sahih HR <strong>an Nasai</strong>. Lihat Sahih Sunan Nasa’i]</p>
<p>Dalam kasus Ruyati, memang benar apa yang dikatakan duta besar RI bahwa Raja pun tidak bisa campurtangan bila hukum telah diputuskan dan keluarga korban tetap tidak mau memaafkan. (<a href="http://fokus.vivanews.com/news/read/228792-raja-saudi-tidak-bisa-ikut-campur">http://fokus.vivanews.com/news/read/228792-raja-saudi-tidak-bisa-ikut-campur</a>)</p>
<p>Namun apa yang bisa dilakukan Raja, Hakim, atau pihak RI, mereka hanya bisa menganjurkan keluarga korban untuk menempuh jalan damai, <em>ishlah</em>, saling memaafkan, minimalnya berpindah kepada diyat, walaupun bernilai besar, dan lebih baik lagi gratis. Seperti yang sering dilakukan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihhi wa sallam</em>.</p>
<p>Untuk diketahui pula, seandainya hakim memutuskan bahwa pembunuhan ini <em>qotlul ‘amd</em> (pembunuhan sengaja, pembunuhan dengan alat yang mematikan). Bisa jadi si pembunuh sebenarnya tidak berniat membunuh, ia hanya ingin melukai, tetapi ternyata justru kematian yang terjadi. Dalam kondisi seperti ini, hakim tetap menghukumi secara fakta lapangan. Adapun ucapan si pembunuh bahwa ia tidak bermaksud membunuh, hakim tidak tahu sejauh mana kejujurannya, maka kata-kata tersebut tidak merubah hukum. Ada kemungkinan ia jujur dalam pengakuan tersebut, tetapi hanya Allah yang mengetahui. Atas dasar itu, hukum hakim hanya sebatas hukum dunia, dan hakim hanya dapat menganjurkan wali korban untuk memaafkan. Jika si pembunuh telah mengaku bahwa ia tidak punya niatan untuk membunuhnya, kalau ia jujur dan tetap dilaksanakan <em>qishash</em>, maka wali korban yang meng-<em>qishash</em> dianggap telah melakukan pembunuhan terhadapnya.</p>
<p>Abu Hurairah pernah bercerita, telah terjadi pembunuhan terhadap seseorang di zaman Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka perkara tersebut diajukan kepada beliau. Setelah proses, Nabi menyerahkan pembunuh tersebut kepada wali korban untuk dibalas bunuh. Ternyata si pembunuh mengatakan, <em>“Wahai Rasulullah, demi Allah, saya tidak bermaksud membunuhnya.”</em> Rasulullah pun mengatakan kepada keluarga korban, <em>”Kalau dia jujur, dan kamu tetap membunuhnya maka kamu masuk  neraka.”</em> Akhirnya keluarga korban melepaskannya. [Sahih, HR <strong>Abu Dawud</strong> dan yang lain. Lihat Sahih Sunan]</p>
<p>Hukum <em>qishash</em>, dalam Islam bukan hanya sebagai hukuman, ada sisi lain yang jarang dipahami oleh banyak orang, yaitu bahwa hukum tersebut juga berfungsi sebagai <em>kaffarah,</em> penutup dosa. Sehingga, hukuman di akhirat bisa terbebaskan dengan di-<em>qishash</em> ini. Dan tentu, hukuman di dunia jauh-jauh lebih ringan ketimbang hukum di akhirat.</p>
<p><strong>Ibnul Qoyyim</strong> menjelaskan, “Yang benar, pembunuhan itu terkait dengan 3 hak: hak Allah, hak yang terbunuh, dan hak keluarganya. Maka jika si pembunuh menyerahkan dirinya dengan suka rela kepada wali korban, karena menyesal dan takut kepada Allah, lalu bertaubat dengan taubat yang benar, maka hak Allah gugur dengan taubatnya. Hak keluarga gugur dengan <em>qishash</em>, damai, atau pemberian maaf. Tinggal hak orang yang terbunuh, maka Allah akan memberikan gantinya untuk hamba-Nya yang bertaubat tersebut dan Allah akan memperbaiki hubungan antara keduanya.”</p>
<p>Dengan penjelasan di atas, seandainya ibu Ruyati salah, semoga ia benar-benar taubat dengan <em>taubatan nashuha</em>, sehingga dosanya terampuni, dan diterima di sisi-Nya. Amin…</p>
<p>Untuk itu, jangan sampai kasus semacam ini memengaruhi keimanan kita terhadap Islam, banyak pihak ingin memanfaatkannya untuk menyudutkan pihak tertentu, dengan berbagai gosip yang tak bertanggung jawab. Yang cukup aneh dan lucu dalam kasus ini, demi menyudutkan orang Arab, ada yang menganggap bahwa ibu Ruyati membunuh karena membela diri dari upaya pemerkosaan majikannya. <strong>Padahal yang dibunuhnya adalah seorang nenek-nenek tua, dan pada dasarnya majikannya adalah keluaga yang baik. Sebagaimana diakui teman satu majikan Ibu Ruyati yang bernama Suwarni, hanya saja si nenek malang -semoga Allah merahmatinya dan memafkannya- suka marah-marah. Ibu Ruyati pun mengakui sebab pembunuhannya adalah </strong><strong>rasa kesal akibat sering dimarahi oleh ibu majikan dan kecewa karena majikan tidak mau memulangkan. Ruyati juga menyatakan berniat untuk melarikan diri namun pintu rumah selalu terkunci sehingga tidak dapat keluar dari rumah majikan. </strong><strong>Ruyati mengaku tidak pernah disiksa oleh majikannya. (</strong><a href="http://m.inilah.com/read/detail/1620212/inilah-kronologis-proses-hukum-tki-ruyati/">http://m.inilah.com/read/detail/1620212/inilah-kronologis-proses-hukum-tki-ruyati/</a>)<strong> </strong></p>
<p>Seandainya pembunuhnya bukan ibu Ruyati, tetapi orang Arab sendiri, tentu akan dihukumi dengan hukuman yang sama. Dan faktanya, sudah banyak warga Saudi Arabia yang mati dalam hukum pancung. Memang orang jahat di mana-mana ada, dan kejahatan tetap kejahatan di manapun dan oleh siapapun.</p>
<p>Yang paling berbahaya, ketika kasus ini dipakai untuk menyudutkan Islam. Padahal bila dilihat dengan jujur dan benar, bahwa dalam hal ini syariat Islam lah yang paling adil dan paling menjaga perasaan semua pihak, paling bijak dalam memutuskan. Kita selaku seorang muslim yang hakiki bukan muslim liberal (orang yang mengaku muslim tetapi jauh dari Islam), tentu mengimani firmanNya:</p>
<h1><strong>وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</strong></h1>
<p><em>“Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa</em>. [<strong>Q.S. al-Baqoroh:179</strong>].</p>
<p>Imam Asy Syinqithi dalam tafsirnya menjelaskan, “Di antara petunjuk Al-Quran yang lebih tepat dan adil adalah <em>qishash</em>, karena bila seseorang marah kemudian bertekad membunuh orang lain, lalu ingat bahwa bila ia membunuh ia akan dibunuh dengan sebab itu, ia akan takut dari akibat perbuatannya sehingga ia mengurungkan niatnya. Sehingga, tetap hiduplah orang yang akan ia bunuh dan dia pun tetap hidup karena tidak membunuh sehingga tidak dibunuh karena <em>qishash</em>. <strong>Dengan dibunuhnya seorang pembunuh, akan mengakibatkan hidupnya banyak orang yang tidak diketahui jumlahnya kecuali oleh Allah.</strong> Hal itu, sebagaimana kami sebutkan, sesuai dengan firman Allah (artinya), “<em>Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa</em>.[<strong>Q.S.</strong> <strong>Al Baqarah:179</strong>].</p>
<p>Tidak diragukan bahwa ini adalah jalan yang paling adil dan paling lurus. Oleh karenanya, telah disaksikan di penjuru dunia, baik dahulu maupun sekarang, sedikitnya jumlah pembunuhan pada negeri-negeri yang berhukum dengan hukum Allah. Karena, <em>qishash</em> adalah peringatan keras terhadap tindak pembunuhan seperti yang Allah sebutkan dalam ayat yang tersebut tadi.</p>
<p>Dan apa yang disebutkan oleh orang-orang anti Islam bahwa <em>qishash</em> tidak bijaksana karena menyebabkan berkurangnya jumlah komunitas masyarakat -yakni membunuh yang kedua setelah matinya yang pertama-, bahwa semestinya dihukum dengan dipenjara, dan bisa jadi ia beranak di balik terali besi sehingga menambah jumlah komunitas masyarakat, ini semua adalah ucapan yang tidak ada nilainya, kosong dari hikmah atau kebijaksanaan. Karena penjara tidak membuatnya jera dari pembunuhan (Apalagi jaman sekarang yang semuanya bisa ditebus dengan uang, penerj.), dan bila hukuman itu tidak membuat jera maka orang-orang rendahan itu akan banyak melakukan pembunuhan sehingga akan bertambah banyak pembunuhan dan komunitas masyarakat akan berkurang berkali lipat.” [dikutip dari <strong>Adhwa`ul Bayan</strong>, hal:427-428, karya Syaikh Amin Asy-Syinqithi].</p>
<p>Oleh: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc.</p>
<p>Sumber: http://tashfiyah.net/?p=701</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/r3ndr1.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/r3ndr1.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/r3ndr1.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/r3ndr1.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/r3ndr1.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/r3ndr1.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/r3ndr1.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/r3ndr1.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/r3ndr1.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/r3ndr1.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/r3ndr1.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/r3ndr1.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/r3ndr1.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/r3ndr1.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=145&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://r3ndr1.wordpress.com/2011/07/06/kasus-ruyati-ujian-kaum-muslimin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/454d5c90c00c5c4a78b6ffc247263b7f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">r3ndr1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Untaian Mutiara Hadits Nabawiyyah tentang Pergaulan Suami Istri</title>
		<link>http://r3ndr1.wordpress.com/2011/03/24/untaian-mutiara-hadits-nabawiyyah-tentang-pergaulan-suami-istri/</link>
		<comments>http://r3ndr1.wordpress.com/2011/03/24/untaian-mutiara-hadits-nabawiyyah-tentang-pergaulan-suami-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Mar 2011 02:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yovi rendri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mengayuh Biduk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://r3ndr1.wordpress.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[“Aku seorang wanita yang telah berkeluarga dan memiliki putra yang hampir berusia 2 tahun,” demikian ucapan seorang istri mengawali pengaduan dan pertanyaannya kepada Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-Utsaimin Rohimahullah. “Permasalahanku dengan suamiku, ia telah mengusirku dari rumah sebanyak dua kali dan sekarang kali yang ketiga. Namun setiap kali diusir, aku selalu kembali kepadanya seraya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=134&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Aku seorang wanita yang telah berkeluarga dan memiliki putra yang hampir berusia 2 tahun,” demikian ucapan seorang istri mengawali pengaduan dan pertanyaannya kepada Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-Utsaimin Rohimahullah. “Permasalahanku dengan suamiku, ia telah mengusirku dari rumah sebanyak dua kali dan sekarang kali yang ketiga. Namun setiap kali diusir, aku selalu kembali kepadanya seraya meminta agar ia memperbaiki pergaulannya denganku. Juga agar ia membiarkan putranya hidup dekat dengan ayahnya dan dalam asuhannya. Namun ia tetap berbuat jelek terhadapku serta pelit dalam memberikan nafkah kepadaku dan putranya. Ia pun melarangku untuk punya anak lagi padahal aku dalam keadaan sehat wal afiat, <em>alhamdulillah</em>. Ia juga melarangku mengunjungi keluargaku. Ia sering masuk rumah dengan tiba-tiba tanpa mengucapkan salam untuk mengejutkanku. Sekarang aku dan putraku tinggal di rumah orangtuaku. Ia sendiri tak pernah menanyakan tentang diriku, tidak pula tentang putranya. Aku takut sekiranya aku telah berbuat dosa yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala murka. Berilah fatwa kepadaku semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.” Demikian si wanita menutup permasalahannya.<span id="more-134"></span></p>
<p>Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-Utsaimin Rohimahullah memberikan jawaban, “Permasalahan antara engkau dan suamimu tidak mungkin diselesaikan kecuali dengan kembali kepada kebenaran dan bergaul yang baik di antara kalian berdua sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p><em>“Bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) dengan cara yang ma’ruf.”</em> <strong>(An-Nisa: 19)</strong></p>
<p>Juga firman-Nya:</p>
<p>وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p><em>“Dan mereka (para istri) memiliki hak yang seimbang dengan kewajiban mereka dengan cara yang ma’ruf.”</em> <strong>(Al-Baqarah: 2</strong><strong>2</strong><strong>8)</strong></p>
<p>Tidak mungkin tegak perkara di antara suami istri terkecuali bila masing-masingnya merelakan sebagian haknya tidak terpenuhi dengan semestinya. Masing-masingnya tidak mempersulit yang lain, mudah dan ringan urusannya. Ia sabar dengan apa yang didapatkannya dari pasangannya berupa kekakuan, serta ia membantu pasangannya dalam keadaan sempit dan lapang.</p>
<p>Nasihatku kepada suamimu, agar ia bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari perbuatan yang telah dilakukannya, agar ia bergaul kepadamu dengan cara yang ma’ruf, dan menegakkan kewajibannya, sehingga kehidupan suami istri di antara kalian bisa dibangun di atas bentuk yang paling sempurna. Adapun engkau, sepantasnya menghadapi sikapnya dengan sabar dan mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terlebih lagi di antara kalian telah ada anak, dan urusannya niscaya akan menjadi lebih berat bila terjadi perpisahan….” (<strong>Fatawa Manarul Islam</strong>, 1/53 sebagaimana dinukil dalam <strong>Fatawa ‘Ulama fi ‘Isyratin Nisa’</strong>, hal. 25-26)</p>
<p>Wanita lain mengadu, “Aku telah menikah sejak 25 tahun yang lalu dan memiliki beberapa anak lelaki dan perempuan. Aku banyak mendapatkan permasalahan dalam hubungan dengan suamiku. Ia sering merendahkan aku di hadapan anak-anakku dan di hadapan kerabat, bahkan orang yang jauh. Ia sama sekali tidak menghargai aku tanpa ada sebab. Aku pun tidak merasa lega (tidak tenang) terkecuali bila ia keluar rumah. Padahal suamiku tersebut mengerjakan shalat dan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aku berharap Anda akan menunjukkan kepadaku jalan yang selamat. <em>Jazakumullah khairan</em>.”</p>
<p>Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibn Baz Rohimahullah menjawab, “Engkau wajib bersabar dan menasihati suamimu dengan cara yang paling baik serta mengingatkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir. Mudah-mudahan ia menerima nasihat tersebut, mau kembali kepada kebenaran dan meninggalkan akhlaknya yang buruk. Namun bila ia tidak melakukannya maka ia menanggung dosa, sementara engkau beroleh pahala yang besar karena kesabaranmu menghadapi gangguannya. Semestinya engkau mendoakan kebaikan untuk suamimu dalam shalatmu dan dalam kesempatan lainnya, agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya hidayah kepada kebenaran serta menganugerahkan kepadanya akhlak yang utama. Juga agar Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungimu dari kejelekannya dan kejelekan selainnya. Engkau juga wajib untuk menghisab dirimu dan istiqamah dalam agamamu. Sebagaimana engkau wajib bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kejelekan-kejelekan yang muncul darimu dan dari kesalahanmu terhadap hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, hak suamimu, ataupun pada hak selainnya. Karena bisa jadi apa yang menimpamu disebabkan kemaksiatan-kemaksiatan yang pernah engkau perbuat<a href="#_ftn1">[1]</a>. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ</p>
<p><em>“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka hal itu disebabkan perbuatan tangan kalian sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan kalian.”</em> <strong>(Asy-Syura: 30)</strong></p>
<p>Tidak ada larangan bila engkau meminta kepada ayah suamimu, ibunya, saudara lelakinya yang tua, atau siapa yang dipandang dari mereka di kalangan karib kerabat dan tetangga untuk menasihati dan mewasiatinya agar memperbaiki pergaulannya dengan istrinya, dalam rangka mengamalkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</p>
<p>وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p><em>“Bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) dengan cara yang ma’ruf.”</em> <strong>(An-Nisa: 19)</strong></p>
<p>Juga firman-Nya ‘Azza wa Jalla:</p>
<p>وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p><em>“Dan mereka (para istri) memiliki hak yang seimbang dengan kewajiban mereka dengan cara yang ma’ruf.”</em> <strong>(Al-Baqarah: 228)</strong></p>
<p>Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbaiki keadaan kalian berdua, memberi hidayah kepada suamimu dan mengembalikannya kepada kebenaran. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan kalian berdua di atas kebaikan dan petunjuk, sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Mulia.” (<strong>Al Fatawa</strong><em>, Kitabud Da’wah </em>2/213,214 sebagaimana dinukil dalam <strong>Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah</strong>, 2/687-688)</p>
<p>Di sisi lain, ada kasus seorang istri yang terkadang berucap jelek kepada suaminya. Ia mempertanyakan sendiri tentang urusannya kepada Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibn Baz Rohimahullah, “Terkadang aku mengucapkan ucapan yang jelek kepada suamiku yang menyulut kemarahannya, hingga ia pun memboikotku. Sementara aku tidak sanggup meminta maaf kepadanya karena gengsiku yang tinggi. Apakah benar bila suamiku bermalam dalam keadaan marah kepadaku maka aku terkena dosa?”</p>
<p>Dijawab oleh Asy-Syaikh yang mulia Rohimahullah, “Engkau wajib meminta keridhaan suamimu dan mengupayakan agar ia memaafkan apa yang engkau perbuat. Engkau sendiri jangan terus-menerus di atas kesalahan. Bahkan upayakan agar suamimu ridha, mudah-mudahan dia mau memaafkan apa yang telah engkau perbuat. Ini yang lebih utama.</p>
<p>Nabi Sholallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda:</p>
<p>إِذَا دَعَى الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَلَمْ تَأْتِهِ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ</p>
<p><em>“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya namun si istri tidak mendatangi suaminya, lalu si suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, niscaya para malaikat akan melaknat si istri sampai ia berada di pagi hari.”<a href="#_ftn2"><strong>[2]</strong></a> </em></p>
<p>Maka wajib bagi seorang istri untuk taat kepada suaminya dan tidak menyelisihi suaminya.” (<strong>Majalah Ad-Da’wah</strong> no. 1639 sebagaimana dinukil dalam <strong>Fatawa ‘Ulama fi ‘Isyratin Nisa’</strong>, hal. 239)</p>
<p>Fadhilatusy Syaikh Shalih ibn Fauzan ibn Abdillah Al-Fauzan <em>hafizhahullah</em><strong> </strong>pernah ditanya, “Apa pendapat Anda tentang istri yang tidak mendengar ucapan suaminya, tidak menaati suaminya, dan suka menyelisihi dalam banyak urusan, seperti keluar rumah tanpa disuruh suaminya, dan terkadang keluar rumah secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan suaminya?”</p>
<p>Dijawab oleh Fadhilatusy Syaikh <em>hafizhahullah</em>, “Wajib bagi seorang istri menaati suaminya dengan cara yang ma’ruf. Haram baginya bermaksiat kepada suaminya. Tidak boleh ia keluar dari rumah suaminya kecuali dengan izin suaminya.</p>
<p>Nabi Sholallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda:</p>
<p>إِذَا دَعَى الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ، فَأَبَتْ أَنْ تَجِيئَ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ</p>
<p><em>“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya namun si istri menolak untuk datang, lalu si suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya niscaya para malaikat akan melaknat si istri sampai ia berada di pagi hari.” </em>(<strong>Muttafaqun &#8216;alaihi</strong>)</p>
<p>Beliau Sholallahu ‘alayhi wa Sallam juga bersabda:</p>
<p>لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا</p>
<p><em>“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya disebabkan besarnya hak suami terhadapnya.”<a href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a> </em></p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ</p>
<p><em>“Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita dikarenakan Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Oleh sebab itu, wanita yang shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara dirinya ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka. Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuznya maka nasihatilah mereka, pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka. …” </em><strong>(An-Nisa: 34)</strong></p>
<p>Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan bahwa lelaki memiliki hak kepemimpinan terhadap wanita, dan bila seorang istri berbuat kejelekan/nusyuz kepada suaminya maka si suami berhak memberlakukan terhadap istrinya tahapan-tahapan seperti yang disebutkan dalam ayat guna mengembalikan/menyadarkan si istri. Hal ini termasuk yang menunjukkan wajibnya taat kepada suami dalam perkara yang ma’ruf dan haramnya istri menyelisihi suaminya tanpa haq.” (<strong>Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih ibn Fauzan,</strong> 3/164-165 sebagaimana dalam <strong>Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah</strong>, 2/678-679)</p>
<p>Beberapa permasalahan di atas merupakan sedikit dari sekian banyak problem yang muncul di antara suami istri terkait pergaulan yang berlangsung di antara mereka. Walaupun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</p>
<p>وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p><em>“Bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) dengan cara yang ma’ruf.”</em> <strong>(An-Nisa: 19)</strong></p>
<p>mereka dapati dalam lembaran mushaf yang mereka baca dan telah sering mereka lewati, namun dalam pengamalan ternyata tidak mudah terealisasi.</p>
<p>Perintah bergaul yang ma’ruf dalam ayat di atas mencakup ucapan dan perbuatan. Sehingga sudah menjadi kemestian bagi seorang suami untuk bergaul yang ma’ruf dengan istrinya. Ia menjadi teman hidup yang baik, tidak menyakiti istrinya, mencurahkan kebaikan kepada istrinya, bermuamalah dengan baik. Termasuk di dalamnya ia memberikan nafkah, pakaian dan semisalnya. (<strong>Taisir Al-Karimir Rahman</strong>, hal. 172)</p>
<p>Seorang istri juga dituntut untuk bergaul baik dengan suaminya dengan memenuhi hak-hak suaminya, taat dalam kebaikan dan tidak mengingkari kebaikan suami.</p>
<p>Bila masing-masingnya bergaul dengan baik kepada pasangannya, masing-masingnya berupaya memenuhi apa yang menjadi kewajibannya, niscaya akan terwujud rumah tangga yang sakinah, penuh mawaddah dan rahmah, sebagaimana janji Ar-Rahman:</p>
<p>وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ</p>
<p><em>“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya; Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri agar kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya (beroleh sakinah) dan dijadikan-Nya di antara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”</em> <strong>(Ar-Rum: 21)</strong></p>
<p>Banyak hadits Rasul Sholallahu ‘alayhi wa Sallam yang mulia berbicara tentang pergaulan suami istri. Beberapa di antaranya ingin kami rangkumkan di sini untuk pembaca, walaupun hampir semuanya pernah kami bawakan dalam rubrik ini, namun tidak apa-apa kita ulang. Bukankah ini ilmu? Dan bukankah ilmu itu perlu diulang-ulang (<em>muraja’ah</em>)?</p>
<p>Abu Hurairah Rodhiallahu &#8216;anh berkata, “Sungguh Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wa Sallam pernah bersabda:</p>
<p>اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ</p>
<p><em>&#8220;Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita (para istri) karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, dan sungguh tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Bila engkau berupaya meluruskannya, engkau akan mematahkannya<a href="#_ftn4"><strong>[4]</strong></a>. Namun bila engkau biarkan ia akan terus-menerus bengkok, maka berwasiatlah dengan kebaikan kepada para wanita</em>.” (<strong>HR. Al-Bukhari</strong> no. 3331 dan <strong>Muslim</strong> no. 3632)</p>
<p>Dalam satu riwayat Al-Imam Al-Bukhari (no. 5184):</p>
<p>الْمَرْأَةُ كَالضِّلَعِ، إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ</p>
<p><em>“Wanita itu seperti tulang rusuk, jika engkau meluruskannya engkau akan mematahkannya. Jika engkau bernikmat-nikmat dengannya engkau bisa melakukannya, namun padanya ada kebengkokan.”</em></p>
<p>Dalam satu riwayat Al-Imam Muslim (no. 3631):</p>
<p>إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقٍ، فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عِوَجٌ، وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا</p>
<p><em>“Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk sehingga ia tidak akan terus-menerus lurus kepadamu di atas satu jalan. Jika engkau bernikmat-nikmat dengannya engkau bisa melakukannya, namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa meluruskannya engkau akan mematahkannya. Dan patahnya adalah talaknya.” <a href="#_ftn5"><strong>[5]</strong></a> </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Abdullah ibnu Zam’ah Rodhiallahu &#8216;anh menyebutkan dari Nabi Sholallahu ‘alayhi wa Sallam:</p>
<p>لاَ يَجْلِدُ أَحَدُكُمُ امْرَأَتَهُ جِلْدَ الْعَبْدِ ثُمَّ يُجَامِعُهَا فِي آخِرِ اليَوْمِ</p>
<p><em>“Janganlah salah seorang dari kalian memukul istrinya seperti memukul seorang budak kemudian ia menggauli istrinya pada akhir siang<a href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a>.”</em> (<strong>HR. Al-Bukhari</strong> no. 5204)</p>
<p>Abu Hurairah Rodhiallahu &#8216;anh berkata, “Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda:</p>
<p>لاَ يَفْرُكُ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ</p>
<p><em>&#8220;Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah, karena jika ia benci dengan satu perangai darinya maka bisa jadi ia senang dengan perangainya yang lain.” </em>(<strong>HR. Muslim</strong> no. 3633)<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aisyah Rodhiallahu &#8216;anha berkata: <em>Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wa Sallam memanggilku tatkala orang-orang Habasyah sedang bermain-main dengan tombak pendek mereka pada hari Id. Beliau berkata kepadaku, “Wahai Humaira’, apakah kamu ingin melihat permainan mereka?” “Iya,” jawabku. Beliau pun memberdirikan aku di belakang beliau ,lalu menundukkan kedua pundak beliau untukku agar aku bisa melihat permainan orang-orang Habasyah tersebut. Aku pun meletakkan daguku di atas pundak beliau dan menyandarkan wajahku ke pipi beliau. Aku melihat permainan mereka dari atas kedua pundak beliau. Beliau berkata, “Wahai Aisyah! Kamu belum puas melihat permainan mereka?” “Belum,” jawabku. </em></p>
<p>Dalam satu riwayat:</p>
<p><em>Hingga ketika aku telah bosan, beliau berkata, “Cukup?” “Iya,” jawabku. “Kalau begitu pergilah”, kata beliau. Aisyah mengabarkan, “Sebenarnya aku tidaklah senang melihat permainan mereka, namun aku ingin agar tersampaikan kepada para wanita tentang keberadaan beliau terhadapku dan kedudukanku dari diri beliau dalam keadaan aku wanita yang masih muda. Maka </em><strong><em>kadarkanlah diri kalian (wahai para suami)???? </em></strong><em>seperti kadar wanita yang masih muda usianya, yang masih senang dengan permainan.”<a href="#_ftn8"><strong>[8]</strong></a></em> (<strong>HR. Al-Bukhari</strong> no. 950, 5190, <strong>Muslim</strong> no. 2061, 2062, 2063, dan <strong>An-Nasa’i</strong> dalam <strong>‘Isyratun Nisa’</strong> no. 65)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Abu Hurairah Rodhiallahu &#8216;anh menyatakan bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda:</p>
<p>لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ أَنْ تَصُوْمَ وَزَوْجُهَا شَاهدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ وَلاَ تَأْذَنُ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ</p>
<p><em>“Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) dalam keadaan suaminya ada di rumah terkecuali dengan izin suaminya, dan tidak boleh ia mengizinkan seorang masuk ke rumah suaminya terkecuali bila suaminya memperkenankan.”</em> (<strong>HR. Al-Bukhari</strong> no. 5195 dan <strong>Muslim</strong> no. 1026, 2367)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari Abu Hurairah Rodhiallahu &#8216;anh, ia menyampaikan bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda:</p>
<p>دِيْناَرًا أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَدِيْناَرًا أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ وَدِيْنَارًا تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنٍ وَدِيْنَارًا أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ</p>
<p><em>“Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk istri/keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah dinar yang engkau nafkahkan untuk istri/keluargamu.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> no. 995)</p>
<p>Aisyah Rodhiallahu &#8216;anha berkata, <em>“Pernah aku minum dalam keadaan aku haid, kemudian aku menyerahkan gelas minuman tersebut kepada Nabi Sholallahu ‘alayhi wa Sallam. Beliau pun meletakkan mulutnya pada bekas tempat mulutku, lalu meminumnya. Pernah pula aku menggigit sepotong daging dalam keadaan haid, kemudian aku memberikannya kepada Nabi Sholallahu ‘alayhi wa Sallam. Beliau pun meletakkan mulut beliau pada bekas tempat mulutku (untuk menggigit daging tersebut).&#8221;</em> (<strong>HR. Muslim</strong> no. 690)</p>
<p><em>Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<hr size="1" />
</div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Ada kisah menarik dalam hal ini. Ibnul Arabi Rohimahullah berkata: Abul Qasim bin Hubaib berkata: Telah mengabarkan kepadaku di Al-Mahdiyyah, dari Abul Qasim As-Sayuri, dari Abu Bakr bin Abdirrahman, ia berkata, “Adalah Asy-Syaikh Abu Muhammad bin Zaid memiliki ilmu yang mendalam dan kedudukan yang tinggi dalam agama. Beliau memiliki seorang istri yang buruk pergaulannya terhadap beliau. Istrinya ini tidak sepenuhnya memenuhi haknya, bahkan mengurang-ngurangi dan menyakiti beliau dengan lisannya. Maka ada yang berbicara kepada beliau tentang keberadaan istrinya, namun beliau memilih tetap bersabar hidup bersama istrinya. Beliau pernah berkata, ‘Aku adalah orang yang telah dianugerahkan kesempurnaan nikmat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kesehatan tubuhku, pengetahuanku, dan budak yang kumiliki. Mungkin istriku ini diutus sebagai hukuman atas dosaku. Aku khawatir bila aku menceraikannya akan turun kepadaku hukuman yang lebih keras daripada apa yang selama ini aku dapatkan darinya’.” (<strong>Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an</strong>, 5/65)</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> HR. Al-Bukhari no. 5193 dan Muslim no. 3526</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> HR. Ahmad 4/381, dishahihkan dalam <strong>Irwa&#8217;ul Ghalil</strong> no. 1998 dan <strong>Ash-Shahihah </strong>no. 3366.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Bila engkau, wahai suami, menginginkan dari istrimu agar ia meninggalkan kebengkokannya niscaya akhir dari perkara adalah engkau akan berpisah dengannya. (<strong>Fathul Bari</strong>, 6/445)</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani Rohimahullah berkata, “Dipahami dari hadits ini bahwasanya tidak boleh membiarkan istri di atas kebengkokannya, apabila ia melampaui kekurangan yang merupakan tabiatnya dengan melakukan maksiat atau meninggalkan kewajiban. Adapun dalam perkara-perkara mubah, ia dibiarkan apa adanya. Dalam hadits ini menunjukkan disenanginya penyesuaian diri guna memikat, mengambil, dan mendekatkan hati pasangan hidup. Sebagaimana hadits ini menunjukkan pengaturan terhadap para istri dengan memaafkan mereka dan bersabar atas kebengkokan mereka. Siapa yang meluruskan mereka dengan paksa, niscaya akan terluputkan darinya kemanfaatan yang bisa diperoleh dari istri. Sementara tidak ada seorang lelaki pun yang tidak merasa butuh kepada wanita guna beroleh ketenangan (sakinah) dengannya dan untuk menolongnya dalam kehidupannya. Sehingga bisa dikatakan: bernikmat-nikmat dengan wanita (istri) tidak akan sempurna kecuali dengan bersabar terhadap mereka.” (<strong>Fathul Bari</strong>, 9/306)</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Hadits-hadits ini menunjukkan keharusan berlaku lembut kepada para wanita/istri, berbuat baik kepada mereka, bersabar atas kebengkokan akhlak mereka, menanggung dengan sabar kelemahan akal mereka, tidak disenanginya mentalak mereka tanpa ada sebab dan tidak boleh terlalu berambisi/dengan paksa meluruskan mereka. (<strong>Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim</strong>, 10/42)</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Jima’ dianggap baik dilakukan bila disertai dengan kecenderungan jiwa dan kesenangan. Sementara istri yang dipukul dengan keras, hatinya akan lari dari suaminya. Lalu bagaimana ia bisa melayani suaminya dengan baik saat jima’? Sehingga di sini ada isyarat tentang tercelanya memukul istri dengan pukulan yang keras. Kalaupun terpaksa harus memukul dalam rangka mendidik istri, maka hendaknya dengan pukulan yang ringan yang tidak berakibat istri menjauh dari suami. (<strong>Fathul Bari</strong>, 9/377)</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Jika si suami mendapati dari istrinya satu perangai yang tidak disukainya, niscaya ia akan dapati perangai/sifat lain yang disenangi.</p>
<p>Al-Imam Al-Qurthubi Rohimahullah ketika menafsirkan ayat:</p>
<p>فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللّهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً</p>
<p><em>“Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena bisa jadi kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan pada sesuatu itu kebaikan yang banyak.” </em><strong>(An-Nisa: 19)</strong></p>
<p>Beliau berkata, “Firman Allah (yang artinya) ‘<em>Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka</em> …’ karena parasnya yang buruk misalnya, atau perangainya yang jelek, bukan karena si istri berbuat keji dan <em>nusyuz</em>, maka dianjurkan bagi si suami untuk bersabar menanggung kekurangan tersebut. Mudah-mudahan hal itu mendatangkan rizqi di tengah mereka berupa anak-anak yang shalih.&#8221; (<strong>Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an</strong>, 5/65)</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Ketika itu Aisyah berusia sekitar 15 tahun atau lebih. (<strong>Fathul Bari</strong>, 9/344)</p>
<p>Hadits ini menerangkan kelembutan yang ada pada diri Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wa Sallam, kasih sayang beliau, akhlak beliau yang baik, pergaulan beliau yang ma’ruf dengan keluarga, istri, dan selainnya. (<strong>Al-Minhaj</strong>, 6/424)</p>
<p><strong>Sumber</strong>: www.asysyariah.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/r3ndr1.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/r3ndr1.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/r3ndr1.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/r3ndr1.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/r3ndr1.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/r3ndr1.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/r3ndr1.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/r3ndr1.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/r3ndr1.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/r3ndr1.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/r3ndr1.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/r3ndr1.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/r3ndr1.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/r3ndr1.wordpress.com/134/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=134&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://r3ndr1.wordpress.com/2011/03/24/untaian-mutiara-hadits-nabawiyyah-tentang-pergaulan-suami-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/454d5c90c00c5c4a78b6ffc247263b7f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">r3ndr1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perang Tabuk (bagian-1)</title>
		<link>http://r3ndr1.wordpress.com/2011/03/24/perang-tabuk-bagian-1/</link>
		<comments>http://r3ndr1.wordpress.com/2011/03/24/perang-tabuk-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Mar 2011 01:49:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yovi rendri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://r3ndr1.wordpress.com/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Rajab tahun ke sembilan hijrah. Panas menyengat kota Madinah. Pasir dan batu bagaikan bara api. Tetapi pada saat itu buah-buahan sedang ranum-ranumnya untuk dipetik. Sehingga betul-betul menggoda hati untuk tidak beranjak menikmati teduhnya naungan, menanti panen. Sebab-sebab Peperangan Setelah jatuhnya Makkah ke pangkuan Islam. Sirna pula keraguan terhadap risalah yang diemban Manusia Agung, Muhammad [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=129&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Rajab tahun ke sembilan hijrah. Panas menyengat kota Madinah. Pasir dan batu bagaikan bara api. Tetapi pada saat itu buah-buahan sedang ranum-ranumnya untuk dipetik. Sehingga betul-betul menggoda hati untuk tidak beranjak menikmati teduhnya naungan, menanti panen.</p>
<p><strong>Sebab-sebab Peperangan</strong></p>
<p>Setelah jatuhnya Makkah ke pangkuan Islam. Sirna pula keraguan terhadap risalah yang diemban Manusia Agung, Muhammad bin &#8216;Abdillah bin &#8216;Abdul Muththalib Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam. Manusiapun memeluk Islam berbondong-bondong. Kaum musliminpun mulai tenang mempelajari syariat Islam di negeri-negeri mereka.</p>
<p>Tetapi, nun jauh di utara, di luar bumi Hijaz. Satu kekuatan besar mengancam perkembangan agama yang baru bersemi ini. Kekuatan Imperium Romawi.<span id="more-129"></span></p>
<p>Sebuah kekuatan imperium yang menguasai belahan bumi bagian barat. Negara yang sudah memiliki strata peradaban yang maju untuk ukuran dewasa itu. Jauh melampaui negara-negara Arab yang ada. Bahkan kekuatan kabilah Arab yang ada seperti Quraisy, tidak ada artinya di hadapan kekuatan imperium Romawi.</p>
<p>Setelah terbunuhnya utusan Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam Al-Harits bin &#8216;Umair Al-Azdi di tangan Syurahbil bin &#8216;Amr Al-Ghassani, beliaupun mengirim pasukan Zaid bin Haritsah hingga terjadi pertempuran sengit di Mu&#8217;tah dengan gugurnya para panglima pasukan muslimin; Zaid bin Haritsah, Ja&#8217;far bin Abi Thalib dan &#8216;Abdullah bin Rawahah Rodhiallahu &#8216;anhum.</p>
<p>Akan tetapi peristiwa ini tidak diperhitungkan oleh Heraklius, raja Romawi ketika itu. Sehingga dia tidak merasa perlu melakukan perjanjian damai dengan kaum muslimin untuk menjaga keamanan wilayah kekuasaannya.</p>
<p>Bagi kabilah Arab lainnya yang menjadi jajahan Romawi, peristiwa Mu`tah telah memberi pengaruh begitu dalam. Satu demi satu mereka melepaskan diri dari kekuasaan Romawi.</p>
<p>Setelah melihat kondisi inilah Heraklius baru menyadari betapa perlunya menyiapkan pasukan untuk menumpas gerakan kaum muslimin agar tidak mengganggu kekuasaan Romawi. Maka Heraklius pun segera memobilisasi rakyatnya.</p>
<p>Sampailah berita ke kota Madinah tentang persiapan tentara Romawi untuk menyerang kaum muslimin. Berita ini cukup menggoncangkan para sahabat di Madinah. Kegoncangan ini tampak dari dialog antara &#8216;Umar bin Al-Khaththab dan seorang sahabat Anshar.</p>
<p>Pada saat itu, Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam sedang memboikot isteri-isterinya selama satu bulan dan menyendiri di sebuah loteng (tingkat atas) rumah beliau.</p>
<p>Waktu itu, &#8216;Umar bin Al-Khaththab dan sahabat Anshar itu saling bergantian hadir di majelis Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam. Suatu ketika sahabat Anshar itu datang mengetuk pintu &#8216;Umar dengan kerasnya. &#8216;Umar langsung membuka pintu dengan bergegas dan berkata: &#8220;Ada apa? Apakah pasukan Ghassan (Romawi) sudah menyerang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan. Ada yang lebih dahsyat dari itu. Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam menceraikan isteri-isteri beliau,&#8221; kata sahabat tersebut.</p>
<p>Inilah salah satu yang menunjukkan gentingnya keadaan saat itu.</p>
<p><strong>Masjid Dhirar</strong></p>
<p>Sebelum Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam hijrah ke Madinah, ada seorang tokoh dari Khazraj digelari Abu &#8216;Amir Ar-Rahib (Si Pendeta). Di masa jahiliyah, dia memeluk agama Kristen dan membaca ilmu ahli kitab. Dia rajin beribadah ketika itu dan mempunyai kedudukan mulia di kalangan orang-orang Khazraj.</p>
<p>Setelah Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam tiba sebagai muhajir di Madinah, dan kaum muslimin bersatu mendukung beliau, lalu Islam memiliki kemuliaan dan Allah menangkan mereka dalam perang Badr, Abu &#8216;Amir merasa menelan kepahitan hingga diapun menampakkan permusuhan dan lari bergabung dengan orang-orang kafir Makkah, menghasut mereka agar memerangi Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam. Dia juga yang menggali lubang jebakan dalam peperangan hingga Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam jatuh di salah satu lubang jebakan tersebut.</p>
<p>Suatu ketika Abu &#8216;Amir mencoba membujuk orang-orang Anshar agar mendukung dan membelanya. Tetapi dia justru menerima cercaan dari orang-orang Anshar. Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam sendiri pernah mengajaknya kepada Islam dan membacakan Al-Qur&#8217;an kepadanya, namun dia menolak dan menentang. Akhirnya Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam mendoakannya mati sebatang kara terusir dari tanah airnya.</p>
<p>Hal itu menjadi kenyataan. Ketika dia melihat kedudukan Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam semakin menjulang, dia lari ke Syam bergabung dengan Heraklius, meminta bantuan kepadanya memerangi Nabi Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam. Heraklius menjanjikan dan mengizinkannya tinggal di negerinya. Kemudian Abu &#8216;Amir menulis surat kepada beberapa orang yang masih mendukungnya dari kalangan orang Madinah yang munafik. Dia menjanjikan bahwa akan ada bantuan untuk memerangi Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam serta mengembalikan kedudukannya di tengah-tengah kaumnya.</p>
<p>Untuk memuluskan rencananya, Abu &#8216;Amir memerintahkan pendukungnya untuk membuat satu markas mengamati keadaan kaum muslimin jika bantuan itu datang. Akhirnya merekapun segera membangun sebuah masjid yang berdekatan dengan Masjid Quba. Masjid itu selesai sebelum Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam berangkat menuju Tabuk.</p>
<p>Merekapun datang meminta agar Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam mau shalat di masjid tersebut sebagai bukti bahwa beliau telah merestui. Mereka memberi alasan bahwa masjid itu dibangun untuk menampung kalau ada yang sakit dan kesulitan di malam musim dingin serta orang-orang yang lemah.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menjaga beliau agar tidak shalat di sana, kata beliau: &#8220;Kami sedang dalam perjalanan. Kalau kami sudah kembali <em>Insya Allah </em>(kami akan shalat di sana).&#8221;</p>
<p>Ketika Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam dalam perjalanan kembali dari Tabuk, tinggal sehari atau dua hari lagi sebelum masuk ke Madinah, turunlah Jibril &#8216;Alayhis Salam menerangkan keadaan masjid dhirar tersebut. Bahwasanya mereka mendirikan masjid tersebut di atas kekafiran, memecah belah kaum mukminin di masjid mereka. Akhirnya Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam mengirim beberapa orang untuk meruntuhkan masjid itu menjelang kedatangan beliau di Madinah.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman menerangkan keadaan masjid ini:</p>
<p>وَالَّذِينَ اتَّخَذُواْ مَسْجِداً ضِرَاراً وَكُفْراً وَتَفْرِيقاً بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَاداً لِّمَنْ حَارَبَ اللّهَ وَرَسُولَهُ مِن قَبْلُ وَلَيَحْلِفَنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلاَّ الْحُسْنَى وَاللّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ</p>
<p><em>&#8220;Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu&#8217;min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu&#8217;min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: &#8220;Kami tidak menghendaki selain kebaikan.&#8221; Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).&#8221;</em> <strong>(At-Taubah: 107-108)</strong></p>
<p>Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menerangkan bahwa ada empat perkara yang mendorong mereka mendirikan masjid tersebut, yaitu:</p>
<p>a. Upaya menimbulkan mudarat bagi orang lain</p>
<p>b. Kekafiran kepada Allah dan membanggakan diri terhadap kaum muslimin</p>
<p>c. Memecah belah kaum mukminin</p>
<p>d. Memata-matai untuk mereka yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, sebagai bantuan buat musuh-musuh Allah.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menggagalkan usaha mereka dan membuat tipu daya mereka sia-sia dengan memerintahkan Nabi-Nya Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam agar meruntuhkan serta memusnahkan masjid tersebut.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala juga melarang Rasul-Nya Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam dan kaum mukminin shalat di masjid tersebut dengan larangan yang sangat keras. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>لاَ تَقُمْ فِيهِ أَبَداً لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُواْ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ</p>
<p><em>&#8220;Janganlah kamu menegakkan shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.&#8221;</em> <strong>(At-Taubah: 108)</strong></p>
<p>Adapun sumpah yang mereka ucapkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala tersebut:</p>
<p>وَلَيَحْلِفَنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلاَّ الْحُسْنَى</p>
<p><em>Mereka sesungguhnya bersumpah: &#8220;Kami tidak menghendaki selain kebaikan.&#8221;</em></p>
<p>Justru celaan terhadap mereka atas angan-angan keji dan kedustaan mereka. Maka sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>وَاللّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ</p>
<p><em>&#8220;Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta.&#8221;</em></p>
<p>Dengan hancurnya masjid dhirar, semakin sempitlah ruang gerak kaum munafik. Jati diri mereka pun semakin jelas bagi kaum muslimin.</p>
<p><strong>Persiapan Menuju Tabuk</strong></p>
<p>Tabuk adalah daerah di pinggiran wilayah Syam ke arah kiblat (selatan), dari Madinah sekitar 12 <em><strong>marhalah</strong></em>. Menurut Yaqut Al-Hamawi daerah ini terletak antara Wadil Qura dan negeri Syam. Daerah ini termasuk jajahan Bizantium (Romawi) ketika itu.</p>
<p>Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam bertekad untuk memerangi Romawi, padahal ketika itu musim panas begitu hebat. Keadaan perekonomian sedang mengalami masa-masa sulit. Beliau sengaja menampakkan kepada kaum muslimin keinginan tersebut. Bahkan beliau mengajak kabilah-kabilah Arab dan orang-orang badui di sekitar beliau agar berangkat bersama beliau. Maka terkumpullah pasukan cukup besar, yaitu sekitar 30.000 orang. Namun masih ada beberapa orang yang tertinggal tanpa alasan, di antaranya Ka&#8217;b bin Malik, Murarah bin Ar-Rabi&#8217; dan Hilal bin Umayyah Rodhiallahu &#8216;anhum yang akan diceritakan pada bagian lain <em>Insya Allah</em>.</p>
<p>Walaupun keadaan serba sulit, Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam tetap mendorong kum muslimin bersiap-siap untuk berperang. Padahal biasanya, apabila hendak berangkat berperang, beliau selalu menampakkan seolah-olah bukan untuk berperang. Beliau membangkitkan semangat orang-orang yang berharta agar berinfak di jalan Allah. Maka berlomba-lombalah para hartawan mengeluarkan hartanya untuk membiayai <em>Jaisyul &#8216;Usrah </em>(Pasukan yang kesulitan) tersebut.</p>
<p>Az-Zuhri dan ulama lainnya menceritakan:</p>
<p>&#8220;Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam biasanya kalau ingin berangkat berperang, melakukan serangkaian taktik. Misalnya dengan membuat kiasan atau kata-kata sandi. Tetapi dalam perang Tabuk ini, beliau justru menyampaikan terang-terangan tujuan dan sasarannya agar kaum muslimin bersiap-siap. Beliau sampaikan bahwa yang dituju adalah Romawi.</p>
<p>Pada suatu hari dalam situasi persiapan tersebut, Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam berkata kepada Jadd bin Qais, salah satu keluarga kabilah Bani Salimah: &#8220;Hai Jadd, apakah tahun ini engkau ada keinginan kepada kulit-kulit Banil Ashfar (orang bule)?&#8221;</p>
<p>Jadd menukas: &#8220;Ya Rasulullah, izinkanlah saya (tidak ikut berperang). Jangan anda jerumuskan saya dalam fitnah. Demi Allah, kaumku semua tahu bahwa tidak ada laki-laki yang paling besar kekagumannya kepada wanita daripada aku. Saya khawatir kalau saya melihat wanita bule itu, saya tidak dapat bersabar.&#8221;</p>
<p>Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam pun meninggalkannya sambil berkata: &#8220;Saya beri izin untukmu.&#8221;</p>
<p>Tentang Jadd inilah turun firman Allah l<a href="#_ftn1">[1]</a>:</p>
<p>وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ ائْذَن لِّي وَلاَ تَفْتِنِّي أَلاَ فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُواْ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ</p>
<p><em>&#8220;Di antara mereka ada orang yang berkata: &#8220;Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah&#8221;. Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.&#8221; </em><strong>(At-Taubah: 49)</strong></p>
<p>Ada pula dari kalangan kaum munafikin yang mengatakan: &#8220;Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.&#8221; Mereka merasa tidak membutuhkan jihad serta meragukan kebenaran dan menimbulkan kegoncangan pada Rasulullah Sholallahu &#8216;alayhi wa Sallam. Maka Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menurunkan firman-Nya:</p>
<p>فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلاَفَ رَسُولِ اللّهِ وَكَرِهُواْ أَن يُجَاهِدُواْ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَقَالُواْ لاَ تَنفِرُواْ فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرّاً لَّوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ</p>
<p><em>&#8220;Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: &#8220;Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini&#8221;. Katakanlah: &#8220;Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas (nya)&#8221;, jikalau mereka mengetahui.&#8221;</em> <strong>(At-Taubah: 81)</strong></p>
<div>
<hr size="1" />
</div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat Zaadul Ma&#8217;aad Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu</em> (3/527).</p>
<p><strong>Sumber</strong>: www.asysyariah.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/r3ndr1.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/r3ndr1.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/r3ndr1.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/r3ndr1.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/r3ndr1.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/r3ndr1.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/r3ndr1.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/r3ndr1.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/r3ndr1.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/r3ndr1.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/r3ndr1.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/r3ndr1.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/r3ndr1.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/r3ndr1.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=129&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://r3ndr1.wordpress.com/2011/03/24/perang-tabuk-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/454d5c90c00c5c4a78b6ffc247263b7f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">r3ndr1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kembali Kepada Allah</title>
		<link>http://r3ndr1.wordpress.com/2011/03/17/kembali-kepada-allah/</link>
		<comments>http://r3ndr1.wordpress.com/2011/03/17/kembali-kepada-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Mar 2011 03:14:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yovi rendri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://r3ndr1.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[(oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal) ٢٨١. وَاتَّقُواْ يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ &#8220;Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedangkan mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=120&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin  Jamal)</p>
<p><span style="font-size:18pt;font-family:'Traditional Arabic';">٢٨١. وَاتَّقُواْ يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللّهِ ثُمَّ  تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ</span></p>
<p><em>&#8220;Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi  pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian  masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah  dikerjakannya, sedangkan mereka sedikitpun tidak dianiaya  (dirugikan).&#8221;</em> <strong>(Al-Baqarah: 281)</strong></p>
<p><strong>Penjelasan beberapa mufradat ayat</strong></p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:'Traditional Arabic';">وَاتَّقُواْ يَوْماً</span></p>
<p><em>&#8220;Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari…&#8221;</em></p>
<p>Yang dimaksud hari di sini adalah hari kiamat, sebagaimana pendapat jumhur ulama. Adapula yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah hari kematian. Disebutkan <em>“hari” </em>dalam bentuk <em>nakirah </em>dan dikuatkan dengan perintah <em>“wattaqu”,</em> menunjukkan peringatan besar akan terjadinya hari yang mengerikan tersebut yang menyebabkan anak-anak menjadi beruban rambutnya. (<strong>Tafsir Al-Alusi</strong>, <strong>Fathul Qadir</strong>, Asy-Syaukani)<span id="more-120"></span></p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:'Traditional Arabic';">تُرْجَعُونَ</span></p>
<p><em>&#8220;Kamu semua dikembalikan…&#8221;</em></p>
<p>Dibaca <em>turja&#8217;una</em>, dengan bentuk <em>majhul</em>. Ini adalah bacaan jumhur. Ada yang membacanya dengan تَرْجِعُوْنَ , dan ini adalah bacaan Abu &#8216;Amr. Ada pula yang membacanya dengan <em>ya’</em> menggantikan <em>ta’</em>: يُرْجَعُوْن . Ini bacaan Al-Hasan Al-Bashri. (lihat <strong>Fathul Qadir</strong> 1/298, <strong>Tafsir Al-Alusi</strong> 3/54, <strong>Tafsir Al-Qurthubi</strong> 3/376)</p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:'Traditional Arabic';">مَّا كَسَبَتْ</span></p>
<p><em>&#8220;Apa yang telah dikerjakannya…&#8221;</em></p>
<p>Yang dimaksud <em>“kasb” </em>di sini adalah amalan secara umum. Maknanya adalah balasan dari amalannya, jika amalan tersebut baik maka baik pula balasannya. Jika amalannya buruk, maka keburukan pula yang dia dapatkan. (<strong>Tafsir Al-Alusi</strong> dan <strong>Fathul Qadir</strong>)</p>
<p><strong>Ayat terakhir yang diturunkan</strong></p>
<p>Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala ini merupakan ayat terakhir yang diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Rasul-Nya Sholallahu ‘Alayhi Wa Sallam. Hal ini berdasarkan perkataan Ibnu &#8216;Abbas Rodhiallahu ‘Anhuma yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari Rohimahullah dalam <strong>Shahih</strong>nya secara <em>ta’liq </em>bahwa beliau Rodhiallahu ‘Anhuma berkata: <em>“Ini merupakan ayat paling akhir yang turun kepada Nabi Sholallahu ‘Alayhi Wa Sallam.”</em> (<strong>HR. Al-Bukhari</strong> secara <em>ta’liq</em>, <em>Kitabul Buyu’</em>, bab <em>Mukil Ar-Riba</em><em>)</em>. Riwayat ini diriwayatkan dengan sanad yang bersambung oleh An-Nasa’i Rohimahullah dalam <strong>Sunan Al-Kubra</strong> (6/307), Ath-Thabarani (11/371 dan 12/23). Al-Imam Al-Bukhari Rohimahullah menyebutkan pula secara tersambung dalam kitab tafsir dalam <strong>Shahih</strong>nya, ketika menjelaskan tafsir ayat ini, dengan lafadz: <em>“Akhir ayat yang turun kepada Nabi Sholallahu ‘Alayhi Wa Sallam adalah ayat tentang riba.” </em>(<strong>HR. Al-Bukhari</strong> no. 4270)</p>
<p>Riwayat ini tidak bertentangan dengan riwayat sebelumnya. Sebab ayat tentang riba adalah ayat-ayat yang disebutkan bersamaan dengan ayat ini, yang dimulai dari firman-Nya:</p>
<p><span style="font-size:14pt;font-family:'Traditional Arabic';">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;font-family:'Traditional Arabic';">فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ فَأْذَنُواْ بِحَرْبٍ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;font-family:'Traditional Arabic';">وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَن تَصَدَّقُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;font-family:'Traditional Arabic';">وَاتَّقُواْ يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ</span></p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).&#8221;</em> <strong>(Al-Baqarah: 278-281)</strong></p>
<p>Maka semua ayat ini turun secara bersamaan. (Lihat <strong>Mabahits fi &#8216;Ulumil Qur’an</strong>, Manna’ Al-Qaththan hal. 65)</p>
<p>Al-Qurthubi Rohimahullah menyebutkan bahwa ayat ini turun sembilan hari sebelum wafatnya Rasulullah Sholallahu ‘Alayhi Wa Sallam dan tidak ada lagi ayat yang turun setelahnya. Beliau Rohimahullah berkata: &#8220;Ibnu Jubair dan Muqatil berkata: &#8216;Tujuh malam (sebelum wafat).&#8217; Diriwayatkan pula: &#8216;Tiga malam&#8217;.&#8221; Lalu beliau Rohimahullah berkata: “Pendapat pertama lebih dikenal, lebih banyak, lebih benar, dan lebih masyhur.” (<strong>Tafsir Al-Qurthubi</strong>, 3/375)</p>
<p><strong>Hari kiamat itu pasti akan tiba</strong></p>
<p>Ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang mulia ini mengingatkan hamba-hamba-Nya akan datangnya hari yang pasti, di mana tidak seorang pun mampu menghindar dari kekuasaan-Nya.</p>
<p>Al-&#8217;Allamah As-Sa’di Rohimahullah berkata:</p>
<p>“Ini merupakan ayat terakhir yang diturunkan dari Al-Qur’an. Di mana ayat ini menjadi penutup hukum-hukum-Nya, perintah dan larangan-Nya. Di dalamnya terkandung janji bagi yang berbuat kebaikan sekaligus ancaman terhadap yang berbuat keburukan. Siapa yang meyakini bahwa dia akan kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, lalu (Dia) membalasi setiap perbuatan yang kecil dan yang besar, yang nampak dan yang tersembunyi, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak berbuat zalim sedikitpun. Hal ini menyebabkan rasa takut dan harap dalam diri seorang hamba. Tanpa adanya keyakinan dalam hati akan hal tersebut, tidak akan menimbulkan (rasa takut dan berharap) pada diri seseorang.&#8221; (<strong>Taisir Al-Karim Ar-Rahman</strong>, As-Sa’di Rohimahullah)</p>
<p>Al-Qasim bin Abi Ayyub Rohimahullah berkata: &#8220;Adalah Sa’id bin Jubair Rohimahullah menangis di malam hari hingga menyebabkan matanya rabun. Aku mendengarkannya mengulang-ulangi ayat ini:</p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Traditional Arabic';">وَاتَّقُواْ يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللّهِ</span></p>
<p><em>&#8216;Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.&#8217;</em></p>
<p>lebih dari 20 kali.” (<strong>Tadzkiratul Huffazh</strong>, Adz-Dzahabi 1/76, <strong>Siyar A’lam An-Nubala’</strong>, 4/324)</p>
<p>Sungguh banyak ayat Al-Qur’an yang memperingatkan hamba-hamba-Nya akan datangnya hari yang besar tersebut. Sepantasnya seorang muslim senantiasa menjadikan hal itu sebagai langkah menuju ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di antara ayat yang mengingatkan datangnya hari tersebut:</p>
<p>وَاتَّقُواْ يَوْماً لاَّ تَجْزِي نَفْسٌ عَن نَّفْسٍ شَيْئاً وَلاَ يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلاَ يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلاَ هُمْ يُنصَرُونَ</p>
<p><em>&#8220;Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafaat dan tebusan darinya, dan tidaklah mereka akan ditolong.&#8221;</em> <strong>(Al-Baqarah: 48)</strong></p>
<p>وَاتَّقُواْ يَوْماً لاَّ تَجْزِي نَفْسٌ عَن نَّفْسٍ شَيْئاً وَلاَ يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلاَ تَنفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلاَ هُمْ يُنصَرُونَ</p>
<p><em>&#8220;Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan darinya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafaat kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong.&#8221;</em> <strong>(Al-Baqarah: 123)</strong><strong></strong></p>
<p>يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْماً لَّا يَجْزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيْئاً إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ</p>
<p><em>&#8220;Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah.&#8221;</em> <strong>(Luqman: 33)</strong><strong></strong></p>
<p>وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ</p>
<p><em>&#8220;Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya.&#8221;</em> <strong>(Ghafir: 18)</strong></p>
<p>Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan pula bahwa hari kiamat merupakan hari yang tidak ada keraguan akan terjadinya. Firman-Nya:</p>
<p>فَكَيْفَ إِذَا جَمَعْنَاهُمْ لِيَوْمٍ لاَّ رَيْبَ فِيهِ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ</p>
<p><em>&#8220;Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan).&#8221;</em> <strong>(Ali &#8216;Imran: 25)</strong><strong></strong></p>
<p>قُلِ اللَّهُ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يَجْمَعُكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيبَ فِيهِ وَلَكِنَّ أَكَثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ</p>
<p><em>&#8220;Katakanlah: &#8220;Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.&#8221;</em> <strong>(Al-Jatsiyah: 26)</strong><strong></strong></p>
<p>وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَن فِي الْقُبُورِ</p>
<p><em>&#8220;Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.&#8221;</em> <strong>(Al-Hajj: 7)</strong></p>
<p>Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwa orang-orang yang mengingkari adanya hari kemudian adalah kafir. Firman-Nya:</p>
<p>زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ</p>
<p><em>Orang-orang yang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: &#8220;Tidak demikian, demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.&#8221; Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.</em> <strong>(At-Taghabun: 7)</strong><strong></strong></p>
<p>وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا أَفَلَمْ تَكُنْ آيَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاسْتَكْبَرْتُمْ وَكُنتُمْ قَوْماً مُّجْرِمِينَ</p>
<p>وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ لَا رَيْبَ فِيهَا قُلْتُم مَّا نَدْرِي مَا السَّاعَةُ إِن نَّظُنُّ إِلَّا ظَنّاً وَمَا نَحْنُ بِمُسْتَيْقِنِينَ</p>
<p><em>Dan adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan): &#8220;Maka apakah belum ada ayat-ayat-Ku yang dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu jadi kaum yang berbuat dosa?&#8221; Dan apabila dikatakan (kepadamu): &#8220;Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya&#8221;, niscaya kamu menjawab: &#8220;Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini (nya).&#8221;</em> <strong>(Al-Jatsiyah: 31-32)</strong></p>
<p>Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga mengancam orang-orang yang tidak beriman dengan hari tersebut dengan kebinasaan, azab yang pedih, dan neraka yang membakarnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>إَنَّ الَّذِينَ لاَ يَرْجُونَ لِقَاءنَا وَرَضُواْ بِالْحَياةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّواْ بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ</p>
<p>أُوْلَـئِكَ مَأْوَاهُمُ النُّارُ بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.</em> Mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.<em>&#8220;</em> <strong>(Yunus: 7-8)</strong><strong></strong></p>
<p>إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.&#8221;</em> <strong>(Shad: 26)</strong></p>
<p>Telah diriwayatkan dari Aisyah Rodhiallahu ‘Anha bahwa Nabi Sholallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda:</p>
<p><em>“Tidak seorang pun dihisab (pada hari kiamat) melainkan dia disiksa.” Aku (Aisyah) bertanya, “Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikanku sebagai tebusanmu. Bukankah Allah ‘Azza Wa</em><em> Jalla </em><em>berfirman: </em></p>
<p>فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ</p>
<p>فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَاباً يَسِيراً</p>
<p><em>&#8220;Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.&#8221;</em><strong> (Al-Insyiqaq: 7-8)</strong></p>
<p><em>Jawab Nabi Sholallahu ‘Alayhi Wa Sallam: “Itu hanyalah diperlihatkan. Siapa yang dihisab dengan teliti maka dia binasa.”</em> (<strong>Muttafaq &#8216;alaihi</strong>)</p>
<p><strong>Hari kiamat telah dekat</strong></p>
<p>Termasuk di antara bentuk peringatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya tentang hari kiamat adalah kejadian hari kiamat yang sudah semakin dekat. Bahkan termasuk di antara yang menunjukkan semakin dekatnya hari kiamat adalah diutusnya Rasulullah Sholallahu ‘Alayhi Wa Sallam kepada seluruh manusia sebagai Nabi dan Rasul yang terakhir. Nabi Sholallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda:</p>
<p>بُعِثْتُ وَالسَّاعَةُ هَكَذَا -وَأَشَارَ بِأَصْبِعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى</p>
<p><em>“Aku diutus bersama (dekatnya) hari kiamat seperti ini”, lalu beliau mengisyaratkan dua jarinya, telunjuk dan jari tengahnya. </em>(<strong>HR. Ahmad</strong> [5/338], dari sahabat Sahl bin Sa’d Rodhiallahu ‘Anh)</p>
<p>Beliau Sholallahu ‘Alayhi Wa Sallam juga bersabda:</p>
<p>مَثَلِي وَمَثَلُ السَّاعَةِ كَمَثَلِ فَرَسَيْ رِهَانٍ</p>
<p><em>“Perumpamaan aku dan perumpamaan hari kiamat seperti dua ekor kuda yang sedang berlomba.”</em> (<strong>HR. Ahmad</strong>, 5/331, dari Sahl bin Sa’d Rodhiallahu ‘Anh)</p>
<p>Hal ini juga dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya:</p>
<p>اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ</p>
<p><em>&#8220;Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan.&#8221;</em> <strong>(Al-Qamar: 1)</strong></p>
<p>Terbelahnya bulan telah terjadi di zaman Rasulullah Sholallahu ‘Alayhi Wa Sallam, dan ini telah disepakati oleh para ulama. (lihat <strong>Tafsir Ibnu Katsir</strong> tentang ayat ini)</p>
<p>Allah juga berfirman:</p>
<p>اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مَّعْرِضُونَ</p>
<p><em>&#8220;Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya).&#8221;</em> <strong>(Al-Anbiya: 1)</strong></p>
<p>Kiamat itu telah dekat, maka sebelum datangnya hari penyesalan, hendaknya seseorang mempersiapkan bekal di hari yang pasti akan tiba tersebut. Firman-Nya:</p>
<p>يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيباً</p>
<p>إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيراً</p>
<p>خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً لَّا يَجِدُونَ وَلِيّاً وَلَا نَصِيراً</p>
<p>يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا</p>
<p>وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا</p>
<p>رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْناً كَبِيراً</p>
<p><em>Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.&#8221; Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: &#8220;Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.&#8221; Dan mereka berkata: &#8220;Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.&#8221;</em> <strong>(Al-Ahzab: 63-68)</strong></p>
<p>Namun yang perlu diketahui, tidak seorang pun mengetahui kapan hari kiamat akan terjadi. Sebab, itu termasuk ilmu ghaib Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak diketahui siapapun dari kalangan hamba-hamba-Nya. Firman-Nya:</p>
<p>إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.&#8221;</em> <strong>(Luqman: 34)</strong></p>
<p>Demikian pula dalam hadits yang masyhur, tatkala Jibril bertanya kepada Rasulullah Sholallahu ‘Alayhi Wa Sallam tentang hari kiamat, beliau Sholallahu ‘Alayhi Wa Sallam menjawab:</p>
<p>مَا الْمَسْؤُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ</p>
<p><em>“Tidaklah yang ditanya lebih mengerti dari yang bertanya.” </em>(<strong>HR. Muslim </strong>dari Umar bin Al-Khaththab Rodhiallahu ‘Anh)</p>
<p><strong>Takut terhadap hari kiamat termasuk ibadah</strong></p>
<p>Ayat ini juga menjelaskan bahwa seorang muslim diperintahkan untuk takut akan hari kiamat dan kengerian yang terjadi padanya. Demikian pula takut dari siksaan api neraka yang sangat dahsyat. Ini sekaligus bantahan terhadap kaum Sufi yang menyangka bahwa seseorang tidak boleh beribadah karena takut hari kiamat atau takut neraka. Karena –menurut mereka– ini merupakan bentuk ketakutan seseorang kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini adalah keyakinan yang batil. Sebab, kita diperintahkan untuk takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di antara bentuk rasa takut seorang hamba kepada-Nya adalah takut terhadap segala ancaman-Nya, berupa kengerian di hari kiamat dan siksaan neraka yang amat dahsyat. Nabi Sholallahu ‘Alayhi Wa Sallam juga bersabda:</p>
<p>اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ</p>
<p><em>“Takutlah kalian dengan neraka meskipun dengan sepotong kurma.”</em> (<strong>Muttafaqun &#8216;alaihi</strong> dari hadits &#8216;Adi bin Hatim Rodhiallahu ‘Anh)</p>
<p>Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyelamatkan kita dari segala kesesatan, dan dari segala siksaan-Nya.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam.</em><em></em></p>
<p><em><strong>Sumber</strong></em><em>: www.asysyariah.com</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/r3ndr1.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/r3ndr1.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/r3ndr1.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/r3ndr1.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/r3ndr1.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/r3ndr1.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/r3ndr1.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/r3ndr1.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/r3ndr1.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/r3ndr1.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/r3ndr1.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/r3ndr1.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/r3ndr1.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/r3ndr1.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=120&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://r3ndr1.wordpress.com/2011/03/17/kembali-kepada-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/454d5c90c00c5c4a78b6ffc247263b7f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">r3ndr1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pernikahan Indah dan Suci</title>
		<link>http://r3ndr1.wordpress.com/2010/10/21/pernikahan-indah-dan-suci/</link>
		<comments>http://r3ndr1.wordpress.com/2010/10/21/pernikahan-indah-dan-suci/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Oct 2010 22:37:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yovi rendri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasihat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://r3ndr1.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم الحمدالله حمداكثيراطيبامباركا فيه كمايحب ربناويرضى أشهدأن لاإله إلاالله وحده لاشريك له وأشهدأن محمداعبده ورسوله أمابعد : Saudara-saudaraku kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah, semoga Allah selalu menjaga kita semua. . . Merupakan nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla yang paling besar adalah ni&#8217;matul Islam, yaitu nikmat memeluk agama Islam. Di mana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=104&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">بسم     الله الرحمن الرحيم</p>
<p style="text-align:right;">الحمدالله حمداكثيراطيبامباركا فيه كمايحب ربناويرضى<br />
أشهدأن لاإله إلاالله وحده لاشريك له وأشهدأن محمداعبده ورسوله<br />
أمابعد :</p>
<p>Saudara-saudaraku kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah, semoga Allah selalu menjaga kita semua. . .<br />
Merupakan nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla yang paling besar adalah <em>ni&#8217;matul Islam</em>, yaitu nikmat memeluk agama Islam. Di mana dengan nikmat ini kita diselamatkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dari agama-agama kafir, sehingga kita tidak akan kekal di dalam neraka. Di samping itu juga, dengan memeluk agama Islam ini kita akan merasakan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan hidup yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat (dengan catatan: kita mau mengilmui serta mengamalkan nilai-nilai agama ini secara <em>kaffah</em>), karena memang agama ini mengajarkan segala bentuk maslahat, prinsip-prinsip kebaikan, keadilan dan keselamatan, serta memperingatkan dari segala macam madharat, kejelekan, kejahatan maupun perkara-perkara yang membahayakan. Agama ini adalah rahmat yang dengannya Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wa salam diutus, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:</p>
<p>١٠٧. وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ</p>
<p><em>&#8220;Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam.&#8221;</em> <strong>(QS. Al Anbiya&#8217; : 107).</strong></p>
<p>Maka tidaklah ada satu agamapun yang mengandung semua kebaikan dan mencegah dari seluruh bentuk kejelekan kecuali agama yang sempurna (<em>Ad Dienul Kamil</em>). Di mana, agama yang sempurna adalah agama yang utuh, lengkap, dan berbicara tentang seluruh aspek kehidupan, zhahir dan batin. Di dalamnya terdapat ajaran tentang hubungan manusia dengan Allah Rabbnya ‘Azza wa Jalla, hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam semesta, hubungan dengan makhluk-makhluk yang lain, dan hubungan dengan diri sendiri. Di dalamnya juga terdapat konsep-konsep muamalah duniawiyah dan ukhrawiyah. Di dalamnya juga terdapat prinsip dan nilai-nilai aqidah, ibadah, akhlaq, muamalah, halal-haram, dan lain sebagainya. Sehingga, agama yang sempurna sejatinya adalah agama yang mampu memanusiakan manusia secara utuh dan menempatkannya pada <em>maqam</em> (kedudukan) yang mulia.<br />
<span style="color:#000080;">Maka barangsiapa yang mau mengilmui ad dienul kamil, mengamalkan ajaran-ajarannya secara kaffah dan istiqamah di atasnya, berarti dia adalah manusia yang utuh dan memiliki kedudukan yang mulia.</span><br />
Dialah manusia yang merasakan kebahagiaan yang sejati di dunia berupa ketenangan hidup, kedamaian, ketentraman serta keselamatan dari fitnah syubhat dan syahwat; Demikian pula kebahagiaan yang sejati di akhirat berupa keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla, keselamatan dari adzab neraka, serta kenikmatan dan kemuliaan di dalam jannah. Sebaliknya barangsiapa menjauh dari <em>ad dienul kamil</em>, tidak mengilmui dan mengamalkan ajaran-ajarannya, maka dia akan sangat rentan terjatuh ke dalam berbagai bentuk pelanggaran syari&#8217;at; dan kelak Allah ‘Azza wa Jalla yang akan membalas dia dengan hukuman yang setimpal sesuai dengan kadar kejahatan yang telah dia lakukan.<br />
Saudara-saudaraku kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah, semoga Allah selalu melindungi kita. . .<br />
Setelah kita memahami betapa pentingnya bagi kita untuk senantiasa menempuh jalan ad <em>dienul kamil</em> (agama yang sempurna), mengilmui dan mengamalkannya secara <em>kaffah</em>, maka ketahuilah, bahwa tidak ada satu tingkat kesempurnaan, utuh dan lengkap mengatur semua sisi kehidupan kecuali <em>Dienul lslam</em> (agama Islam). Allah ‘Azza wa Jalla sendiri telah merekomendasikan kesempurnaan Islam ini dengan firmanNya:</p>
<p>…الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً…</p>
<p><em>…Pada hari ini telah Kesempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagi kalian…</em> <strong>(QS. Al Maidah: 3).</strong></p>
<p>Al Islam adalah agama yang sempurna. Tidak ada satu kisipun dari kehidupan ini kecuali telah tersentuh bias cahaya Islam. Maka sudah selayaknya bagi kaum muslimin untuk berpegang teguh dengan ajaran-ajaran Islam, meluruskan pola pikir dan pemahamannya sesuai Islam, serta menjadikan Islam sebagai pijakan yang pertama dan utama dalam mengarungi samudra kehidupan ini.<br />
Saudara-saudaraku kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah. . .<br />
Salah satu kisi penting dari kehidupan ini yang tidak lepas dari perhatian Islam adalah PERNIKAHAN. Islam datang dengan membawa ajaran dan aturan yang demikian indah serta mengagumkan dalam masalah ini. Di mana, Islam tampil sebagai suatu konsep dan ideologi yang benar-benar &#8216;memanusiakan manusia&#8217; (dalam hal pernikahan), memuliakan dan menempatkannya pada kedudukan yang terhormat. Islam mengatur masalah pernikahan dengan baik dan disiplin, sehingga pernikahan dalam pandangan Islam dan yang dijalankan sesuai tata cara Islam sangatlah jauh dari bentuk-bentuk perzinaan (walau sekecil apapun), jauh dari nuansa pornoaksi/pornografi, kerusakan, kejelekan, maupun perkara-perkara yang tidak pantas, baik dalam perspektif agama, fitrah yang suci, adat-istiadat yang baik, tata sosial kemasyarakatan yang lurus, serta nilai-nilai etika dan moralitas. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas MAKNA DAN TUJUAN PERNIKAHAN DALAM PANDANGAN ISLAM.<span id="more-104"></span><br />
Saudara-saudaraku kaum muslimin, <em>hafizhokumullah…</em><br />
Pernikahan dalam pandangan Islam memiliki arti dan nilai yang suci. Pernikahan memiliki makna yang sangat dalam dan harapan jauh ke depan, dunia dan akhirat. Kita semua, insya Allah, telah mengetahui bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Maka Islampun memahami bahwa manusia diciptakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla sebagai makhluk yang memiliki syahwat, kebutuhan-kebutuhan biologis, serta &#8216;keinginan&#8217; terhadap lawan jenis. Oleh karena itu, Islam datang dengan segenap aturan nan suci untuk menyalurkan semua itu di atas jalan yang benar dan diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga, dalam tinjauan Islam, pernikahan itu bukanlah sekedar sarana untuk mengumbar syahwat atau ajang pelampiasan hawa nafsu tanpa mengandung konsekuensi-konsekuensi tertentu (secara syar&#8217;i). Tidak! Akan tetapi dari kacamata Islam, pernikahan sejatinya memiliki tujuan-tujuan tertentu yang mendatangkan maslahat di dunia dan akhirat, di antaranya:</p>
<p><strong>1) PERNIKAHAN MERUPAKAN SATU SARANA IBADAH KEPADA ALLAH ‘AZZA WA JALLA</strong></p>
<p>Ya, pernikahan merupakan satu bentuk ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla (apabila diniatkan ibadah oleh pelakunya), karena ia merupakan perkara yang disyari&#8217;atkan dalam agama ini, bahkan termasuk sunnah para Rasul <em>&#8216;alaihimushsholatu wassalam</em>, tak terkecuali Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p>٣٨. وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجاً وَذُرِّيَّةً…</p>
<p><em>&#8220;Dan sungguh Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum engkau dan Kami jadikan bagi mereka istri-istri dan keturunan&#8230;&#8221;</em> <strong>(QS. Ar Ra’d : 38).</strong></p>
<p>Di dalam hadits Anas bin Malik Rodhiallahu’anhu riwayat Al Bukhari dan Muslim, dikisahkan bahwa ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi Sholallahu ‘alayhi wassalam untuk menanyakan tentang ibadah beliau. Maka setelah diberitahu, merekapun merasa bahwa ibadah mereka tidak ada apa–apanya dibandingkan dengan ibadah beliau, padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang. Maka berkatalah salah seorang dari mereka, &#8220;Adapun aku, aku akan shalat malam selamanya.&#8221; Berkata yang lain, &#8220;Aku akan berpuasa sepanjang masa dan tidak akan pernah berbuka.&#8221; Orang yang ketiga berkata, &#8220;Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya.&#8221; Maka datanglah Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam dan bersabda, &#8220;Apakah kalian yang mengatakan demikian dan demikian? Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat (malam) dan tidur, dan akupun menikahi wanita.&#8221; Kemudian beliau menyatakan:</p>
<p>&#8230;فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّيْ&#8230; (رواه البخاري(</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.&#8221;</em></p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa menikah merupakan sunnah Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam.<br />
<span style="color:#000080;">Oleh karena itu, barangsiapa yang menjalani pernikahan dengan niat untuk <em>ittiba&#8217;us Sunnah</em> (mengikuti Sunnah Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam), serta niat yang ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla, maka yang demikian bisa terhitung sebagai satu ibadah di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.</span><br />
Sebaliknya, barangsiapa yang menikah semata-mata untuk mencari kepuasan dan melampiaskan hawa nafsu serta kebutuhan biologis, sehingga ia tidak mau tahu dengan segala konsekuensi pernikahan, maka pernikahannya itu bisa dihukumi haram dan pelakunya berhak mendapat dosa berikut ancaman adzab Allah ‘Azza wa Jalla. Dalil yang menunjukkan bahwa pernikahan merupakan ibadah yang mendatangkan pahala juga datang dari hadits Abu Dzar Rodhiallahu’anhu riwayat Muslim. (Hadits ke-25 dari <em>Al Arba&#8217;in An Nawawiyyah</em>)</p>
<p><strong>2) PERNIKAHAN MERUPAKAN SATU SARANA UNTUK MENJAGA KEHORMATAN DAN SELAMAT DARI FITNAH SYAHWAT</strong></p>
<p>Manusia yang telah difitrahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla memiliki &#8216;keinginan&#8217; dan syahwat (terhadap lawan jenis) tentu akan berusaha untuk bisa menyalurkan syahwatnya tersebut. Hal ini terutama menimpa para pemuda, di mana darah muda dan gelora keremajaan akan senantiasa membuat mereka terbuai, terombang-ambing serta terjebak dalam khayalan-khayalan yang muncul dari fitnah syahwat. Maka para pemuda yang masih memiliki semangat yang tinggi, kebugaran fisik dan impian-impian yang panjang akan sangat rentan untuk terjatuh ke dalam perbuatan-perbuatan yang haram, keji, dan merusak kehormatan apabila mereka tidak memiliki ilmu dien serta keimanan yang kokoh.<br />
<span style="color:#000080;">Berangkat dari latar belakang seperti inilah lslam datang dengan membawa bimbingan dan solusi yang tepat untuk menyelamatkan para pemuda dari fitnah syahwat sekaligus menjaga kehormatan mereka.</span><br />
Sebagaimana termaktub dalam hadits &#8216;Abdullah bin Mas&#8217;ud Rodhiallahu’anhu riwayat Al Bukhari dan Muslim, di mana Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam bersabda:</p>
<p><span style="color:#339966;">يامعْشرالشبابِ، من استطاع منكم الباءة فلْيتزوّجِ فإنه أغضُّ للبصروأحْصنُ للفرْج، ومن لم يستطِعْ فعليه بالصوْم فإنه له وِجاءٌ</span></p>
<p><em>&#8220;Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian sudah ba&#8217;ah (mampu lahir batin) maka hendaknya dia menikah, karena hal itu lebih bisa menundukkan pandangan serta menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu maka atasnya untuk berpuasa, karena puasa itu merupakan tameng baginya.&#8221;</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Maka hendaknya para pemuda mau memperhatikan dan menjalankan bimbingan indah Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam ini apabila mereka khawatir tidak bisa selamat dari fitnah syahwat. Betapa banyak realita tersebar di masyarakat, dari kasus-kasus perzinaan, perkosaan, &#8216;kumpul kebo&#8217;, hamil di luar nikah, pergaulan bebas, homoseks, lesbian, aborsi, onani, masturbasi, pelecehan seksual, dan lain-lain. Hal tersebut dikarenakan umat ini, terutama para pemudanya, tidak mau menempuh <em>As Sunnah An Nabawiyyah</em> yang suci, malah justru lebih senang memperturutkan hawa nafsu serta budaya-budaya kebebasan. <em>Nas-alullahas salamah wal ‘afiyah.</em></p>
<p><strong>3) PERNIKAHAN MERUPAKAN SATU SARANA UNTUK MERAIH KETENTRAMAN DAN KEDAMAIAN HIDUP</strong></p>
<p>Siapapun orangnya, tentu menginginkan ketentraman dan kedamaian dalam hidup ini. Seseorang yang tidak merasakan kehidupan yang tentram dan damai, pasti akan merasakan hidup yang susah, gelisah, suntuk, tak tentu arah dan menderita. Sementara itu, salah satu perkara yang -insya Allah- akan bisa menghadirkan ketentraman dan kedamaian hidup adalah manakala seseorang memiliki pendamping hidup yang akan senantiasa menyertai hari-harinya, tempat mencurahkan perasaan hati, kawan dalam suka dan duka, tempat &#8220;berteduh dari panas&#8221; dan &#8220;bernaung dari hujan&#8221;, penyulut semangat serta pelipur lara. Seorang teman hidup yang akan membangunkannya manakala dia terjatuh, mengingatkannya tatkala dia bersalah, mendukungnya ketika dia lemah, membimbingnya pada saat dia salah langkah. Teman hidup inilah yang dinamakan &#8220;istri&#8221; bagi seorang lelaki dan &#8220;suami&#8221; bagi seorang wanita.<br />
Mengingat betapa besar maslahat serta peran teman hidup ini dalam upaya meniti tapak-tapak kehidupan, maka Allah ‘Azza wa Jalla pun menetapkan bagi manusia pasangan dari jenisnya sendiri demi terwujudnya ketenangan hidup. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p>٢١. وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ</p>
<p><em>&#8220;Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isti-istri dari jenismu sendiri supaya kamu tentram dan cenderang kepadanya, dan dijadikannya di antara kamu rasa cinta kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.&#8221;</em> <strong>(QS. Ar Ruum : 21).</strong></p>
<p><span style="color:#000080;">Maka diharapkan dengan adanya pernikahan, seseorang akan memperoleh ketentraman hidup. Kemudian dengan terwuiudnya ketentraman itu, diharapkan seseorang akan lebih baik dalam menjalani alur kehidupan, serta lebih termotivasi dalam merealisasikan amanah ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena memang manusia diciptakan di dunia ini adalah untuk beribadah kepada-Nya. (QS. Adz Dzaariyaat : 56).</span><br />
Satu hal yang perlu diingat, bahwa harapan hidup tentram dan damai yang dijanjikan dari sebuah pernikahan akan benar-benar terwujud -insya Allah- apabila seseorang mendapatkan pasangan hidup yang baik agamanya, shalih/shalihah, memiliki sifat dan akhlaq yang mulia, serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam membimbing kita untuk lebih memprioritaskan kualitas agama di dalam memilih teman untuk mengayuh biduk rumah tangga. Di dalam hadits Abu Hurairah Rodhiallahu’anhu riwayat Al Bukhari dan Muslim, Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam menjelaskan bahwa seorang wanita dinikahi karena empat perkara: harta benda, kehormatan, kecantikan, dan agama. Kemudian beliau menasihatkan agar seseorang lebih mengutamakan wanita dengan agama yang baik, jika tidak, maka ia akan celaka.<br />
Demikian pula, Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam membimbing para wali wanita agar menikahkan si wanita dengan seorang lelaki yang diridhai (dipercaya) agama dan akhlaqnya. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar. Sebagaimana hal ini termaktub dalam hadits Abu Hatim Al Muzany Rodhiallahu’anhu riwayat Al Imam At Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani Rohimahullah di dalam SHAHIH AT TIRMIDZI: 886.<br />
Maka, sekali lagi, hendaknya seseorang lebih mengedepankan agama calon pasangan hidupnya. Betapa banyak sudah contoh terpampang di depan mata kita, perjalanan rumah tangga yang berakhir dengan kehancuran, penyesalan, duka nestapa yang mendalam serta warna hidup yang suram, dikarenakan seseorang lebih terobsesi untuk mendahulukan harta benda duniawi, pangkat jabatan, serta penampilan fisik yang menggoda ketika mencari pasangan hidup dengan menutup mata atas rusaknya agama berikut jeleknya akhlaq calon pasangannya tersebut. Padahal proses berumah tangga bukanlah untuk dijalani di dunia ini saja. Tetapi, lebih dari itu, ada nilai-nilai tanggung jawab kelak di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Maukah kita mengalami nasib seperti orang-orang yang <em>&#8216;broken home&#8217; </em>tersebut!</p>
<p><strong>4) PERNIKAHAN MERUPAKAN SATU SARANA UNTUK MEMPERBANYAK UMAT ISLAM</strong></p>
<p>Tidak diragukan lagi, bahwa salah satu kekuatan umat ini bersumber dari kuantitas (jumlah) mereka yang besar (dengan catatan: Selama kaum muslimin mau berpegang teguh dengan ajaran-ajaran Islam yang benar, yang digali dari Al Qur&#8217;an dan As Sunnah dengan pemahaman para shahabat). Menang dalam kuantitas tetapi kalah dalam kualitas akan membuat umat ini gampang terombang-ambing, dipermainkan oleh musuh-musuhnya.<br />
Di samping itu Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam kelak akan berbangga dengan banyaknya umat beliau di hadapan umat-umat yang lain. Sebagaimana sabda Nabi Sholallahu ‘alayhi wassalam:</p>
<p>تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ</p>
<p><em>&#8220;Nikahilah wanita yang penyayang dan subur (banyak anak), karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan banyaknya (jumlah) kalian di hadapan para umat.&#8221;</em> <strong>(HR. Abu Dawud dan An Nasa&#8217;i. Dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani Rohimahullahu di dalam SHAHIHUL JAMI&#8217;: 2940 dan AL IRWA’: 1784).</strong></p>
<p>Oleh karena itu, merupakan satu kesalahan besar dalam tinjauan Islam ketika seseorang membatasi jumlah kelahiran anak tanpa udzur serta alasan-alasan yang syar&#8217;i.<br />
<span style="color:#000080;">Harus disadari, bahwa program-program pembatasan jumlah anak sejatinya tidak lebih dari propaganda orang-orang kafir (Barat) untuk menekan semaksimal mungkin pertambahan kuantitas umat lslam.</span><br />
Karena mereka mengerti bahwa jumlah yang besar merupakan salah satu modal kekuatan umat ini (tetapi dengan catatan yang telah disebutkan).<br />
Maka dari itu, wahai kaum muslimin&#8230;. Hendaknya kita kembali kepada ajaran agama kita yang mulia. Jangan mudah terseret arus. Jangan gampang terpengaruh oleh berbagai makar dan propaganda orang-orang kafir untuk melemahkan kekuatan kita. Karena apabila kita lemah, maka mereka akan leluasa menginjak-injak agama kita, hingga kemudian menyeret kita masuk ke dalam agama kafir mereka, yang itu berarti kita akan kekal di dalam neraka Allah ‘Azza wa Jalla jika kita meninggal di atas kekafiran. <em>Allahul Musta&#8217; an.</em><br />
Saudara-saudaraku kaum muslimin&#8230;<br />
Demikianlah sebagian kecil dari makna dan tujuan pernikahan dalam pandangan Islam. Ternyata &#8216;bagian hidup&#8217; yang oleh sebagian orang dianggap sakral dan bersejarah ini memiliki nilai yang indah dan suci dalam perspektif Islam, agama kita yang mulia dan sempurna. Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar senantiasa memberi hidayah dan taufiq kepada kita, sehingga kita bisa selalu menjalani sekecil apapun bagian-bagian hidup kita di atas syari&#8217;at-Nya nan suci dan indah. Sehingga kita berharap, semoga kita selalu mendapat ridha Allah ‘Azza wa Jalla dan kelak kita diselamatkan dari adzab neraka serta dimasukkan ke dalam jannah-Nya, negeri kebahagiaan dan kemuliaan. <em>Amin. Barakallahufikum.</em></p>
<p>Sumber: “PERNIKAHAN Indah dan Suci Di Atas Syari’at Ilahi” {Penulis: Abu Faqih Muhammad ibnu Ali ‘Umar Al Jombangi; Penerbit: Hikmah Ahlus Sunnah (HAS), Ramadhan 1427 H/Oktober 2006 M}</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/r3ndr1.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/r3ndr1.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/r3ndr1.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/r3ndr1.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/r3ndr1.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/r3ndr1.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/r3ndr1.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/r3ndr1.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/r3ndr1.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/r3ndr1.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/r3ndr1.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/r3ndr1.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/r3ndr1.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/r3ndr1.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=104&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://r3ndr1.wordpress.com/2010/10/21/pernikahan-indah-dan-suci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/454d5c90c00c5c4a78b6ffc247263b7f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">r3ndr1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Hari &#8216;Asyura</title>
		<link>http://r3ndr1.wordpress.com/2009/12/23/keutamaan-hari-asyura/</link>
		<comments>http://r3ndr1.wordpress.com/2009/12/23/keutamaan-hari-asyura/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 10:31:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yovi rendri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://r3ndr1.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc. Syariah, Khutbah Jum&#8217;at, 12 &#8211; Januari &#8211; 2008, 19:19:57 الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا (1) قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا (2) مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا (3) وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=60&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Penulis: Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc.<br />
Syariah, Khutbah Jum&#8217;at, 12 &#8211; Januari &#8211; 2008, 19:19:57<br />
</span></p>
<p><span> الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ<br />
</span>الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا (1)<br />
قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا (2)<br />
مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا (3)<br />
وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا (4)<br />
مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلا لآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلا كَذِبًا (5)<br />
<span> (الكهف)<br />
</span>وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا<span> (الكهف: ١٧)<br />
</span><span>وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه</span><br />
<span> وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِلَى النَّاسِ كَافَةً بَشِيْرًا َونَذِيْرًا وَدَاعِيًا إلَى اللهِ بإذِنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ- وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:</p>
<p>Jama’ah Jum’at yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,<br />
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.<span id="more-60"></span> Yaitu dengan senantiasa bersemangat dalam mempelajari agama-Nya serta mengamalkannya. Karena dengan bertakwa kepada-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menambahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat serta memberikan kepada kita bimbingan dan petunjuk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
</span>وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ&#8230;<br />
<span>“Dan bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarkan kepada kalian ilmu dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 282)</p>
<p>Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,<br />
Ketahuilah, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam banyak firman-Nya telah menceritakan kepada kita tentang kisah para nabi dan rasul-Nya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberitakan kepada kita bahwa pada kisah-kisah tersebut mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang yang mau merenungkannya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:<br />
</span>لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأولِي الألْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ<br />
<span>“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu (yaitu para nabi) terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur`an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yusuf: 111)</p>
<p>Hadirin rahimakumullah,<br />
Di antara kisah penting yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan adalah kisah tentang Nabi-Nya, Musa ‘alaihissalam. Bahkan kisah ini Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan secara berulang-ulang dalam berbagai surat dalam Al-Qur`an. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kisah ini untuk diketahui dan dipelajari. Kisah ini menceritakan tentang binasanya seorang penguasa zhalim yang diberi gelar Fir’aun. Disebutkan dalam kisah tersebut, Fir’aun adalah penguasa yang berbuat semena-mena dan zhalim kepada sebagian penduduknya. Dia membagi penduduknya menjadi dua golongan untuk kemudian memperlakukannya dengan tidak adil. Dia muliakan golongan yang berasal dari bangsanya dengan diberi kebebasan untuk melakukan apa yang mereka suka. Dan dia hinakan golongan lainnya, yaitu yang berasal dari Bani Israil yang pada saat itu mereka adalah sebaik-baik manusia. Terlebih setelah sampai berita kepada Fir’aun akan datangnya seorang dari keturunan Bani Israil yang akan menjadi sebab runtuhnya kekuasaannya. Segeralah dia mengutus orang-orangnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki dari Bani Israil yang dilahirkan pada masa itu. Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:<br />
</span>إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلا فِي الأرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ<br />
<span>“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya bergolong-golongan, menindas segolongan dari mereka (yaitu Bani Israil), menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuannya. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 4)<br />
Ketika Musa ‘alaihissalam lahir pada waktu itu, ibunya pun mengkhawatirkan keselamatan putranya. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki Musa ‘alaihissalam selamat dari kezhaliman Fir’aun dan bala tentaranya. Bahkan Musa ‘alaihissalam akhirnya hidup di tengah-tengah keluarga Fir’aun. Makan dan minum serta berpakaian juga mengendarai kendaraan sebagaimana yang digunakan oleh keluarga Fir’aun. Begitulah kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga orang yang akan dijadikan sebagai sebab runtuhnya kekuasaan Fir’aun, justru hidup dan besar di lingkungan keluarganya.</p>
<p>Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,<br />
Sesungguhnya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada wali-wali-Nya dari kalangan orang-orang yang beriman adalah pertolongan yang akan datang pada setiap masa dan setiap tempat di manapun mereka berada. Dengan pertolongan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala tampakkan kebenaran dan Allah Subhanahu wa Ta’ala hinakan kebatilan. Disebutkan dalam kisah tersebut, bahwa kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan Musa ‘alaihissalam sebagai rasul-Nya. Namun ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Musa ‘alaihissalam untuk mendakwahi Fir’aun dan pengikutnya serta memerintahkan mereka untuk beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, Fir’aun pun menolaknya bahkan dengan sombongnya mengatakan: “Akulah tuhan kalian yang maha tinggi.” Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dialog antara Musa ‘alaihissalam dengan Fir’aun dalam firman-Nya:<br />
</span>قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ<br />
قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ<br />
قَالَ لِمَنْ حَوْلَهُ أَلا تَسْتَمِعُونَ<br />
قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الأوَّلِينَ<br />
قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ<br />
قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ<br />
قَالَ لَئِنِ اتَّخَذْتَ إِلَهًا غَيْرِي لأجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُونِينَ<br />
<span>Fir’aun bertanya: “Siapa Rabb semesta alam itu?” Musa menjawab: “Rabb Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (itulah Rabbmu), jika kamu sekalian (orang-orang yang) memercayai-Nya.” Berkata Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya (dengan nada mengejek): “Apakah kalian tidak mendengarkan?” Musa berkata (pula): “(Dia adalah) Rabb kalian dan Rabb nenek-nenek moyang kalian yang dahulu.” Fir’aun berkata: “Sesungguhnya Rasul kalian yang diutus kepada kalian benar-benar orang gila.” Musa berkata: “Rabb yang menguasai timur dan barat serta apa yang ada di antara keduanya, (itulah Rabb kalian) jika kalian mempergunakan akal.” Fir’aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Ilah selainku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan.” (Asy-Syu’ara: 23-29)</p>
<p>Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,<br />
Di dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala tampakkan kebenaran yang dibawa oleh utusan-Nya dengan hujjah dan keterangan yang sangat jelas. Adapun Fir’aun, tidaklah keluar dari mulutnya kecuali kata-kata ejekan dan ancaman serta tuduhan yang tidak berlandaskan bukti. Sehingga ketika Fir’aun mengatakan kepada pengikutnya dengan menuduh Musa ‘alaihissalam sebagai orang yang gila, Allah Subhanahu wa Ta’ala tampakkan bahwa Fir’aun dan para pengikutnyalah yang sesungguhnya adalah orang-orang yang tidak berakal. Karena mereka mengingkari sesuatu yang sangat jelas kebenarannya yang mereka tidak bisa membantahnya. Demikianlah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang-orang yang bertakwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepada mereka ilmu sehingga bisa mengungkap kebatilan serta mematahkan tuduhan yang dilontarkan tanpa bukti sehingga tampaklah siapa yang di atas kebenaran dan siapa yang mengikuti hawa nafsu.</p>
<p>Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,<br />
Disebutkan pula dalam kisah tersebut, bahwa ketika Fir’aun tetap di atas kekafiran dan kesesatannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan Musa ‘alaihissalam untuk meninggalkan negeri tersebut. Namun ketika Fir’aun mengetahui hal itu, dia memerintahkan pasukannya untuk mengejar Musa ‘alaihissalam dan pengikutnya. Hal ini sebagaimana firman-Nya:<br />
</span>فَأَتْبَعُوهُمْ مُشْرِقِينَ<br />
فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ<br />
قَالَ كَلا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ<br />
فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ<br />
وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الآخَرِينَ<br />
وَأَنْجَيْنَا مُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ<br />
ثُمَّ أَغْرَقْنَا الآخَرِينَ<br />
إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ<br />
<span>“Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.” Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain (yaitu Fir’aun dan kaumnya). Dan Kami selamatkan Musa dan seluruh orang-orang yang besertanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu (Fir’aun dan bala tentaranya). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar namun kebanyakan mereka tidaklah beriman.” (Asy-Syu’ara`: 60-67)</p>
<p>Hadirin rahimakumullah,<br />
Di dalam sebagian kisah Nabi Musa ‘alaihissalam dan Fir’aun tersebut, kita bisa mendapatkan beberapa pelajaran. Di antaranya adalah:<br />
1. Bahwa orang-orang yang beriman akan diuji dengan musuh-musuhnya dari kalangan orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Hal itu untuk menampakkan siapa yang benar-benar kokoh imannya serta siapa yang lemah imannya atau bahkan menyembunyikan kekafiran di dalam hatinya.<br />
2. Bahwa kebatilan meskipun didukung kekuatan sebesar apapun, tidak akan bisa mengalahkan kebenaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan menampakkan kebenaran dan akan menghancurkan kebatilan. Maka orang-orang yang mengetahui dirinya di atas kebenaran harus yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjaga serta memenangkannya. Barangsiapa sabar dan kokoh di atas agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya akan mendapat pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.<br />
3.	Bahwa kemenangan akan datang bersama kesabaran dan bahwa bersama kesulitan akan datang jalan keluar.</p>
<p>Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,<br />
Akhirnya, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kepada kita taufiq dan hidayah-Nya untuk senantiasa mempelajari firman-firman-Nya. Sehingga kita bisa memahami dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat-Nya yang kita baca.<br />
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ حَقًّا وَتُوْبُوْا إِلَيْهِ صِدْقًا إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.</p>
<p>KHUTBAH KEDUA</p>
<p>الْحَمْدُ للهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِقِهِ وَامْتِنَانِهِ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:</p>
<p>Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,<br />
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa mengambil pelajaran dari kemenangan-kemenangan yang diraih oleh wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antaranya adalah kemenangan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepada Nabi-Nya yaitu Musa ‘alaihissalam.</p>
<p>Hadirin jamaah Jum’at rahimakumullah,<br />
Perlu diketahui, bahwa kisah diselamatkannya Musa ‘alaihissalam bersama pengikutnya serta ditenggelamkannya Fir’aun dan bala tentaranya, terjadi pada hari yang kesepuluh dari bulan Muharram. Itulah hari yang kemudian dikenal dengan nama hari ‘Asyura. Hari tersebut merupakan hari yang diberi keutamaan dan dimuliakan sejak dahulu kala. Sehingga Nabi Musa ‘alaihissalam berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana hadits yang disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa shahabat ‘Abdullah ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:<br />
أَنََّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِيْنَةَ فَوَجَدَ اليَهُوْدَ صِيَمًا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُوْمُوْنَهُ؟َ فَقَالُوْا: هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، أَنْجَى اللهُ فِيْهِ مُوْسَى وَقَوْمَهُ وغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوْسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُوْمُهُ. فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوْسَى مِنْكُمْ. فَصَامَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.<br />
Bahwasanya ketika masuk kota Madinah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka: “Ada apa dengan hari ini sehingga kalian berpuasa padanya?” Mereka mengatakan: “Ini adalah hari yang agung, hari yang Allah selamatkan Musa dan kaumnya padanya serta Allah tenggelamkan Fir’aun dan pasukannya. Maka berpuasalah Musa sebagai bentuk rasa syukur dan kamipun ikut berpuasa padanya.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Kalau demikian, kami lebih berhak dan lebih pantas terhadap Musa daripada kalian.” Maka berpuasalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari tersebut serta memerintahkan para shahabatnya untuk melakukan puasa pada hari itu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)<br />
Dari hadits tersebut, kita dapatkan pelajaran bahwa para nabi adalah orang-orang yang menjadikan kemenangan sebagai sesuatu yang patut disyukuri, yaitu dengan menampakkan bahwa kemenangan datangnya adalah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan manusia adalah makhluk yang lemah serta membutuhkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga mendorong dirinya untuk beribadah dengan ikhlas kepada-Nya. Maka Nabi Musa ‘alaihissalam berpuasa pada hari tersebut. Begitu pula nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga tidak semestinya hari kemenangan itu justru dijadikan sebagai hari yang dirayakan untuk menampakkan kebanggaan atas kemampuan dan kekuatan bangsanya. Sehingga dirayakan dengan pesta-pesta dan foya-foya. Atau dengan mengadakan acara-acara hiburan serta petunjukan-pertunjukan yang sarat kemaksiatan. Namun semestinya hari tersebut mengingatkan akan kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga mendorong untuk menjalankan dan menegakkan syariat-Nya.</p>
<p>Hadirin jamaah Jum’at rahimakumullah,<br />
Disebutkan dalam Shahih Muslim, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa ‘Asyura, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:<br />
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْـمَاضِيَةَ<br />
“Puasa tersebut menghapus dosa satu tahun yang telah lalu.” (HR. Muslim)<br />
Namun untuk menghindari keserupaan dengan ibadah orang-orang Yahudi dan Nashara, Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pada umatnya untuk berpuasa pula pada hari sebelumnya. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih-nya dari shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya beliau berkata:<br />
حِيْنَ صَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُوْدُ والنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ. قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ<br />
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para shahabatnya untuk berpuasa pada hari tersebut, mereka (para shahabat) berkata: “Wahai Rasulullah, hari ini (‘Asyura) adalah hari yang diagungkan orang-orang Yahudi dan Nashara.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Jika aku menjumpai tahun yang akan datang, insya Allah aku akan berpuasa pula pada hari yang kesembilannya.” Abdullah ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Namun sebelum datang tahun berikutnya, Rasulullah sudah wafat.” (HR. Muslim)</p>
<p>Hadirin rahimakumullah,<br />
Dari hadits-hadits tersebut, dapat kita pahami bahwa kaum muslimin disunnahkan untuk berpuasa pada hari yang kesembilan dan kesepuluh pada bulan Muharram, hari yang dikenal dengan Tasu’a dan ‘Asyura. Bahkan sebagian ulama menyebutkan disyariatkannya pula untuk berpuasa pada hari setelahnya yaitu hari yang kesebelas, dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nashara. Wallahu a’lam bish-shawab.<br />
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk melakukan puasa pada hari tersebut, dan mudah-mudahan kita mendapatkan keutamaan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan.<br />
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ, وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمينَ في كُلِّ مَكانٍ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ والْمُسْلِماتِ, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .عِبَادَ اللهِ &#8230; إِنَّ اللهَ يَأمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسَانِ وإيْتَاءِ ذِي القُرْبى ويَنْهى عَن الْفَحْشَاءِ والْمُنْكَرِ والْبَغِي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ واشْكُرُوْه عَلىَ النِّعَمِ يَزِدْكُمْ، ولَذِكْرُ اللهِ أكْبَرُ واللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ. </span></p>
<p><span>sumber: http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=582<br />
</span></p>
<div id="_mcePaste" style="overflow:hidden;position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">1.  الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا<!-- End Ayat --><br />
<hr size="1" /><!-- Begin Ayat -->2.  قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا<!-- End Ayat --><br />
<hr size="1" /><!-- Begin Ayat -->3.  مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا<!-- End Ayat --><br />
<hr size="1" /><!-- Begin Ayat -->4.  وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا<!-- End Ayat --><br />
<hr size="1" /><!-- Begin Ayat -->5.  مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلا لآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلا كَذِبًا</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/r3ndr1.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/r3ndr1.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/r3ndr1.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/r3ndr1.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/r3ndr1.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/r3ndr1.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/r3ndr1.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/r3ndr1.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/r3ndr1.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/r3ndr1.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/r3ndr1.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/r3ndr1.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/r3ndr1.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/r3ndr1.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=60&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://r3ndr1.wordpress.com/2009/12/23/keutamaan-hari-asyura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/454d5c90c00c5c4a78b6ffc247263b7f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">r3ndr1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembagian Orang Kafir dalam Islam</title>
		<link>http://r3ndr1.wordpress.com/2008/11/24/pembagian-orang-kafir-dalam-islam/</link>
		<comments>http://r3ndr1.wordpress.com/2008/11/24/pembagian-orang-kafir-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 07:14:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yovi rendri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://r3ndr1.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Melihat berbagai peristiwa teror yang terjadi di berbagai negara, apalagi hal tersebut dituduhkan identik dengan syari’at yang mulia nan suci, melihat banyaknya kebingungan di kalangan kaum muslimin akibat syubhat (kerancuan) dan racun yang disusupkan oleh musuh-musuh Islam tentang terorisme dan melihat salah “terjemah” terhadap kalimat terorisme dan salah menempatkannya. Maka kami mengangkat fatwa-fatwa para ulama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=48&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="4arab0" style="text-align:justify;margin:12pt 0 0;"><span style="font-size:10pt;" lang="EN">Melihat  berbagai peristiwa teror yang terjadi di berbagai negara, apalagi hal tersebut  dituduhkan identik dengan syari’at yang mulia nan suci, melihat banyaknya  kebingungan di kalangan kaum muslimin akibat syubhat (kerancuan) dan racun yang  disusupkan oleh musuh-musuh Islam tentang terorisme dan melihat salah “terjemah”  terhadap kalimat terorisme dan salah menempatkannya. Maka kami mengangkat  fatwa-fatwa para ulama besar yang merupakan lentera di tengah gulita dan  kelompok yang terus-menerus menampakkan kebenaran di setiap zaman<span id="more-48"></span> sebagaimana  dalam hadits yang mutawatir, Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa <span style="text-decoration:underline;">a</span>lihi  wa sallam </em>bersabda :</span></p>
<p class="4arab0" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:22pt;" lang="AR-SA">لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ  أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى  يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;"><em><span lang="EN">“Terus menerus ada sekelompok dari umatku yang mereka tetap  nampak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang mencerca mereka  sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti  itu”.</span></em></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Tulisan ini juga sebagai  penjelasan hakikat syari’at Islam yang mulia dan agung.</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;"><span lang="EN">Dan tulisan ini juga  sebagai bantahan terhadap orang-orang yang penuh dengan nista pemikiran sesat  dan bergelimang dengan lumpur penyimpangan yang menodai nama Islam dengan ulah  terorismenya.</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;"><span lang="EN">Dan sebagai bantahan  terhadap orang-orang jahil dan bodoh yang menampilkan dirinya sebagai ahli fatwa  yang berani mengucapkan statement yang mengidentikkan Islam dengan  terorisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="EN">Dan  yang lebih aneh lagi ucapan kotor ini keluar dari orang yang mengaku dirinya  Ahlus Sunnah. Simak kalimatnya yang menyanjung pelaku peledakan gedung WTC dan  Pentagon pada tanggal 11 September 2001 : “Serangan berani penuh kepahlawanan  dari para pemuda yang kecewa dengan kecongkakan Amerika Serikat” dan simak  ucapannya yang lain</span><strong><span lang="EN"> </span></strong><span style="font-size:10pt;color:black;" lang="EN">“</span><span style="font-size:10pt;" lang="EN">Kalau  ditanya kepada kami :Bagaimana serangan terhadap Amerika itu, maka kami  mengatakan bahwa cara itu tidak benar menurut pandangan syari’at. Kemungkinan  besar memang Usamah berada di belakang penyerangan terhadap WTC dan Pentagon.  Walaupun cara bunuh diri itu salah, bagi kami sasarannya benar. Kami memberi  “applaus” kepada sasaran seperti itu”. </span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;"><span lang="EN">Kami angkat tulisan ini  dengan harapan mengembalikan kaum muslimin kepada agama yang lurus dan  mengangkat derajat mereka di dunia dan di akhirat. Amin.</span></p>
<p class="MsoSubtitle"><span lang="SV">Pembagian Orang Kafir  dalam Islam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="SV">Orang  kafir dalam syari’at Islam ada empat macam :</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;" lang="SV">Pertama </span></strong><span style="font-size:10pt;" lang="SV">: Kafir  <em>Dzimmy</em>, yaitu orang kafir yang membayar <em>jizyah</em> (upeti) yang  dipungut tiap tahun sebagai imbalan bolehnya mereka tinggal di negeri kaum  muslimin. </span><span style="font-size:10pt;" lang="EN">Kafir  seperti ini tidak boleh dibunuh selama ia masih menaati peraturan-peraturan yang  dikenakan kepada mereka.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;" lang="EN">Banyak  dalil yang menunjukkan hal tersebut diantaranya firman Allah <em>Al-‘Az<span style="text-decoration:underline;">i</span>z  Al-Hak<span style="text-decoration:underline;">i</span>m </em>:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:22pt;" lang="AR-SA">قَاتِلُوا الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ  وَلاَ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ  وَلاَ يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى  يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;" lang="EN">“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak  (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah  diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar  (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai  mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan shoghirun (hina,  rendah, patuh)”.</span></em><span style="font-size:10pt;" lang="EN"> (<strong>QS. At-Taubah : 29</strong>).</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;" lang="EN">Dan  dalam hadits Buraidah riwayat Muslim Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa  <span style="text-decoration:underline;">a</span>lihi wa salllam </em>bersabda :</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:23pt;" lang="AR-SA">كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ  وَآلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمَّرَ أَمِيْرًا عَلَى جَيْشٍ أَوْ سَرِيَّةٍ أَوْصَاهُ  فِيْ خَاصَّتِهِ بِتَقْوَى اللهِ وَمَنْ مَعَهُ مِنْ الْمُسْلِمِيْنَ خَيْرًا ثُمَّ  قَالَ أُغْزُوْا بِاسْمِ اللهِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ قَاتِلُوْا مَنْ كَفَرَ بِاللهِ  أُغْزُوْا وَلاَ تَغُلُّوْا وَلاَ تَغْدِرُوْا وَلاَ تُمَثِّلُوْا وَلاَ  تَقْتُلُوْا وَلِيْدًا وَإِذَا لَقِيْتَ عَدُوَّكَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ  فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلاَثِ خِصَالٍ فَأَيَّتُهُنَّ مَا أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ  مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلاَمِ فَإِنْ أَجَابُوْكَ  فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَسَلْهُمُ الْجِزْيَةَ  فَإِنْ هُمْ أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ فَإِنْ هُمْ أَبَوْا  فَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَقَاتِلْهُمْ</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;" lang="EN">“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa <span style="text-decoration:underline;">a</span>lihi wa salllam  apabila beliau mengangkat amir/pimpinan pasukan, beliau memberikan wasiat khusus  untuknya supaya bertakwa kepada Allah dan (wasiat pada) orang-orang yang  bersamanya dengan kebaikan. Kemudian beliau berkata : “Berperanglah kalian di  jalan Allah dengan nama Allah, bunuhlah siapa yang kafir kepada Allah,  berperanglah kalian dan jangan mencuri harta rampasan perang dan janganlah  mengkhianati janji dan janganlah melakukan tamts<span style="text-decoration:underline;">i</span>l (mencincang atau  merusak mayat) dan janganlah membunuh anak kecil dan apabila engkau berjumpa  dengan musuhmu dari kaum musyrikin, dakwailah mereka kepada tiga perkara, apa  saja yang mereka jawab dari tiga perkara itu maka terimalah dari mereka dan  tahanlah (tangan) terhadap mereka ; serulah mereka kepada Islam apabila mereka  menerima maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka,  apabila mereka menolak maka mintalah jizyah (upeti) dari mereka dan apabila  mereka memberi maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka,  apabila mereka menolak maka mintalah pertolongan kepada Allah kemudian perangi  mereka”.</span></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;" lang="EN">Dan  dalam hadits Al-Mugh<span style="text-decoration:underline;">i</span>roh bin Syu’bah riwayat Bukhary beliau berkata  :</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:center;margin:0;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:22pt;" lang="AR-SA">أَمَرَنَا رَسُوْلُ  رَبِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُقَاتِلَكُمْ حَتَّى  تَعْبُدُوْا اللهَ وَحْدَهُ أَوْ تُؤَدُّوْا الْجِزْيَةَ</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;" lang="EN">“Kami diperintah oleh Rasul Rabb kami shollallahu ‘alaihi wa  <span style="text-decoration:underline;">a</span>lihi wa sallam untuk memerangi kalian sampai kalian menyembah Allah  satu-satunya atau kalian membayar Jizyah”.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;" lang="EN">Kedua</span></strong><span style="font-size:10pt;" lang="EN"> :  Kafir <em>Mu’<span style="text-decoration:underline;">a</span>had</em>, yaitu orang-orang kafir yang telah terjadi  kesepakatan antara mereka dan kaum muslimin untuk tidak berperang dalam kurun  waktu yang telah disepakati. Dan kafir seperti ini juga tidak boleh dibunuh  sepanjang mereka menjalankan kesepakatan yang telah dibuat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="EN">Allah  <em>Jalla Dzikruhu</em> berfirman :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:24pt;" lang="AR-SA">فَمَا اسْتَقَامُوا  لَكُمْ فَاسْتَقِيمُوا لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِين</span><span lang="AR-SA">َ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;" lang="EN">“Maka selama mereka berlaku istiqomah terhadap kalian, hendaklah  kalian berlaku istiqomah (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai  orang-orang yang bertakwa”.</span></em><span style="font-size:10pt;" lang="EN"> (QS<strong>. At-Taubah : 7</strong>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="EN">Dan  Allah berfirman :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:24pt;" lang="AR-SA">إِلاَّ الَّذِينَ  عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ثُمَّ لَمْ يَنْقُصُوكُمْ شَيْئًا وَلَمْ  يُظَاهِرُوا عَلَيْكُمْ أَحَدًا فَأَتِمُّوا إِلَيْهِمْ عَهْدَهُمْ إِلَى  مُدَّتِهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;" lang="EN">“Kecuali orang-orang musyrikin yang kalian telah mengadakan  perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi dari kalian sesuatu pun  (dari isi perjanjian) dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi  kalian, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya.  Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa”.</span></em><span style="font-size:10pt;" lang="EN"> (<strong>QS. At-Taubah : 4</strong>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="EN">dan  Allah <em>Jallat ‘Azhomatuhu</em> menegaskan dalam firman-Nya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:24pt;" lang="AR-SA">وَإِنْ نَكَثُوا  أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِيْ دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا  أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لاَ أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ  يَنْتَهُونَ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;" lang="EN">“Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka berjanji,  dan mereka mencerca agama kalian, maka perangilah pemimpin-pemimpin kekafiran  itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang  janjinya, agar supaya mereka berhenti”.</span></em><span style="font-size:10pt;" lang="EN"> (<strong>QS. At-Taubah : 12</strong>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="EN">Dan  Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa <span style="text-decoration:underline;">a</span>lihi wa sallam </em>bersabda dalam  hadits ‘Abdullah bin ‘Amr riwayat Bukhary :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:24pt;" lang="AR-SA">مَنْ قَتَلَ  مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيْحَهَا تُوْجَدُ مِنْ  مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;" lang="EN">“Siapa yang membunuh kafir Mu’<span style="text-decoration:underline;">a</span>had ia tidak akan mencium  bau surga dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh  tahun”.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;" lang="EN">Ketiga </span></strong><span style="font-size:10pt;" lang="EN">: Kafir  <em>Musta’man</em>, yaitu orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum  muslimin atau sebagian kaum muslimin. Kafir jenis ini juga tidak boleh dibunuh  sepanjang masih berada dalam jaminan keamanan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="EN">Allah  <em>Subhanahu Wa Ta’<span style="text-decoration:underline;">a</span>la </em>berfirman :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:24pt;" lang="AR-SA">وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ  الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللَّهِ ثُمَّ  أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَ  يَعْلَمُونَ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;" lang="EN">“Dan jika seorang di antara kaum musyrikin meminta perlindungan  kepadamu, maka lindungilah ia agar ia sempat mendengar firman Allah, kemudian  antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum  yang tidak mengetahui”.</span></em><span style="font-size:10pt;" lang="EN"> (<strong>QS. At-Taubah : 6</strong>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="EN">Dan  dalam hadits ‘Ali bin Abi Th<span style="text-decoration:underline;">o</span>lib <em>radhiyall<span style="text-decoration:underline;">a</span>hu ‘anhu,</em> Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa <span style="text-decoration:underline;">a</span>lihi wa sallam</em> menegaskan  :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:24pt;" lang="AR-SA">ذِمَّةُ  الْمُسْلِمِيْنَ وَاحِدَةٌ يَسْعَى بِهَا أَدْنَاهُمْ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;" lang="EN">“Dzimmah (janji, jaminan keamanan dan tanggung jawab) kaum  muslimin itu satu, diusahakan oleh orang yang paling bawah  (sekalipun)”.</span></em><span style="font-size:10pt;" lang="EN"> (<strong>HSR. Bukhary-Muslim</strong>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="EN">Berkata  Imam An-Nawawy <em>rahimahullah </em>: “Yang diinginkan dengan Dzimmah di sini  adalah <em>Am<span style="text-decoration:underline;">a</span>n</em> (jaminan keamanan). Maknanya bahwa  <em>Am<span style="text-decoration:underline;">a</span>n</em> kaum muslimin kepada orang kafir itu adalah sah (diakui),  maka siapa yang diberikan kepadanya <em>Am<span style="text-decoration:underline;">a</span>n</em> dari seorang muslim  maka haram atas (muslim) yang lainnya mengganggunya sepanjang ia masih berada  dalam <em>Am<span style="text-decoration:underline;">a</span>n</em>nya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="EN">Dan  dalam hadits Ummu H<span style="text-decoration:underline;">a</span>ni` riwayat Bukhary beliau berkata :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:24pt;" lang="AR-SA">يَا رَسُوْلَ اللهِ  زَعَمَ ابْنُ أُمِّيْ أَنَّهُ قَاتِلٌ رَجُلاً قَدْ أَجَرْتُهُ فَلاَنَ بْنَ  هُبَيْرَةَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَدْ  أَجَرْنَا مَنْ أَجَرْتِ يَا أُمَّ هَانِئٍ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;" lang="EN">“Wahai Rasulullah anak ibuku (yaitu ‘Ali bin Abi  Th<span style="text-decoration:underline;">o</span>lib-pen.) menyangka bahwa ia boleh membunuh orang yang telah saya  lindungi (yaitu) si Fulan bin Hubairah. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa  <span style="text-decoration:underline;">a</span>lihi wa salllam bersabda : “Kami telah lindungi orang yang engkau  lindungi wahai Ummu Hani`”.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;" lang="EN">Keempat</span></strong><span style="font-size:10pt;" lang="EN"> :  Kafir <em>Harby</em>, yaitu kafir selain tiga di atas. Kafir jenis inilah yang  disyari’atkan untuk diperangi dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam  syari’at Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="EN">Demikianlah  pembagian orang kafir oleh para ulama seperti syeikh Muqbil bin H<span style="text-decoration:underline;">a</span>di  Al-W<span style="text-decoration:underline;">a</span>di’iy, syeikh Ibnu ‘Utsaimin, ‘Abdullah Al-Bass<span style="text-decoration:underline;">a</span>m dan  lain-lainnya. Dan bagi yang menelaah buku-buku fiqih dari berbagai madzhab akan  menemukan benarnya pembagian ini. <em>Wallahul Musta’<span style="text-decoration:underline;">a</span>n</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="EN">Al Ustadz Abu Muhammad  Dzulqarnain</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="EN">sumber:  http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&amp;cat=Aqidah&amp;article=76</span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/r3ndr1.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/r3ndr1.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/r3ndr1.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/r3ndr1.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/r3ndr1.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/r3ndr1.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/r3ndr1.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/r3ndr1.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/r3ndr1.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/r3ndr1.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/r3ndr1.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/r3ndr1.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/r3ndr1.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/r3ndr1.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=48&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://r3ndr1.wordpress.com/2008/11/24/pembagian-orang-kafir-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/454d5c90c00c5c4a78b6ffc247263b7f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">r3ndr1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Gampang Memvonis Mati Syahid !</title>
		<link>http://r3ndr1.wordpress.com/2008/11/24/jangan-gampang-memvonis-mati-syahid/</link>
		<comments>http://r3ndr1.wordpress.com/2008/11/24/jangan-gampang-memvonis-mati-syahid/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 07:04:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yovi rendri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://r3ndr1.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Al Ustadz Qomar ZA, Lc Eksekusi ‘Syahid’? Pelaksanaan eksekusi pada hari Ahad dini hari tanggal 9 November 2008 M atas tiga aktor bom Bali I, Imam Samudra, Amrozi dan Mukhlas, mengundang perhatian banyak kalangan dari seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya nasional bahkan internasional. Hal inilah yang mengundang mereka berkomentar, baik atas pelaksanaan eksekusi tersebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=45&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="post-45">
<p class="MsoNormal"><span lang="EN">Penulis: Al Ustadz Qomar  ZA, Lc</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN">Eksekusi  ‘Syahid’?</span></p>
<p><span lang="EN">Pelaksanaan eksekusi  pada hari Ahad dini hari tanggal 9 November 2008 M atas tiga aktor bom Bali I,  Imam Samudra, Amrozi dan Mukhlas, mengundang perhatian banyak kalangan dari  seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya nasional bahkan internasional. Hal  inilah yang mengundang mereka berkomentar, baik atas pelaksanaan eksekusi  tersebut maupun atas kematian mereka dengan eksekusi itu, kontroversipun  terjadi,<span id="more-45"></span> sebagian pihak menyanjung mereka, sebagian pihak membenarkan hukuman  eksekusi tersebut, sementara yang lain menentangnya. Kontroversi semacam ini  terjadi karena masing-masing menilai dari sudut pandang yang berbeda, sehingga  wajar saja kalau mereka berselisih pendapat, karena dasar berpendapatnya saja  berbeda.</span></p>
<p><span lang="EN">Sayang,  tak sedikit dari umat Islam dengan status sosial yang berbeda-beda, turut pula  ramai-ramai ikut andil berkomentar dalam peristiwa ini. Mereka tidak  memandangnya dari sudut pandang ajaran Islam yang murni, bahkan cenderung  menggunakan perasaan, apakah dengan perasaan kasihan, atau sebaliknya  semata-mata dengan perasaan benci dan marah, sehingga muncullah hasil yang  berbeda karena berlandaskan perasaan yang berbeda. Sebagian lagi membubui  penilaiannya dengan pengetahuan tentang ajaran Islam yang minim dan yang sudah  tercampur dengan gaya berpikirnya para korban eksekusi, sehingga tak segan-segan  memastikan mereka sebagai syahid, pahlawan, pasti senang di surga, di sorga  dibawa oleh burung hijau, disambut para bidadari dan pujian-pujian semacam  itu.</span></p>
<p><span lang="EN">Tak  pelak lagi, kejadian-kejadian pasca pelaksanaan sampai pada penguburan-pun  dikait-kaitkan dengan vonis ‘kebahagiaan’ di atas, ada yang bilang bahwa  jenazahnya wangi, mukanya tersenyum, cuaca mendadak menjadi mendung, disambut  burung belibis hitam &#8211; yang diartikan bidadari menjelang penguburan pertanda  jenazah mereka diterima Allah &#8211; dan hal-hal semacam itu. Bahkan lebih parah,  sebelum pelaksanaan eksekusi pun sudah dikomentari bahwa mereka bakal dapat  bidadari. Subhanallah…</span></p>
<p><span lang="EN">Sekilas  saya membaca komentar-komentar semacam itu, membuat saya terpanggil untuk  menulis makalah ini, tak lain tujuannya adalah untuk berupaya meluruskan cara  berpikir kaum muslimin sehingga tidak bermudah-mudahan untuk mengeluarkan vonis  positif atau negatif, terlebih dalam urusan semacam ini yang lebih sarat dengan  urusan ghaib, urusan akhirat yang hanya di sisi Allah Ta’ala sajalah  pengetahuannya.</span></p>
<p><span lang="EN">Ya, tak  sedikit mereka yang telah menjadi korban ‘komentar tanpa ilmu’, sehingga jangan  dianggap angin lalu. Semua ucapan yang kita ucapkan dicatat oleh para malaikat  dan menjadi dokumen pribadi kita, untuk kemudian akan kita pertanggungjawabkan  di sisi Allah Ta’ala kelak.<br />
</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ  إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ</span><span lang="EN"><br />
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya  malaikat pengawas yang selalu hadir [Qoof:18]</span></p>
<p><span lang="EN">Perlu  dicamkan, bahwa urusan nasib seseorang di akhirat itu bukan urusan kita, bahkan  itu urusan ghaib yang hanya Allah Yang Maha Tahu yang memiliki pengetahuan  tentangnya. Sehingga seseorang yang mengatakan bahwa mereka itu syahid, berarti  ia – tanpa ilmu &#8211; telah menvonisnya pasti masuk ke dalam surga, ya, pasti tanpa  ilmu, karena hanya Allah Ta’ala sajalah yang mengetahui nasib mereka di akhirat  kelak.</span></p>
<p><span lang="EN">Wahai  kaum muslimin, kita mesti mengingat firman Allah Ta’ala:<br />
</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">وَلاَ  تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَاْلأَبْصَارَ  وَاْلأَفْئِدَةَ كَلٌّ أُولَئِكَ كَانَ مَسْئُوْلاً<br />
</span><span lang="EN">Dan janganlah kamu  mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya  pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan  jawabnya. [Al-Isra’:36]</span></p>
<p><span lang="EN">Janganlah karena  dorongan emosional, lalu kita berbicara tanpa ilmu yang berakibat mencelakakan  kita sendiri.</span></p>
<p><span lang="EN">Dahulu  di zaman Nabi sempat muncul beberapa kejadian yang membuat sebagian sahabat  mengeluarkan vonis kebahagiaan di akhirat kepada beberapa sahabat yang lain,  namun dengan segera Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menampik persaksian  mereka itu, karena hal semacam ini tidak ada yang tahu termasuk Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kalaulah tanpa berita wahyu dari langit  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan  mengetahui.</span></p>
<p><span lang="EN">Suatu  ketika seorang sahabat mulia Utsman bin Madz’un meninggal dunia, segeralah  seorang wanita mempersaksikan baginya kemuliaan di Akhirat, namun dengan segera  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menukas persaksiannya. Kisah berharga  tersebut termaktub dalam kitab Shahih Al-Bukhari, bahwa seorang wanita bernama  Umul ‘Ala, wanita Anshor yang pernah berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu  ‘alaihi wa sallam berkisah bahwa saat itu dibagikan undian orang-orang  muhajirin, maka kami mendapatkan bagian Utsman bin Madz’un sehingga kami  menempatkannya di rumah kami, tapi ia dirundung sakitnya yang menyebabkan  kematiannya, maka ketika beliau wafat dan dimandikan lalu dikafani dengan kain  kafannya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk, aku-pun  mengatakan,<br />
</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">رَحْمَةُ اللَّهِ  عَلَيْكَ أَبَا السَّائِبِ فَشَهَادَتِي عَلَيْكَ لقد أَكْرَمَكَ الله</span><span lang="EN"><br />
“Rahmat Allah atas dirimu wahai Abu Saib (Utsman bin Madz’un),  persaksianku terhadap dirimu bahwa Allah telah memuliakan dirimu”, maka serta  merta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :<br />
</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">وما  يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ أَكْرَمَهُ فقلت بِأَبِي أنت يا رَسُولَ اللَّهِ فَمَنْ  يُكْرِمُهُ الله فقال أَمَّا هو فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ والله إني لَأَرْجُو له  الْخَيْرَ والله ما أَدْرِي وأنا رسول اللَّهِ ما يُفْعَلُ بِي قالت فَوَاللَّهِ  لَا أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا<br />
“</span><span lang="EN">Darimana kamu tahu bahwa  Allah telah memuliakannya”. Akupun mengatakan, ”Ayahku sebagai tebusanmu Wahai  Rasulullah, lalu siapa yang Allah muliakan?” Rasulullah menjawab: ”Adapun dia  maka telah datang kematiannya, demi Allah aku benar-benar berharap untuknya  kebaikan, demi Allah saya sendiri tidak tahu -padahal aku ini adalah utusan  Allah- apa yang nantinya akan diperlakukan terhadap diriku”. Umul ‘Ala  mengatakan: Demi Allah aku tidak lagi memberikan tazkiyah (persaksian baik)  setelah itu selama-lamanya.</span></p>
<p><span lang="EN">Coba  renungi kisah ini, siapakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, siapakah  Utsman bin Madz’un dan siapakah Umul ‘Ala.</span></p>
<p><span lang="EN">Adapun  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sudah jelas bagi kita siapakah  beliau, adapun Utsman bin Madz’un maka beliau termasuk orang–orang yang pertama  masuk Islam (as-sabiqunal awwalun), Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa beliau adalah  orang yang ke 14 dalam masuk Islam, beliau ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia)  bersama anaknya, beliau termasuk pasukan perang Badar. Demikian biografinya  sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam kitab al-Ishabah. Ummu ‘Ala sendiri  adalah Shahabiyyah (sahabat wanita) yang mulia, periwayat hadits Nabi, dan salah  seorang wanita yang berbai’at kepada Nabi, siap untuk tunduk patuh kepada  titahnya.</span></p>
<p><span lang="EN">Marilah  kita renungkan, seorang wanita mulia bersaksi atas kebahagiaan seorang lelaki  yang hidupnya penuh dengan perjuangan besar, namun Rasulullah Shallallahu  ‘alaihi wa sallam menghentikan persaksiannya, lebih daripada itu, beliau  tegaskan bahwa beliau sendiri sebagai seorang Rasul tidak mengetahui nasib  dirinya.<br />
Sementara di waktu lain, Aisyah radhiyallahu ‘anha juga pernah  bersaksi atas kebahagiaan di akhirat untuk seorang anak kecil yang meninggal  dunia. Diriwayatkan sbb :<br />
</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">عن عَائِشَةَ أُمِّ  الْمُؤْمِنِينَ قالت دُعِيَ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إلى جَنَازَةِ صَبِيٍّ  من الْأَنْصَارِ فقلت يا رَسُولَ اللَّهِ طُوبَى لِهَذَا عُصْفُورٌ من عَصَافِيرِ  الْجَنَّةِ لم يَعْمَلْ السُّوءَ ولم يُدْرِكْهُ قال أَوَ غير ذلك يا عَائِشَةُ  إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ لِلْجَنَّةِ أَهْلًا خَلَقَهُمْ لها وَهُمْ في أَصْلَابِ  آبَائِهِمْ وَخَلَقَ لِلنَّارِ أَهْلًا خَلَقَهُمْ لها وَهُمْ في أَصْلَابِ  آبَائِهِمْ<br />
</span><span lang="EN">Dari Aisyah Ummul  Mukminin, ia berkata bahwa Rasulullah pernah diminta untuk mensholati jenazah  seorang anak dari Al-Anshor, maka aku katakan: ”Wahai Rasulullah, beruntung anak  ini, (ia menjadi seekor) burung ushfur dari burung-burung ushfur di dalam Surga,  ia belum berbuat kejelekan sama sekali dan belum menjumpainya. ” Nabi menjawab:  ”Atau (bahkan) selain itu, wahai Aisyah, sesungguhnya Allah menciptakan untuk  surga penghuninya, Allah ciptakan mereka untuk surga sejak mereka berada pada  tulang sulbi ayah-ayah mereka, dan Allah menciptakan untuk neraka penghuninya,  Allah menciptakan mereka sejak mereka dalam tulang sulbi ayah-ayah mereka. ”  [Shahih HR Muslim]</span></p>
<p><span lang="EN">Ya,  seorang bocah yang masih suci belum melakukan kejelekan dan belum menjumpainya  sebagaimana tutur Aisyah, dan ia adalah seorang anak sahabat Anshor sehingga  ‘Aisyah-pun bersaksi atas kebahagiaannya. Ternyata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa  sallam tetap menegur ‘Aisyah atas persaksiannya, mengapa? Sebagian ulama  mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri waktu itu belum tahu  tentang nasib anak-anak muslim itu. Ulama yang lain mengatakan –atas dasar bahwa  anak muslim nantinya bakal di surga dan itu telah disepakati ulama– bahwa Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin melarang ‘Aisyah untuk terburu-buru  memastikan sesuatu tanpa ada dalil yang pasti. Hal itu karena ini adalah urusan  ghaib, urusan akhirat yang hanya di Tangan Allah dan manusia tidak tahu-menahu  tentangnya.</span></p>
<p><span lang="EN">Bahkan  dalam kejadian lain, di sebuah perjalanan peperangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa  sallam, beberapa sahabat sempat memvonis surga bagi seseorang yang mati di  sela-sela perjalanan itu, diriwayatkan,<br />
</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">عن أبي هُرَيْرَةَ قال  خَرَجْنَا مع النبي صلى الله عليه وسلم إلى خَيْبَرَ فَفَتَحَ الله عَلَيْنَا فلم  نَغْنَمْ ذَهَبًا ولا وَرِقًا غَنِمْنَا الْمَتَاعَ وَالطَّعَامَ وَالثِّيَابَ  ثُمَّ انْطَلَقْنَا إلى الْوَادِي وَمَعَ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَبْدٌ  له وَهَبَهُ له رَجُلٌ من جُذَامَ يُدْعَى رِفَاعَةَ بن زَيْدٍ من بَنِي  الضُّبَيْبِ فلما نَزَلْنَا الْوَادِي قام عبد رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  يَحُلُّ رَحْلَهُ فَرُمِيَ بِسَهْمٍ فَكَانَ فيه حَتْفُهُ فَقُلْنَا هَنِيئًا له  الشَّهَادَةُ يا رَسُولَ اللَّهِ قال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَلَّا  وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بيده إِنَّ الشَّمْلَةَ لَتَلْتَهِبُ عليه نَارًا  أَخَذَهَا من الْغَنَائِمِ يوم خَيْبَرَ لم تُصِبْهَا الْمَقَاسِمُ قال فَفَزِعَ  الناس فَجَاءَ رَجُلٌ بِشِرَاكٍ أو شِرَاكَيْنِ فقال يا رَسُولَ اللَّهِ أَصَبْتُ  يوم خَيْبَرَ فقال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم شِرَاكٌ من نَارٍ أو شِرَاكَانِ  من نَارٍ<br />
</span><span lang="EN">Dari Abu Hurairah ia  berkata: Kami keluar bersama Nabi menuju ke Khaibar, maka Allah memenangkan  kami, dan kami tidak mendapat rampasan perang berupa emas, ataupun perak, tapi  kami mendapatkan rampasan berupa barang-barang, makanan dan pakaian. Lalu kami  beranjak ke sebuah lembah, dan bersama Rasulullah seorang budak, beliau diberi  oleh seorang dari bani Judzam, panggilannya Rifa’ah bin Zaid dari bani Dhobib,  maka ketika kami singgah di lembah itu budak tersebut bangkit untuk melepaskan  bawaan tunggangannya, ternyata dia dilempar panah sehingga itu menjadi sebab  kematiannya, kamipun mengatakan: “Berbahagialah dia dengan pahala syahid, wahai  Rasulullah.” Rasulullah mengatakan: “Sekali-kali tidak, demi yang jiwa Muhammad  di tangan-Nya, sesungguhnya kainnya akan menyalakan api padanya, ia mengambilnya  dari rampasan perang pada perang Khaibar dan belum dibagi.” Abu Hurairah  berkata: ”Maka orang-orang sangat takut sehingga ada seorang yang menyerahkan  satu tali sandal atau dua tali sandal dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami  mendapatkannya pada perang Khaibar,” maka Rasulullah bersabda: “Satu atau dua  tali sandal dari neraka.”. ”<br />
Para sahabat mempersaksikan kesyahidan untuk  budak tersebut, budak yang membantu Nabi, berjuang bersama beliau, meninggal  dalam perjalanan perang yang tentu semuanya itu sebenarnya adalah jihad fi  sabilillah. Namun dengan tegas Nabi membantah persaksian mereka, bahkan diiringi  dengan sumpah dengan nama Allah, dan bahwa pelanggarannya berupa mencuri  selembar kain sebelum dibagi-bagikan menghalanginya untuk mendapatkan kemuliaan  syahid, ya, hanya karena selembar kain yang dia curi…<br />
Yang lebih membuat  tercengang para sahabat adalah peristiwa lain di mana Nabi bersaksi neraka  terhadap seseorang yang berjuang keras dalam berjihad. Imam Al-Bukhari  meriwayatkan,<br />
</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ  السَّاعِدِىِّ &#8211; رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211;  الْتَقَى هُوَ وَالْمُشْرِكُونَ فَاقْتَتَلُوا ، فَلَمَّا مَالَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211;  صلى الله عليه وسلم &#8211; إِلَى عَسْكَرِهِ ، وَمَالَ الآخَرُونَ إِلَى عَسْكَرِهِمْ ،  وَفِى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; رَجُلٌ لاَ يَدَعُ لَهُمْ  شَاذَّةً وَلاَ فَاذَّةً إِلاَّ اتَّبَعَهَا يَضْرِبُهَا بِسَيْفِهِ ، فَقَالَ مَا  أَجْزَأَ مِنَّا الْيَوْمَ أَحَدٌ كَمَا أَجْزَأَ فُلاَنٌ . فَقَالَ رَسُولُ  اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; « أَمَا إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ » (( وفي  رواية فقالوا أينا من أهل الجنة إن كان هذا من أهل النار )) فقَالَ رَجُلٌ مِنَ  الْقَوْمِ أَنَا صَاحِبُهُ . قَالَ فَخَرَجَ مَعَهُ كُلَّمَا وَقَفَ وَقَفَ مَعَهُ  ، وَإِذَا أَسْرَعَ أَسْرَعَ مَعَهُ قَالَ فَجُرِحَ الرَّجُلُ جُرْحًا شَدِيدًا ،  فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ ، فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ بِالأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ  ثَدْيَيْهِ ، ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَى سَيْفِهِ ، فَقَتَلَ نَفْسَهُ ، فَخَرَجَ  الرَّجُلُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; فَقَالَ أَشْهَدُ أَنَّكَ  رَسُولُ اللَّهِ . قَالَ « وَمَا ذَاكَ » . قَالَ الرَّجُلُ الَّذِى ذَكَرْتَ  آنِفًا أَنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ ، فَأَعْظَمَ النَّاسُ ذَلِكَ . فَقُلْتُ  أَنَا لَكُمْ بِهِ . فَخَرَجْتُ فِى طَلَبِهِ ، ثُمَّ جُرِحَ جُرْحًا شَدِيدًا ،  فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ ، فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ فِى الأَرْضِ وَذُبَابَهُ  بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ، ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَيْهِ ، فَقَتَلَ نَفْسَهُ . فَقَالَ  رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; عِنْدَ ذَلِكَ « إِنَّ الرَّجُلَ  لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ ، وَهْوَ مِنْ  أَهْلِ النَّارِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا  يَبْدُو لِلنَّاسِ ، وَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ<br />
</span><span lang="EN">Dari Sahl bin Sa’ad ia  mengatakan: Bahwa Rasulullah bertemu dengan orang-orang musyrik sehingga mereka  saling menyerang, maka tatkala Rasulullah menuju ke kampnya, dan yang lain juga  menuju ke kamp mereka, sementara di antara para sahabat Nabi ada seseorang yang  tidak membiarkan seorangpun (dari musyrikin-pent) yang lepas dari regunya  kecuali dia kejar dan dia tebas dengan pedangnya. Akhirnya para sahabat  mengatakan: “Tidaklah seorangpun dari kita pada hari ini mencukupi seperti yang  dicukupi Fulan itu.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:  “Sesungguhnya dia termasuk penduduk Neraka” (dalam sebuah riwayat): Maka para  sahabat mengatakan: “Siapa di antara kita menjadi penghuni Al-Jannah, bila dia  saja termasuk penghuni An-Nar ?”<br />
Maka seseorang di antara orang-orang  mengatakan: Aku akan menguntitnya terus. Iapun keluar bersamanya, setiap kali  orang itu berhenti ia ikut berhenti, dan jika dia cepat iapun cepat. Ia  berkisah: Lalu orang itu terluka dengan luka yang parah, maka ia ingin segera  mati sehingga ia letakkan (gagang) pedangnya di bumi dan ujungnya di antara dua  dadanya kemudian dia mengayunkan dirinya di atas pedangnya, sehingga iapun  membunuh dirinya. Lalu orang yang menguntitnya itu datang kepada Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan: “Aku bersaksi bahwa engkau  adalah Rasulullah”. Beliau mengatakan: “Kenapa ?”, Ia menjawab: “Orang yang  engkau sebutkan tadi bahwa dia termasuk penghuni Neraka.” Lalu orang-orang  tercengang dengan hal itu. Maka aku katakan: “Aku (akan membuktikan) untuk  kalian tentangnya. Maka aku keluar menguntitnya sampai ia terluka dengan luka  yang parah maka ia ingin cepat mati, akhirnya ia letakkan gagang pedangnya di  bumi dan ujungnya di antara dua dadanya, lalu ia ayunkan dirinya di atas  pedangnya sehingga iapun membunuh dirinya.“ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang benar-benar beramal dengan amalan  penghuni Al-Jannah -yang nampak bagi manusia- sementara dia termasuk penghuni  Neraka. Dan sungguh seseorang beramal dengan amalan penghuni Neraka -yang nampak  bagi manusia- sementara dia termasuk penghuni Al-Jannah.” [Shahih, HR Al-Bukhari  dan Muslim]</span></p>
<p><span lang="EN">Sungguh  benar-benar mencengangkan, penjuangan yang begitu gigih dalam jihad di jalan  Allah, dan membuat kocar-kacir musuh, ternyata perjuangannya menjadi tidak  begitu berarti manakala ia melanggar agama, bunuh diri. Rasulullah Shallallahu  ‘alaihi wa sallam mencegah persaksian mereka, hal itu karena kita sebagai  manusia, banyak hal yang terluputkan dari kita, kita tidak mengetahui hal yang  tersembunyi, hanyalah Allah yang tahu akhir dari nasib  seseorang.</span></p>
<p><span lang="EN">Kiranya  kejadian-kejadian di atas menjadi pelajaran penting bagi kita semuanya, para  sahabat Nabi yang mulia dengan keilmuan dan keimanan mereka bersaksi atas para  sahabat yang lain yang memenuhi hari-hari mereka dengan perjuangan dan  pengorbanan, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mencegah mereka  dari persaksian-persaksian tersebut, kenapa? Sekali lagi ini urusan ghaib yang  hanya diketahui oleh Dzat Yang Maha Tahu urusan itu, Allah ‘Azza wa  Jalla.</span></p>
<p><span lang="EN">Atas  dasar itu, maka menjadi keyakinan Ahlussunnah Wal Jama’ah yang mereka  saling-mewarisi dan mewariskan dari sejak zaman Nabi hingga kini, bahwa kita  tidak bisa memastikan seorangpun secara tertentu dari muslimin bahwa dia akan  masuk Surga karena sebuah amalan tertentu. Tentu saja, kepastian atas mereka  yang kita peroleh informasinya dari wahyu ilahi, semacam Al-‘Asyroh  Al-Mubasyraruna bil Jannah ‘, sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira masuk  surga’, di antaranya khalifah yang empat, atau yang semacam  mereka.</span></p>
<p><span lang="EN">Imam  Ahmad bin Hanbal rahimahullah yang digelari Imam Ahlussunnah, karena  kegigihannya dalam memperjuangkan Aqidah, mengatakan:<br />
</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">لا نشهد على أهل  القبلة بعمل يعمله بجنة ولا نار نرجو للصالح ونخاف عليه ونخاف على المسيء المذنب  ونرجو له رحمة الله</span><span lang="EN"><br />
Dan kami tidak bersaksi atas ahlul qiblah (yakni muslimin) karena  sebuah amalan yang dia amalkan bahwa ia pasti masuk surga atau neraka, kami  berharap baik bagi seorang yang shaleh tapi kami tetap khawatir padanya, dan  kami khawatir terhadap mereka yang berbuat jelek, tapi kami tetap mengharap  rahmat Allah padanya. [Ushulus Sunnah]</span></p>
<p><span lang="EN">Imam  Ahmad yang merasakan pahit getirnya kejahatan penguasa saat itu, penyiksaan,  penjara, intimidasi dalam waktu kurang lebih 3 masa khalifah yaitu Al-Makmun,  Al-Mu’tashim dan Al-Watsiq, itu semua karena memperjuangkan aqidah,  hampir-hampir nyawa melayang karenanya.</span></p>
<p><span lang="EN">Bahkan  sudah melayang nyawa sekian ulama yang mendahului beliau saat itu, namun itu  tidak membuat beliau larut dalam perasaan yang membawa kepada persaksian yang  tidak benar, walaupun kesedihan terasa begitu mendalam dalam  sanubari.</span></p>
<p><span lang="EN">Tidak  ketinggalan, Al Imam Al-Bukhari dalam kitabnya Shahih Al-Bukhari, yang sebagian  ulama menyebutnya sebagai kitab yang paling Shahih setelah Kitabullah, oleh  karenanya umat Islam menyambutnya dengan lapang dada, beliau meletakkan sebuah  bab berjudul:<br />
</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">باب لاَ يَقُولُ فُلاَنٌ  شَهِيدٌ<br />
“</span><span lang="EN">TIDAK BOLEH SESEORANG  MENGATAKAN FULAN SYAHID”</span><span dir="rtl" lang="AR-SA"><br />
</span><span lang="EN">Lalu beliau menyebutkan  riwayat</span><span dir="rtl" lang="AR-SA"> :<br />
قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; « اللَّهُ  أَعْلَمُ بِمَنْ يُجَاهِدُ فِى سَبِيلِهِ ، اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِى  سَبِيلِهِ »<br />
</span><span lang="EN">Abu Hurairah berkata  dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: ”Allah lebih tahu siapakah yang  (benar-benar) berjihad di jalan-Nya, Allah lebih tahu siapakah yang terluka di  jalan-Nya. ”</span><span dir="rtl" lang="AR-SA"><br />
</span><span lang="EN">Ibnu Hajar menerangkan:  [Tidak boleh Mengatakan Fulan Syahid] yakni dengan memastikan hal itu kecuali  dengan (berita) dari wahyu, seolah-olah beliau (Al-Bukhari) mengisyaratkan  kepada hadits Umar bahwa beliau berkhutbah lalu mengatakan: “Kalian katakan  dalam peperangan-peperangan kalian ‘fulan syahid’ dan ‘fulan mati syahid’,  barangkali dia telah memberatkan kendaraannya, ketahuilah janganlah kalian  mengatakan semacam itu akan tetapi katakanlah seperti yang dikatakan Rasulullah:  “Barangsiapa yang meninggal atau terbunuh di jalan Allah maka dia syahid”. “ Dan  itu hadits hasan Riwayat Ahmad dan Said bin Manshur dan selain  keduanya.</span></p>
<p><span lang="EN">Aqidah  inipun ditegaskan oleh Ath-Thohawi dalam buku aqidahnya:<br />
</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">ونرجو  للمحسنين من المؤمنين ان يعفو عنهم ويدخلهم الجنة برحمته ولا نأمن عليهم ولا نشهد  لهم بالجنة ونستغفر لمسيئهم ونخاف عليهم ولا نقنطهم<br />
</span><span lang="EN">Kami berharap untuk  orang-orang yang berbuat baik dari mukminin untuk Allah ampuni mereka dan  memasukkan mereka ke dalam Al-Jannah dengan rahmat-Nya dan kami tidak merasa  aman atas mereka serta tidak bersaksi bahwa mereka pasti dapat surga. Kami juga  memintakan ampun untuk orang-orang yang berbuat jelek dan kami khawatir atas  mereka tapi kami tidak putus asa pada mereka.</span></p>
<p><span lang="EN">Dan  begitulah sifat seorang mukmin, ia tidak merasa aman tentram dengan amalnya,  karena yakin pasti diterima, bahkan ia selalu merasa khawatir, jangan-jangan  amalnya tidak diterima, Aisyah bertanya kepada Rasulullah, wahai Rasulullah ayat  :<br />
</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ  مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ  رَاجِعُونَ</span><span lang="EN"><br />
Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan  (yakni dari shodaqoh atau yang mereka amalkan dari amal shalih), dengan hati  yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada  Tuhan mereka. [Al-Mukminun:60]<br />
“Apakah maksudnya adalah seorang yang berzina  dan meminum khamr serta mencuri?“ Rasulullah menjawab: “Tidak wahai putri  Ash-Shiddiq, akan tetapi itu adalah seseorang yang berpuasa, shalat, bersedekah  dan khawatir amalannya tidak diterima.” [HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu  Majah]</span></p>
<p><span lang="EN">Al-Hasan Al-Bashri  mengatakan: “Demi Allah mereka mengamalkan ketaatan serta bersungguh-sungguh  padanya tapi mereka juga takut kalau amalnya ditolak, sesungguhnya seorang  mukmin menyertakan antara perbuatan baik dan rasa khawatir, sementara seorang  munafiq menggabung antara perbuatan jelek dan perasaan tenang.” [Lihat Syarh  At-Thahawiyah]</span></p>
<p><span lang="EN">Para  pembaca yang saya hormati, jujur saja, apakah yang dilakukan Imam Samudra cs  suatu amal kebaikan? Seandainyapun itu suatu amal kebaikan, maka itupun tetap  tidak membolehkan kita untuk memastikan bahwa itu diterima, bahkan hanya bisa  mengharap, lebih-lebih memastikan syahid dan dapat surga serta bidadarinya. Hal  itu sebagaimana penjelasan Allah, Rasul dan para ulama, inilah hukum Islam, jika  kita mau menegakkan hukum Islam. Tapi kalau ternyata apa yang dilakukannya  adalah suatu amal kejelekan, maka ini dari jenis yang kita khawatirkan, bahkan  kekhawatiran besar.</span></p>
<p><span lang="EN">Apa  sebenarnya yang mereka lakukan?<br />
<strong>Mari kita melihat sejenak, mereka  telah menyebabkan lenyapnya nyawa seorang muslim, mereka telah membunuh dan  melukai ratusan orang kafir para wisatawan asing, mereka telah menghancurkan  gedung, mereka telah mengangkat senjata, muslimin kerepotan menerima tuduhan  serupa, dan menimbulkan rasa takut di masyarakat, dan beberapa hal lain dengan  alasan jihad.</strong></span></p>
<p><span lang="EN">Saya  tidak ingin membahas semuanya, namun saya hanya akan menyoroti beberapa hal,  itupun dengan singkat, agar tidak keluar dari maksud tulisan  ini.</span></p>
<p><span lang="EN">Pertama,  <strong>menyebabkan lenyapnya nyawa seorang muslim, nyawa muslim walaupun hanya  satu orang, maka itu sangat berharga di sisi Allah Ta’ala</strong>. Maka tidak  boleh melakukan tindak kejahatan terhadap jiwa muslim dan membunuhnya tanpa  alasan/cara yang benar. Barangsiapa yang melakukan hal itu berarti telah  melakukan salah satu dosa besar dari dosa-dosa besar, Allah  berfirman:<br />
</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِناً  مُّتَعَمِّداً فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِداً فِيهَا وَغَضِبَ اللّهُ عَلَيْهِ  وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَاباً عَظِيماً</span><span lang="EN"><br />
Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka  balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan  mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. [An-Nisa:93] dan  berfirman:<br />
</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ  كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْساً بِغَيْرِ نَفْسٍ  أَوْ فَسَادٍ فِي الأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعاً وَمَنْ  أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعاً وَلَقَدْ جَاءتْهُمْ رُسُلُنَا  بِالبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيراً مِّنْهُم بَعْدَ ذَلِكَ فِي الأَرْضِ  لَمُسْرِفُونَ<br />
</span><span lang="EN">Oleh karena itu Kami  tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh  seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena  membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia  seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka  seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya  telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa)  keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu  sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka  bumi.[Al-Maidah:32]</span></p>
<p><span lang="EN">Al-Imam  Mujahid (seorang Tabi’in, Ahli Tafsir) mengatakan: (seperti membunuh semua  manusia seluruhnya) “dalam hal dosanya”. Ini menunjukkan besarnya masalah  membunuh jiwa tanpa cara/alasan yang benar, dan Nabi bersabda:<br />
</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">لَا  يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إلا الله وَأَنِّي رسول  اللَّهِ إلا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ الثَّيِّبُ الزَّانِي وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ  وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ</span><span lang="EN"><br />
“Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada ilah  yang benar selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali dengan salah  satu dari 3 perkara: pezina yang telah menikah, jiwa dengan jiwa, orang yang  keluar dari agama meninggalkan jama’ah” [Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu  Mas’ud].</span></p>
<p><span lang="EN">Nabi  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :<br />
</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ  الناس حتى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إلا الله وَأَنَّ مُحَمَّدًا رسول اللَّهِ  وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فإذا فَعَلُوا ذلك عَصَمُوا مِنِّي  دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إلا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ على  اللَّهِ<br />
”</span><span lang="EN">Aku diperintahkan untuk  memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah yang benar melainkan  Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat dan menunaikan  zakat</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">, </span><span lang="EN">bila mereka melakukan  hal itu, mereka telah melindungi darah dan hartanya dariku kecuali dengan hak  Islam dan perhitungannya nanti diserahkan kepada Allah”. [Muttafaqun’alaih dari  hadits ibnu Umar</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">]</span></p>
<p><span lang="EN">Dan  dalam sunan Nasa’i dari hadits Abdullah bin ‘Amr dari Nabi shallallahu`alaihi wa  sallam, bahwa beliau bersabda:<br />
</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">لَزَوَالُ الدُّنْيَا  أَهْوَنُ على اللَّهِ من قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ</span><span lang="EN"><br />
”Sungguh lenyapnya dunia bagi Allah lebih ringan dari terbunuhnya  seorang muslim”. [Shahih, HR At-Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu majah dan yang lain.  Shohih At-Targhib:2439]<br />
</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">وَنَظَرَ ابْنُ عُمَرَ  يَوْمًا إِلَى الْبَيْتِ فَقَالَ مَا أَعْظَمَكَ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكَ  وَلَلْمُؤْمِنُ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ حُرْمَةً مِنْكَ</span><span lang="EN"><br />
Dan Abdullah Ibnu Umar suatu hari memandang ke Ka’bah seraya  mengatakan: ”Betapa agungnya engkau dan betapa agungnya kehormatan engkau,  tetapi seorang mukmin lebih besar kehormatannya di sisi Allah daripada engkau”  [Shahih lighoirihi, HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, Shohih  At-Targhib:2441]</span></p>
<p><span lang="EN">Kedua,  <strong>membunuh jiwa mu’ahad (orang-orang kafir yang memiliki perjanjian damai  atau keamanan)</strong>, di antara mereka adalah para wisatawan asing  tersebut.</span></p>
<p><span lang="EN">Dari  Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash dari Nabi shallallahu`alaihi wa sallam ia  bersabda:<br />
</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">من قَتَلَ مُعَاهَدًا لم  يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ من مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ  عَامًا<br />
”</span><span lang="EN">Barangsiapa yang  membunuh Mu’ahad maka ia tidak mendapatkan bau surga padahal baunya dapat dicium  dari jarak perjalanan 40 tahun” [HR Al-Bukhori dan Ibnu Majah</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">]</span></p>
<p><span lang="EN">Dan  siapa saja yang dimasukkan oleh penguasa muslim dengan perjanjian aman maka jiwa  dan hartanya juga terlindungi, tidak boleh menyentuhnya dan barangsiapa yang  membunuhnya maka maka dia seperti yang disabdakan Nabi shallallahu`alaihi wa  sallam…”tidak akan mendapat bau surga”, dan ini adalah ancaman yang keras bagi  orang yang mencoba membunuh orang yang berada dalam perjanjian  aman.<br />
Maksudnya siapa saja yang masuk dengan perjanjian aman dari penguasa  untuk kepentingan suatu maslahat yang dia pandang, maka tidak boleh  mengganggunya atau bertindak jahat terhadapnya, apakah kepada jiwanya atau  hartanya.</span></p>
<p><span lang="EN">Ketiga,  <strong>melakukan kerusakan di muka bumi, dengan menimbulkan ketakutan melalui  aksi terornya</strong>, Allah berfirman:<br />
</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">إِنَّمَا جَزَاء  الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأَرْضِ فَسَاداً أَن  يُقَتَّلُواْ أَوْ يُصَلَّبُواْ أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم مِّنْ  خِلافٍ أَوْ يُنفَوْاْ مِنَ الأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ  فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ<br />
</span><span lang="EN">Sesungguhnya pembalasan  terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di  muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki  mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya).  Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di  akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. [Al-Maidah:33]</span></p>
<p><span lang="EN">Ibnu  Katsir mengatakan: kata Muharobah (memerangi) artinya melawan dan menyelisihi  dan kata ini tepat diberikan kepada kekafiran atau qoth’u toriiq (penyamun  jalanan) serta yang menakut-nakuti manusia dengan kejahatannya di jalanan,  demikian pula kata ‘merusak di bumi’ diberikan kepada berbagai macam kejahatan  dan kejelekan. [Tafsir Al-Quran Al-Adhim:2/50]</span></p>
<p><span lang="EN">Demikian pula kesimpulan  Asy-Syaukani tentang makna ‘kerusakan di muka bumi’: Dan telah diperselisihkan  tentang makna kerusakan di muka bumi dalam ayat ini, apakah itu? maka dikatakan  dalam sebuah pendapat bahwa itu ‘syirik’. Dikatakan dalam pendapat lain bahwa  itu ‘merampok atau mengganggu dengan kejahatan di jalan’, dan yang tampak dari  susunan kalimat Al-Quran bahwa kata itu tepat untuk semua yang dapat disebut  sebagai kerusakan di bumi, sehingga syirik adalah kerusakan di bumi, melakukan  kejahatan di jalan juga kerusakan di bumi, menumpahkan darah dan merenggut  kehormatan dan merampok harta juga kerusakan di muka bumi. Serta berbuat jahat  terhadap hamba Allah tanpa alasan yang benar juga kerusakan di bumi,  menghancurkan bangunan, menebang pepohonan dan juga mengeringkan sungai juga  kerusakan di bumi, dengan ini engkau tahu dengan tepat untuk menyebut ini semua  sebagai kerusakan di bumi…[Tafsir Fathul Qadir]</span></p>
<p><span lang="EN">Maka  dari itu, siapapun yang melakukan kejahatan sebagaimana kriteria di atas  <strong>maka ia berhak mendapatkan hukuman yang Allah sebutkan dalam ayat yaitu,  dibunuh, atau disalib, atau dipotong tangan dan kakinya secara menyilang, atau  diasingkan</strong>. Hal itu disesuaikan dengan besar kecilnya kejahatan yang  dia lakukan setelah dipelajari dan terbukti kejahatannya, hukuman tersebut  ditetapkan karena besarnya kejahatan yang dilakukan sehingga Allah menyebutnya  sebagai peperangan terhadap Allah dan Rasul terutama bila di antara korbannya  adalah muslimin.</span></p>
<p><span lang="EN">Dilihat  dari tiga masalah ini saja, maka tampak bahwa apa yang mereka (trio bomber dkk,  red) lakukan bukanlah masalah sepele, bahkan merupakan ‘kejahatan kriminal yang  amat besar’. Maka hukuman <strong>Hirobah</strong>-lah yang pantas bagi mereka  menurut hukum Islam, seperti yang tersebut dalam surat Al-Maidah di atas, bila  mereka konsekuen dengan tuntutan syari’at Islam, maka inilah syariat Islam bagi  para pelaku kejahatan semacam ini.</span></p>
<p><span lang="EN">Dari  pemaparan secara singkat di atas, <strong>maka sangat keliru, bahkan salah  besar, ketika seseorang berani memvonis surga atau syahid untuk mereka dengan  amalan tersebut. Dan kesalahan vonis ini bukan hanya untuk mereka, bahkan untuk  siapapun, kecuali bila ada wahyu ilahi yang menerangkan kepada kita bahwa  seseorang syahid atau pasti masuk surga.</strong></span></p>
<p><span lang="EN">Maka  berhati-hatilah, wahai kaum muslimin, untuk bicara tanpa ilmu  !</span></p>
<p><span lang="EN">Wallahu  Ta’ala A’lam bish Shawab.</span></p>
<p><span lang="EN">(Dikutip dari tulisan Al  Ustadz Qomar ZA, Lc yang dikirim via Email)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN">sumber:  www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1365</span></p>
<p><!-- .entry-content --></p>
<h4></h4>
</div>
<p><!-- #post-ID --></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/r3ndr1.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/r3ndr1.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/r3ndr1.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/r3ndr1.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/r3ndr1.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/r3ndr1.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/r3ndr1.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/r3ndr1.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/r3ndr1.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/r3ndr1.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/r3ndr1.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/r3ndr1.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/r3ndr1.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/r3ndr1.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=45&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://r3ndr1.wordpress.com/2008/11/24/jangan-gampang-memvonis-mati-syahid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/454d5c90c00c5c4a78b6ffc247263b7f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">r3ndr1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tawhid First</title>
		<link>http://r3ndr1.wordpress.com/2008/07/10/tawhid-first/</link>
		<comments>http://r3ndr1.wordpress.com/2008/07/10/tawhid-first/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 09:31:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yovi rendri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://r3ndr1.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[الشيخ العلامة المحدث ربيع بن هادي بن محمد عمير المدخلي التوحيد أولاً محاضرة ألقيت في ذي القعدة من عام 1423هـ بسم الله الرحمن الرحيم http://ashthy.wordpress.com/2007/11/18/memulai-dakwah-dengan-tauhid-solusi-tepat-memperbaiki-ummat/ Memulai dakwah dengan tauhid, Solusi tepat memperbaiki Ummat Adapun setelahnya; Judul pertemuan pada malam yang diberkahi ini –seperti yang kalian dengar- adalah: Tauhid Terlebih Dahulu. Mengapa tauhid didahulukan? Karena ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=13&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="width:396pt;border-collapse:collapse;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="528">
<tbody>
<tr style="height:86.25pt;">
<td style="width:100%;height:86.25pt;padding:0;" width="100%"></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:100%;padding:0;" width="100%"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:&quot;" dir="rtl" lang="AR-SA">الشيخ العلامة   المحدث ربيع بن هادي بن محمد عمير المدخلي</span></strong></p>
<p style="text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:13.5pt;color:#003300;" lang="AR-SA">التوحيد     أولاً<br />
</span></strong><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:&quot;color:#003300;" lang="AR-SA">محاضرة ألقيت في ذي القعدة من عام 1423هـ</span></strong></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:20pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">بسم     الله الرحمن الرحيم</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN"><a href="http://ashthy.wordpress.com/2007/11/18/memulai-dakwah-dengan-tauhid-solusi-tepat-memperbaiki-ummat/"><span>http://ashthy.wordpress.com/2007/11/18/memulai-dakwah-dengan-tauhid-solusi-tepat-memperbaiki-ummat/</span></a></span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="EN">Memulai dakwah dengan tauhid, Solusi tepat memperbaiki Ummat</span></strong></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Adapun setelahnya;<br />
Judul pertemuan pada malam yang diberkahi ini –seperti yang kalian dengar- adalah: Tauhid Terlebih Dahulu. Mengapa tauhid didahulukan? Karena ini merupakan manhajnya Allah, yang disyariatkan kepada segenap para Nabi ‘alaihimushalatu wassalam. Tak seorang Rasulpun yang mendakwahi umatnya melainkan mengawalinya dengan tauhid, walaupun dakwah-dakwah mereka (di samping dakwah tauhid) mencakup semua kebaikan bagi manusia.<span id="more-13"></span> Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Sesungguhnya tidak ada seorang nabipun sebelumku melainkan wajib baginya untuk menunjukkan kebaikan yang dia ketahui kepada ummatnya dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang dia ketahui.” (Riwayat Muslim di dalam Kitabul Imarah, Bab Wujubul Wafa’ bi Bai’atil Awal fal Awal no: 1844 dan selainnya)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Maka para Nabi membawa setiap kebahagiaan dan perkara yang membahagiakan manusia, akan tetapi mereka memulai dari perkara yang terpenting, kemudian perkara penting berikutnya.<br />
Barangsiapa memperhatikan Al Qur’an, niscaya dia akan melihat bahwa dakwah setiap Nabi memiliki kesamaan yang sangat erat dalam permasalahan pokok yang agung; di antaranya (kesamaan dalam masalah, ed.) tauhid, penetapan tentang kenabian, penetapan adanya hari kebangkitan dan pembalasan.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Namun inti tema dakwah mereka dan menjadi sebab pergolakan antara mereka dengan umatnya adalah tauhid, yaitu tauhidul ibadah (mengesakan ibadah hanya kepada Allah). Karena tidak akan engkau lihat di dalam Al Qur’an, pertentangan antara nabi dengan ummatnya dalam perkara Tauhid Rubiyyah (keyakinan bahwa hanya Allah sebagai pencipta, pemberi rezki dan pengatur alam semesta) dan Tauhid Asma’ wa Sifat. Tiada keraguan sedikitpun bahwa mereka mendustakan dan mengingkari hari kebangkitan, akan tetapi yang sangat mereka dustakan adalah dakwah kepada pemurnian agama hanya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Maka engkau lihat ini adalah dakwah seluruh para Nabi.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Sebagaimana Allah terangkan dalam kitab-Nya, perkara yang didahulukan oleh para Nabi adalah memperbaiki Tauhid, memperbaiki kekurangan pada Tauhidul Ibadah. Karena yang dilakukan pertama kali oleh Syaitan ketika merencanakan tipu dayanya kepada bani Adam –setelah dia mengatur tipu dayanya kepada Adam dengan menjerumuskannya memakan buah pohon (di surga)- adalah tipu daya dalam perkara Tauhidul Ibadah.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Di kala syetan membujuk kaum Nuh ‘alaihissalam agar menggantungkan gambar orang-orang shaleh dan membuat patung-patung mereka, maka merekapun melakukannya. Tatkala generasi (pertama) yang mengenal orang-orang shaleh itu telah tiada, syetan datang kepada mereka pada kesempatan yang lain seraya berkata: “Tidaklah ditancapkan patung orang-orang shaleh ini melainkan untuk diibadahi.”</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Nuh ‘alaihissalam senantiasa mendakwahi kaumnya selama 950 tahun, sebagaimana Allah kisahkan dalam kitab-Nya yang mulia. Jadilah kaum Nuh sebagai kaum yang jelek, paling dhalim dan paling melampaui batas. Nuh ‘alaihissalam mendakwahi kaumnya selama 950 tahun namun tidaklah beriman kepadanya kecuali sedikit. Berapa banyak generasi dan abad yang telah dilalui oleh Nuh? Sembilan ratus lima puluh tahun. Toh demikian tidaklah menambah mereka kecuali penentangan dan kesombongan. Maka Nuh mendoakan kejelekan, sehingga Allah Tabaraka wa Ta’ala membinasakan mereka. Dan Allah mengeluarkan dari anak cucu Nuh, berupa anak cucu yang tunduk kepada Allah. Namun syetan menyambar mereka dengan sangat cepat, kemudian menjerumuskan mereka ke dalam lumpur kesyirikan terhadap Allah ‘azza wa jalla.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Demikianlah. Setiapkali datang seorang Nabi, yang dengan diutusnya Nabi tersebut Allah selamatkan Bani Adam, maka tidaklah waktu berlalu sebentar saja kecuali syetan akan datang dan mengelabuhi dengan tipudaya seperti yang dilakukan terhadap kaum Nuh. Syetan akan senantiasa melancarkan tipudaya ini sampai hari kiamat.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Maka sepantasnya bagi siapapun yang siap berdakwah kepada Allah ‘azza wa jalla agar menjadikan dakwahnya seperti dakwahnya para Nabi ‘alaihimussalatu wassalam disaat menghadapi berbagai tipudaya syetan terhadap bani Adam ini, yaitu dengan caranya para Rasul. Hadapilah beragam tipudaya ini dengan mengawalinya melalui perbaikan Tauhid Masyarakat, baik masyarakat Islam atau non Islam, karena telah terdapat penyelewengan yang sangat jauh dalam perkara (tauhid) ini.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Da’i yang ikhlas, yang ingin menelusuri jejak para Nabi dan ingin memperbaiki keadaan umat dengan perbaikan yang benar, yang pertama harus dia obati adalah penyelewengan dalam perkara tauhid. Apabila engkau melihat seorang da’i berjalan di atas petunjuk dan bimbingan, dan apabila engkau melihat ada seorang da’i berbelok ke kanan, ke politik, atau ke yang lainnya, maka tidak ragu bahwa orang ini berada dalam kebimbangan. Tidak ragu lagi, dia melenceng dari dakwah yang disyariatkan dan diwajibkan oleh Allah terhadap seluruh Nabi, mulai Nabi yang pertama hingga Nabi yang terakhir. Allah ‘azza wa jalla berfirman:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap ummat seorang Rasul (agar menyerukan:) beribadahlah kepada Allah dan Jauhilah Thoghut.” (An Nahl: 36)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Apakah yang dimaksud dengan thoghut di ayat ini? Karena saat ini ada yang memaknakan thoghut pada ayat ini berbeda dengan makna thoghut yang dimaukan oleh Al Qur’an.<br />
“Jauhilah thoghut” adalah: (Jauhilah) peribadahan kepada berhala-berhala dan jauhilah perbuatan syirik kepada Allah ‘azza wa jalla.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Maka perbaikilah (ummat ini) dengan menghancurkan thoghut-thoghut dalam jiwa manusia. Setelah baik aqidah ummat manusia, maka akan baik sisi kehidupan mereka. Jika seseorang ridho Allah sebagai Rabb dan sesembahannya yang benar, dan tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia, niscaya dia tidak akan tunduk kepada undang-undang timur dan barat selama-lamanya, karena ia ridho Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya. Sehingga ia akan membuang undang-undang dan peraturan-peraturan buatan manusia.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Adapun kalau engkau mengawali (perbaikan Ummat) dengan hanya memperbaiki masalah politik dan menyibukkan pemuda dengan masalah seperti ini, berarti engkau menutupkan tabir terhadap dakwah para Nabi. Ini merupakan kesalahan yang fatal yang menimpa para da’i. Yang segera mereka dapatkan –disebabkan dakwah yang seperti ini- adalah dampak negatif. Bukanlah aku orang yang- demi Allah- lebih tahu, lebih sayang, dan lebih cemburu dibandingkan Allah dan Rasul-Nya ‘alaihishshalatu wassalam dari apa yang aku kira.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Jalan untuk perbaikan ummat merupakan perkara yang sangat jelas. Ummat di setiap zaman dan ummat Islam dari abad ke abad membutuhkan perbaikan akidah, karena kerusakan pada masalah aqidah merayap ke dalam tubuh kaum muslimin di setiap abad, baik dalam tauhid asma’ wa sifat –yang aku kira ummat-ummat sebelumnya tidak menyeleweng- maupun dalam hal tauhid ibadah. Apabila engkau berjalan mengelilingi negara-negara di dunia, negara manapun yang engkau jumpai, niscaya engkau akan melihat penyelewengan aqidah mereka dan melihat amalan-amalan mereka di sekeliling kuburan. Yang mana mereka seharusnya malu terhadap Yahudi, Nashara dan para penyembah patung.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Kenapa kita berpura-pura bodoh terhadap perkara ini semua, dan pergi mendidik para pemuda dengan pendidikan politik saja. Sedangkan kesyirikan di hadapan mereka. Kesyirikan yang diperangi para nabi, yang telah menghabiskan masa hidup mereka demi memerangi kesyirikan. Dan Allah membinasakan banyak ummat adalah karena (ummat tersebut) menyelisihi para nabi dalam masalah ini, bukan karena masalah politik atau yang lainnya. Allah membinasakan mereka karena menyelisihi para nabi dalam masalah ini.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Wahai para pemuda Islam, janganlah sampai kalian tertipu dengan roti politik, ambisi dan penggodanya. Hendaklah kalian memegang teguh manhaj/metode para nabi.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Sehingga engkau akan melihat, siapa saja yang memperbaiki (ummat) dengan jujur dan ikhlas, serta mengetahui Islam dengan sebenarnya, maka dia akan mengawali pengobatannya pada perkara (tauhid) ini.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Contohnya Ibnu Taimiyah, ia datang dalam keadaan lumpur khurafat dan kebid’ahan-kebid’ahan sudah mengendap di tengah-tengah ummat Islam, baik masyarakatnya maupun pemerintahnya. Maka beliau mengobati berbagai penyelewengan yang berupa kesyirikan (dalam ibadah) dan penyelewengan dalam masalah Asma’ dan sifat. Datang pula Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, tokoh dan mujaddid sejati kedua setelah Ibnu Taimiyah. Beliau memulai berdakwah seperti yang dilakukan para Nabi dan orang-orang yang melakukan perbaikan.<br />
Sedangkan orang-orang yang membawa berbagai macam bendera dakwah ini (politik dan sebagainya), dan tidak komitmen serta tidak mengetahui perkara tauhid, tidak mengetahui bahaya syirik serta tidak mengetahui dengan jelas seluruh perkara ini, mereka mendidik dalam lingkungan yang tidak disirami aqidah. Mereka mendapati pergolakan politik yang terjadi antar partai, sehingga mereka membentuk partai-partai (baru) yang membawa misi-misi Islam (namun) tidak mengenal dakwah para nabi. Maka mereka datang seraya menerapkan politik mereka kepada para pemuda negeri tauhid (Saudi Arabia) dalam keadaan para pemudanya tidak mengetahui tauhid dan bahaya syirik. Sangat disayangkan dakwah mereka yang menyelisihi manhaj para nabi ‘alaihimushshalatu wassalam tersebar di negeri tauhid.<br />
Demi Allah ini adalah perang pemikiran terhadap markas anak-anak tauhid. Sudah sekian tahun kita berusaha memberantasnya, agar keadaan kembali seperti semula. Akan tetapi para pemuda tertipu –sangat disayangkan- mereka terikat dengan orang-orang yang membawa lari mereka ke tempat yang jauh dari kedudukan para Rasul ‘alaihimushshalatu wassalam, serta kedudukan orang-orang yang melakukan perbaikan. Wajib atas para pemuda untuk sadar dan mengetahui pentingnya tauhid.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Demi Allah kami tidak melihat adanya wala’ (loyalitas) dan bara’ (berlepas diri) pada mayoritas para pemuda di atas tauhid. Engkau akan dapati mayoritas pemuda berloyalitas kepada para pemuja kuburan dan musuh tauhid serta yang memerangi para pembawa bendera tauhid dan putra-putra tauhid. Orang-orang bodoh itu tidak mengerti tentang tauhidullah dan dakwah para nabi, serta tidak mengetahui kedudukan dakwah ini. Tatkala Inggris mendirikan partai-partai di negeri barat dan negeri-negeri kaum muslimin, berupa partai ba’ts, komunis, sosialis dan sebagainya. Maka berkatalah mereka para “Politikus Islam”: “Kita harus membentuk partai-partai politik.” Dan mereka masuk ke pergolakan antar parpol dan pemerintah. Seluruhnya berkisar pergolakan politik, sedangkan Islam, Islam dan Islam hanya sebagai simbol saja. Mereka mendapati sekulerisme, komunisme, ba’tsi terpampang di negeri-negeri Islam, sehingga mereka mengatakan: “Kita mengangkat syiar-syiar Islam,” maka merekapun mengangkat syiar-syiar Islam namun kosong isinya. Demi Allah kosong dan mati, karena kosong dari perhatian terhadap tauhid serta permusuhan terhadap syirik.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Maka engkau akan melihat sumber-sumber dakwah seperti ini, yang memerangi negeri ini, terlumuri oleh syirik dan tidak menghasilkan perubahan sedikitpun di negeri-negeri arab. Sampai hari-hari ini telah mati pentolan-pentolan pencetus dakwah semacam ini, di atas khurafat dan kebid’ahan. Bahkan mereka pergi ke kuburan-kuburan dengan mempersembahkan nadzar-nadzar, bunga-bunga dan ruku’ kepada kuburan-kuburan ini. Syirik menurut mereka tidak berbahaya selama-lamanya, tauhid tidak ada nilainya, bahkan memandang bahwa tauhid memecah belah ummat. Kenapa putra-putri tauhid tidak memikirkan tipu daya dan petaka ini, yang membuat mereka bercerai-berai, bertikai, dan tercabik-cabik karena dakwah yang kosong (palsu) ini.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Dan tidaklah Kami utus seorang Rasulpun sebelum engkau, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Aku. Maka ibadahilah Aku.” (Al Anbiya: 25)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">La ilaha illallah menurut pengertian mereka adalah La Hakima illallah (Tidak ada hakim kecuali Allah). Perkara yang paling khusus dari kekhususan Uluhiyyah (menurut mereka) adalah tidak ada hakim kecuali Allah. Tafsir semodel ini akan membuatmu memandang kesyirikan di depanmu seakan engkau tidak melihat apa-apa. Syirik yang diperangi para Rasul akan dianggap sepele. Tafsir seperti ini adalah penyimpangan terhadap makna La ilaha illallah.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Kemudian dalam rangka tipu daya, mereka membagi tauhid menjadi empat (Tauhid Rububiyyah, Asma wa Sifat, Uluhiyyah, ditambah satu dengan Tauhid Hakimiyyah). Setelah beberapa hari berjalan, mereka menyelundupkan makna-makna yang mendasar terhadap La ilaha ilallah berupa tauhid Hakimiyyah. Pahamilah tipudaya-tipudaya politik!</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">La ilaha illallah maknanya adalah La ma’buda bihaqqin illallah (Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah). Apa saja ibadah itu? (Di antaranya ialah) sholat, puasa, zakat, haji, menyembelih kurban, nadzar, tawakkal, pengharapan, cinta, takut (dari adzab Allah). Ini semua hanya dipersembahkan kehadirat Allah. Tidak boleh diperuntukkan kepada selain-Nya.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Adapun tidak ada hakim kecuali Allah, maka ini tidak masuk ke dalam makna la ilaha illallah selama-lamanya. Karena makna La ilaha illallah adalah tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah. ‘Abid dan ma’bud, Allah sebagai ma’bud (Yang diibadahi), sedangkan para makhluk adalah ‘abid (yang beribadah).</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Ibadah adalah perbuatan para makhluk. Pahamilah ini!! Ibadah adalah perbuatan para makhluk untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dia ruku’, sujud, tunduk, menangis, bertawakkal, mengharap dan takut. Ini semua adalah sifat-sifat dan perbuatan para makhluk, bukan sifat Al Kholiq (Pencipta), Allah Maha Tinggi dari yang demikian itu. Maka jika kita mengatakan: tidak ada hakim kecuali Allah, berarti sama maknanya dengan: Tidak ada yang menyembah kecuali Allah (La ‘abida illallah). Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari yang demikian itu. Pahamilah, ini adalah penafsiran yang bathil. Yang menjungkirbalikkan kaum muslimin adalah tafsiran-tafsiran rusak terhadap La Ilaha Illallah. Demi Allah, kaum muslimin terjungkir balik dengan adanya tafsiran-tafsiran bathil dari kalangan ahlul kalam, filsafat dan selain mereka.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Mereka mengatakan La ilaha Illallah maknanya adalah La Kholika Illallah, La Raziqa Illallah, La Muhyi Illallah La Mumita Illallah: “Tidak ada Yang Menciptakan kecuali Allah, Tidak ada Pemberi Rezeki kecuali Allah, Tidak ada Yang Menghidupkan kecuali Allah, Tidak ada Yang Mematikan kecuali Allah.” Engkau akan lihat (orang yang menafsirkan La Ilaha Illallah dengan tafsiran salah tadi) dia menyembah kuburan, menyembelih kurban, nadzar dan sujud kepadanya. Dia akan berdalih:<br />
“Wahai saudaraku, aku tidak menyembahnya. Aku tidak meyakini bahwa dia bisa menolak madhorot dan mendatangkan manfaat, karena yang menolak madhorot dan memberi manfaat adalah Allah. Aku tidak mengatakan bahwa ia Pencipta, karena aku yakin bahwa Pencipta adalah Allah.”</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Akan tetapi dia tidak paham bahwa perbuatan-perbuatan yang dia lakukan untuk taqarrub/ mendekatkan diri kepada orang-orang mati adalah ibadah. Amalan-amalan orang itu menafikan La Ilaha Illallah. Mereka memahami La Ilaha Illallah dengan pemahaman yang jelek, salah dan sangat jauh dari inti makna La Ilaha Illallah yang diemban oleh para Nabi. Sehingga mereka menyembelih dipersembahkan kepada selain Allah, nadzar dan istighotsah kepada selain Allah, serta mereka terjerumus di berbagai bentuk-bentuk kesyirikan, karena apa? Karena kebodohan mereka terhadap makna La Ilaha Illallah.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Lalu ketika datang perpolitikan –di masa sekarang ini- digabungkanlah makna yang baru (yakni La Ilaha Illallah) kepada tafsiran-tafsiran yang rusak di atas, maka manusia bertambah binasa.<br />
Demi Allah, seandainya bukan karena sebab sisa-sisa kekuatan dakwah Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dan manhaj Salafy –di negeri ini- niscaya sekarang engkau akan melihat penduduk negeri ini sujud kepada kuburan-kuburan. Akan tetapi inilah yang menjaga mereka. Namun sewaktu-waktu –jika tidak dipertahankan perkara ini- bisa berbahaya. Masalah ini bukan perkara remeh, sehingga kita dapat tidur, dan membiarkan orang-orang mempermainkan akal-akal para pemuda, lalu berbasa-basi serta mendiamkan mereka. Akan tetapi hendaknya kita memerangi dan memblokir penyelewengan politik ini yang digunakan untuk menghancurkan negeri ini, negeri tauhid.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Muhammad bin Abdul Wahhab, saudara-saudaranya, putra-putranya dan pembelanya telah mengorbankan segala apa yang mereka punyai untuk memperbaiki makna La ilaha illallah. Maka datanglah politik jahiliyyah ini hendak menghapus pengorbanan besar ini dan ingin meletakkan penggantinya dengan makna-makna politis dari orang-orang yang tidak mengenal dakwah para nabi, bahkan memerangi, merendahkan kedudukannya dan memalingkan manusia dari dakwah para nabi ini. Karena memang para politikus adalah para khurafiyun (ahli khurafat) dan kuburiyun (penyembah kuburan). Para politikus yang meletakkan perkara-perkara ini mayoritasnya adalah para kubury dan khurafy musuh-musuh dakwah Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab. Karena itulah mereka membuat aliran-aliran yang berbahaya untuk melenyapkan dakwah ini.<br />
Demi Allah mereka telah mengikat anak-anak negeri ini, dan telah mengerahkan kesungguhan serta makar yang tidak pernah mereka kerahkan sebelumnya di seluruh belahan dunia manapun. Engkau dapati anak-anak negeri ini menebarkan dakwah-dakwah ini ke seluruh alam dan mempersiapkan harta-harta untuk itu. Seandainya diperuntukkan di jalan Allah, niscaya akan berubah keadaan mayoritas para khurafiyin.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Demi Allah, seandainya tidak ada perang makar ini, niscaya engkau akan melihat alam islami berbeda keadaannya dengan keadaan di mana mereka hidup sekarang ini, berupa kerendahan dan kelemahan. Karena manusia lebih dahulu mengenal dakwah Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Orang-orang Shufi, Rafidhah dan ahlud dholal lainnya telah membuat makar terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab. Daulah (pemerintahan) barat dan timur telah membuat makar terhadap dakwah Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab. Tidaklah mustahil, pada orang-orang yang memerangi negeri ini telah ada kesepakatan untuk memerangi dakwah ini. Kesepakatan politik Brithonia (Inggris, ed.) Musuh besar dakwah tauhid ini. Di India dan Pakistan, mereka perangi dakwah ini lebih dari 100 tahun. Tidak pernah mereka memerangi dakwah manapun semisal perang yang dilancarkan kepada dakwah ini.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Oleh karena itu engkau lihat, tokoh-tokoh dakwah politik tidak ada tempat bernaung kecuali di Inggris, saling membantu memerangi negeri tauhid ini. Inggris menaungi mereka karena prinsip-prinsip politik mereka ini dan mereka menertawakan anak-anak kita dan memperdagangkan dakwah-dakwah penuh dosa yang memerangi dakwah tauhid. Aliran-aliran dan tipu daya ini nyaris menyirnakan dakwah tauhid.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia. Sungguh aku pernah berziarah ke Yaman 13 atau 14 tahun sebelum ini. Dinukilkan kepadaku dari salah seorang yang memerangi (dakwah ini), dia berkata:<br />
“Sungguh aku telah melumatkan dakwah salafiyyah di tempat yang paling dalam di dalam rumahnya.”</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Demikian mereka datang untuk melumatkan dakwah salafiyyah di dalam rumahnya, dan dia memandang bahwa mereka telah berhasil untuk melaksanakan target mereka.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Wahai anak-anak tauhid! Jangan sampai orang-orang khurafy dan kubury menertawakan kalian. Demi Allah seandainya mereka mengimani tauhid dan mengimani dakwah para nabi dan mengetahuinya dengan sebenar-benarnya, niscaya mereka tidak memulai (dalam dakwah) melainkan tauhid dan memulai memperbaiki penduduknya. Karena sangat banyak sekali dari para penduduk yang tenggelam dalam kesyirikan dan kebid’ahan, dan mereka saling menopang untuk menguatkan dan mengokohkan khurafat-khurafat ini.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Pergilah ke Mesir, negeri cikal bakal dakwah Ikhwanul Muslimin. Pergilah bertepatan dengan hari raya Al Badawi, niscaya engkau akan lihat pimpinan-pimpinan Ikhwanul Muslimin ikut serta pada perayaan-perayaan syirik ini yang orang-orang yahudi sudah bosan dengan acara-acara itu. Pergilah ke Pakistan sumber dakwahnya Maududi, niscaya engkau akan lihat petaka dan berbagai bentuk kesyirikan dari kalangan pengagung berhala khurafiyin dan kuburiyin dan selain mereka. Engkau tidak akan lihat dakwah Maududi menggerakkan orang yang diam untuk memberantas kekufuran dan kesyirikan ini. Dan ia hanya –Barakallahu fik- menyibukkan manusia dengan politik.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Kemudian politik semacam ini membuat mereka saling berkoalisi dengan para komunis. Bersaudara dengan Rafidhah dan golongan-golongan syirik demi mencapai target-target politik mereka. Belum juga kita sadar, telah lewat di hadapan kita teriakan-teriakan, dakwah-dakwah dan peringatan-peringatan, namun hal itu tidak menambahn mayoritas kita melainkan kesombongan dan lari karena bangga dengan khurafat dan kebathilan yang dipunyai orang-orang ini.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Bacalah tafsiran-tafsiran mereka terhadap La ilaha illallah, dengan makna “Tidak ada pencipta, tidak ada pemberi rezeki, tidak ada yang wujud, tidak ada yang menerangkan dan tidak ada yang menetapkan dan menambahkan, tidak ada yang berhukum kecuali Allah.” Sehingga bertambah jauhlah manusia dari mentauhidkan Allah dan dari dakwah para Nabi ‘alaihimushshalatu wassalam. Oleh sebab itulah mereka meremehkan tauhid dan setengah jam untuk mempelajari tauhid, 10 menit cukup untuk Tauhid. Semua ini memalingkan manusia dari Tauhid dan menganggap enteng bahkan merendahkannya. Permainan apa ini? Da’i besar yang menyeru kepada kesesatan dan penyelewengan politik ini mereka juluki da’i dakwah para nabi. Dan Allah mensucikan mereka (para nabi) dari sangkaan mereka. Sedangkan da’i tauhid mereka juluki para budak dan jasus (intel). Subhanallah! Para da’i Tauhid mereka juluki dengan pembantu dan jasus?!</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Tuduhan-tuduhan ini muncul dari para komunis dan sekuleris di negeri-negeri lain pada masa penjajahan Inggris dan mereka tularkan ke negeri-negeri tauhid sampai ke para Ulama Tauhid. Maka para Ulama Tauhid (menurut mereka) sebagai para Jasus (intel) dan para buruh. Dan pemerintahnya adalah kafir. Pemerintahan Islam yang menerapkan Kitabullah dan Sunnah Ar Rasul shallallahu’alaihi wa sallam mereka anggap kafir dan dibidik dari setiap tempat. Seandainya Saddam, Khumaini dan Musuh apapun datang untuk memerangi negeri ini, niscaya mereka berdiri di sampingnya. Kenapa? Karena mereka bodoh tentang Tauhid, masakin (orang-orang yang perlu dikasihani)! Mereka tidak mengenal kedudukan Tauhid.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Ya Akhi (wahai saudaraku)! Tauhid yang dipelajari di SD, SMP, SMA dan Universitasmu adalah nikmat yang agung. Ya Akhi, saat ini yang seperti itu (kecuali di sini, ed.) tidak didapati di seluruh dunia dan juga penghormatan terhadap para Ulama Tauhid. Ya Akhi apa yang engkau inginkan? Ya akhi, demi Allah ada kesalahan-kesalahan penguasa negeri ini maka benarkanlah dengan lemah lembut.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Adapun kalau engkau anggap mereka kafir lantas memerangi mereka. Sedangkan orang (ulama) yang menasehati mereka (para penguasa) dan berhubungan dengan mereka engkau anggap sebagai buruh dan intel. Ya Allah! Ini adalah kebinasaan demi Rabb langit. Demi Allah ini adalah tipu daya para musuh Allah. Mereka ambil anak-anak ingusan yang masih di gendongan para ibu mereka, kemudian menanamkan pemikiran-pemikiran jelek dan kotor yang meremehkan tauhid dan orang-orangnya. Demi Allah, sesungguhnya kami tahu bahwa mereka yang memerangi (negeri ini) mendatangkan seorang yang miskin (dunia dan akhiratnya) ini dari Rusia, pertama kali yang mereka ajarkan kepadanya adalah mencela ulama dan mengkafirkan pemerintahan negeri ini. Dia (seorang miskin ini) datang dalam keadaan tidak mengetahui Tauhid, pokok-pokok Islam dan tidak pula cabang-cabangnya. Awal mula yang mereka ajarkan adalah menanamkan kebencian terhadap akidah tauhid dan orang-orangnya. Semua ini tipudaya. Sekarang, siapakah yang memahami ucapan ini? Di sana ada orang-orang yang tidak memahami ucapan ini. Wahai saudara-saudaraku, pelajarilah dan perhatikanlah dakwah para nabi, pelajarilah Al Qur’an.<br />
Aku mencukupkan sekian dalam pembahasan tauhidul ibadah. Aku menginginkan kalian untuk membaca Al Qur’an. Al Qur’an penuh berisi pengagungan terhadap Allah ‘azza wa jalla. Seluruh pengagungan ini membimbingmu untuk beribadah hanya kepada Allah, membimbingmu untuk mengerti makna La ilaha illallah dengan sebenar-benarnya sehingga engkau akan memuliakannya.<br />
Ayat-ayat Al Qur’an ini dan ayat-ayat-Nya yang kauni (yaitu berupa para makhluk) dibawakan Allah untuk menerangkan kemuliaan dan keagungan-Nya. Seluruh ayat itu bertujuan agar engkau mengibadahi-Nya dengan Tauhid Ibadah (memurnikan Ibadah). Seluruh dalil-dalil dan bukti-bukti ini adalah bantahan bagi orang yang melenceng dari Tauhidul Ibadah. Inilah dalil-dalil dan bukti-buktinya, bacalah firman Allah ‘azza wa jalla:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Wahai manusia Ibadahilah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.” (Al Baqarah: 21)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Kemudian Dia membawakan dalil-dalil untuk menerangkan bahwasanya Allah adalah satu-satunya sesembahan Yang Haq, yang mengharuskanmu untuk mengibadahinya saja. Dia membawakan dalil-dalil dan menerangkan bahwasanya Dialah yang mencurahkan nikmat-nikmat kepadamu dan kepada manusia.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">(“Ibadahilah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian”).<br />
Dialah yang menciptakanmu dari air mani kemudian dari ‘alaqah, lantas memberikanmu pendengaran dan penglihatan serta akal.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">(“Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.”)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">(“Yang telah menjadikan bagi kalian bumi sebagai hamparan.”)<br />
Ya Allah!</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Dan langit sebagai atap dan menurunkan dari langit air, maka keluarlah dengan air itu berbagai buah-buahan sebagai rezeki bagi kalian, maka janganlah kalian menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu dalam keadaan kalian mengetahui (itu semua).” (Al Baqarah: 22)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Demi Allah seandainya engkau sodorkan ayat ini kepada mereka –orang-orang kafir-, niscaya mereka akan mengatakan kepadamu, “Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Pencipta dan Pemberi Rezeki.” Semua orang memahami ucapan ini, akan tetapi mayoritas mereka menentang dan enggan untuk berpegang teguh terhadap tauhidul ibadah, yang dengannya diutus seluruh para Nabi. “Dan Kami turunkan dari langit air, maka keluarlah dengan air itu berbagai macam buah-buahan sebagai rezeki bagi kalian.” Berapa banyak nikmat dengan sebab turunnya air hujan, biji-bijian, kacang-kacangan, dan buah-buahan, yang engkau hidup dan berlalu dengan menikmatinya, lalu engkau pergi menyembah selain-Nya.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Sekarang seorang muslim hidup di tengah berbagai kenikmatan ini, namun dia mendatangi dan tunduk kepada Badawi dan menjadikannya sebagai sekutu bagi Allah, kepada Rifa’i, ‘Abdul Qadir, Si Fulan dan Si Fulan. Engkau dapati dia terjerumus kepada syirik dalam ibadah dan Rububiyyah sehingga meyakini bahwa para wali mengetahui perkara ghaib dan mempunyai pengaruh terhadap alam semesta.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Keyakinan semacam ini tidaklah bercokol pada benak pikiran Abu Lahab dan Abu Jahal, kok bisa-bisanya masuk kepada kaum Muslimin? Yang memasukkannya adalah para zindik. Karena tidak ada agama yang lebih dihinakan dibanding semua agama oleh Yahudi, Nasrani, Majusi dan penyembah berhala daripada agama yang dibawa oleh Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Maka tidaklah mereka ini dengki terhadap suatu ajakan yang melebihi kedengkiannya terhadap ajaran Islam. Mulailah orang-orang Majusi, Yahudi, orang-orang zindik dari kalangan Yahudi dan Nashara serta selain mereka membuat makar terhadap Islam. Mereka mendatangi kaum muslimin dengan membawa akidah-akidah keberhalaan –na’udzubillah- terkadang keyakinan itu lebih parah dari apa yang ada pada penyembah berhala. Berupa keyakinan bahwa para wali mengetahui perkara ghaib dan mengatur alam semesta.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Apabila engkau membaca biografi ‘Abdul Qadir –yang ada pada orang-orang sesat itu- engkau akan dapati dia lebih agung daripada Allah ‘azza wa jalla. Dan apabila engkau baca biografi Badawi dan Rifa’i, engkau akan dapati keduanya lebih agung dari Allah ‘azza wa jalla. Maha Tinggi dan Maha Besar Allah dari apa yang dinyatakan orang-orang yang zholim. Dari mana keyakinan tersebut datang? Datang dari bisikan para zindik dari kalangan Yahudi dan Nashara. Dan juga karena ahlul kalam dan para filosof memalingkan kaum Muslimin dari makna la ilaha illallah, serta makna-makna tauhid. Dongeng-dongeng ini laris yang terkadang orang-orang Yahudi dan Nasrani meremehkannya, demi Allah laris di tengah-tengah para khurafy.<br />
Kemudian yang semisal dengan ayat-ayat ini, firman Allah ‘azza wa jalla:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (Ali Imran: 190)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan dalam keadaan meletakkan lambung-lambung mereka dan memikirkan penciptaan langit serta bumi (seraya mengatakan): Wahai Rabb kami, tidaklah Engkau ciptakan ini sia-sia, Maha Suci Engkau dan jagalah kami dari adzab neraka.” (Ali Imran: 191)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Banyak ayat yang menerangkan keagungan Allah dan bahwasanya Dia sajalah yang berhak untuk diibadahi. Karena apa yang engkau lihat baik di atas, di bawah, di kanan, dan kirimu berupa gunung-gunung, langit-langit, bintang-bintang, planet-planet, seluruhnya adalah ciptaan Allah dan diatur oleh-Nya. Allah tundukkan semuanya untuk membantumu agar engkau memurnikan ibadah, yang tujuan Allah menciptakanmu adalah untuk itu (ibadah).</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Allah datangkan setiap apa yang kalian minta dan jika kalian hitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kalian tidak mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia sangat zhalim dan kufur.” (Ibrahim: 34)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Allah membawakan kepadamu ayat-ayat dan bukti-bukti ini, namun engkau masih saja bingung di kegelapan kejahilan, lantas datang seorang yang mulhid (menyeleweng keyakinannya), zindik dan politikus, penipu untuk memalingkanmu dari dakwah tauhid. Akhirnya engkau mengekor di belakangnya.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Saudara-saudara perhatikan Al Qur’an dan tadaburilah! Al Qur’an memupuk keimanan, Al Qur’an menebar ketauhidan. Jika engkau memahami Al Qur’an, niscaya engkau akan menjadi pengikut para Rasul dalam agama, akidah dan manhaj mereka. Allah ‘azza wa jalla berfirman:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Allah telah mensyariatkan bagi kalian agama, sebagaimana yang telah Allah wasiatkan kepada Nuh dan yang Kami wahyukan kepadamu serta apa yang telah Kami wahyukan kepada Ibrahim, Musa dan Isa agar kalian menegakkan agama dan janganlah bercerai-berai padanya.” (Asy Syura: 13)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Agama adalah tauhid. Tegakkanlah tauhid ini. Apabila engkau telah menegakkan tauhid, berarti akan lurus segala sesuatu yang ada pada dirimu. Dan apabila engkau memuliakan tauhid, wala (loyalitas), dan bara’ (berlepas diri) di atasnya, maka akan lurus segala sesuatu yang ada pada dirimu. Janganlah engkau letakkan tauhid di keranjang sampah dan wala’ dan bara’ di atas selainnya.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Aku mengetahui mayoritas manusia mengetahui tauhid namun dengan pengertian yang campur baur, sehingga dicampakkan di kotak sampah. Sehingga dia berloyalitas dan benci di atas dasar selain tauhid. Yang demikian tidaklah benar, karena Al Wala’ dan Al Bara’ haruslah berdiri di atas tauhid.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Sungguh telah ada bagi kalian suri tauladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya tatkala mereka berkata kepada kaumnya: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah dari selain Allah. Kami mengingkari kalian dan telah tampak antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian selama-lamanya sampai kalian beriman hanya kepada Allah.” (Al Mumtahanah: 4)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling cinta kepada para penentang Allah dan Rasul-Nya, walaupun mereka bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka atau keluarga mereka. Mereka itulah yang (Allah) ukir dalam hati-hati mereka keimanan, dan Allah tolong dengan ruh (bantuan) dari-Nya. Allah masukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, merekapun ridha terhadap Allah. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah golongan Allah lah yang mendapatkan keberuntungan.” (Al Mujadalah: 22)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Hal ini tidak akan dicapai oleh orang yang meremehkan dan mencela tauhid, berwala’ dan bara’ di atas pemikiran-pemikiran politik yang menyimpang. Pensifatan ini tidak diberikan kepada mereka, namun diberikan kepada mereka yang mengimani tauhid dengan sebenarnya, memuliakan tauhid, sehingga dia berwala’ dan bara’ karena tauhid ini.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Demi Allah wala’ dan bara’ pada mayoritas manusia –saat ini- bukan di atas tauhid. Wala’ dan Bara’ bukan karena akidah, namun wala’ dan bara’, karena si fulan dan si fulan. Sedangkan si fulan dan si fulan manusia yang paling sesat dari agama Allah dan dari makna La ilaha Illallah. Loyalitas karena si fulan dan si fulan adalah petaka. Ini merupakan kehancuran yang menimpa ummat. Wahai para pemuda negeri ini, wahai para pemuda muslim di setiap tempat, kenalilah dakwah dan manhaj para Rasul. Ketahuilah bahwa perkaranya bukanlah kita diminta untuk memilih, namun ini adalah kewajiban yang sudah paten bagi setiap orang yang menyeru kepada-Nya dengan jujur, agar ia mengawali dakwahnya dengan dakwah menyeru kepada tauhid.<br />
Buktinya: Allah mensyariatkan manhaj (metode) ini bagi seluruh rasul dari yang paling awal hingga yang paling akhir. Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam memulai dakwah tauhid 13 tahun lamanya. (Selama itu) beliau tidak menyerukan syariat-syariat lain. Belum disyariatkan shalat –rukun Islam terpenting- melainkan sesaat sebelum hijrah. Zakat tidak disyariatkan melainkan di era madinah, yang menunjukkan pentingnya tauhid, karena ia sebagai pondasi. Ar Rasul shallallahu’alaihi wa sallam tidak bergeser sehelai rambut pun ketika para musyrikin Quraisy mendatanginya yang sanggup memenuhi apapun permintaannya.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Beliau menginginkan kekuasaan? Mereka penuhi. Mau wanita Quraisy tercantik? Mereka nikahkan. Mau harta? Mereka beri. Namun beliau berkata: “Aku tidak menginginkan dari kalian kecuali (dakwah) ini.” Beliau membaiat manusia dan berjihad di atas tauhid, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersyahadat La ilaha illallah wa anna Muhammadar Rasulullah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Apabila mereka telah melakukan hal itu, maka terlindungi dariku darah-darah dan harta-harta mereka.”<br />
Makna La ilaha illallah bukanlah “Tidak ada hakim kecuali Allah”! Namun (yang benar adalah) “Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah.”</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tetap memusatkan dakwahnya pada syahadat La ilaha illallah. Bahkan ketika fitnah kemurtadan muncul, Umar tidak mendapati argumen/ hujjah untuk menghalangi Abu Bakar yang memerangi mereka (orang-orang murtad), kecuali dengan ucapannya:<br />
“Bagaimana kita memerangi suatu kaum yang mengucapkan La ilaha illallah? Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersyahadat La ilaha illallah wa anna Muhammadar Rasulullah.”<br />
Dan Abu Bakar hanya menghafal kalimat ini juga karena sering kalinya ‘alaihisshalatu wassalam mengulang-ulanginya dan memfokuskan dakwah tauhid. Kemudian Abu Hurairah dan Jabir mendengar kesempurnaan hadits tersebut, shalat dan zakat sampai akhir hadits. Adapun Abu Bakar dan Umar tidaklah mendengar (kelanjutannya). Demi Allah seandainya keduanya mendengar, niscaya Umar tidak menghalangi Abu Bakar dan pasti Abu Bakar menjawabnya dengan sisa penggalan hadits tersebut radhiyallahu’anhum jami’an. Ini di antara dalil bahwa seorang yang alim besar dan mulia terkadang ada yang luput dari suatu ilmu yang ilmu itu diketahui oleh orang yang lebih rendah kedudukannya daripada dia –hal ini ada- barokallahu fikum.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Di antara ayat-ayat yang menunjukkan tentang keagungan Allah Tabaraka wa ta’ala, bahwa segala sesuatu mengagungkan Allah. Dia ‘azza wa jalla berfirman:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Tidaklah dari sesuatupun melainkan bertasbih dan memuji-Nya.” (Al Isra: 44)<br />
Dan berfirman:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Tidakkah engkau melihat apa yang ada di langit-langit dan bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, binatang-binatang melata dan banyak dari manusia sujud kepada Allah? Dan banyak dari manusia telah ditentukan adzab atasnya. Dan barangsiapa yang Allah hinakan, maka tiada seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Al Hajj: 18)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Segala sesuatu tunduk kepada Allah, segala sesuatu bertasbih kepada-Nya dengan rela ataupun tidak. Seorang kafir rendahpun tunduk kepada Allah tabaroka wa ta’ala. Allah ciptakan dia sesuai dengan kehendak-Nya. Allah jadikan dia seorang fakir, kaya, sakit, sehat dan celaka. Allah perbuat padanya sesuai kehendak-Nya. Maka ia dari sisi ini tunduk kepada-Nya. Maka ia dari sisi ini tunduk kepada Allah, membenarkan Allah, baik dalam keadaan mau ataupun enggan. Benda-benda mati, pepohonan, binatang-binatang melata tunduk kepada-Nya. Ini menunjukkan atas keagungan Allah tabaraka wa ta’ala. Segala sesuatu mengagungkan Allah.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Wahai akhi, agungkanlah Allah dengan mentauhidkan dan mengikhlaskan agama hanya untuk Allah. Dengan inilah seluruh para Nabi ‘alaihimusshalatu wassalam diutus.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Dari perkara yang bisa mengokohkan aqidah tauhid adalah kita mengetahui asma’ (nama-nama) dan sifat Allah. Allah ‘azza wa jalla berfirman:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Dan Allah memiliki nama-nama yang indah maka berdoalah dengannya.” (Al A’raf: 180)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Dan berfirman:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Dialah Allah yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali dia, Dialah Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengkaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Al Hasyr: 23)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Dan Dialah Allah Yang membentuk rupa, Yang mempunyai nama-nama yang paling baik. Segala yang ada di langit-langit dan bumi bertasbih pada-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Hasyr: 24)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Mayoritas manusia terbolak-balik dalam memahami tauhid, termasuk asma’ dan sifat Allah, akibat tipudaya para filosof, tipudaya orang-orang Jahmiyyah yang terpengaruh para filosof, Mu’tazilah dan selain mereka. Mereka tertelungkup dalam masalah ini. Sehingga mereka mengingkari istiwa (ketinggian Allah) di atas ‘Arsy dan nama-nama Allah. Jahmiyyah mengingkari nama-nama Allah, sedangkan Mu’tazilah mengingkari sifat-sifat-Nya, ketinggian Allah dan keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya. Hal ini menjerumuskan mereka kepada aqidah hulul dan wihdatul wujud (keyakinan yang menganggap Allah menyatu dengan makhluk-Nya), karena (menurut mereka) mereka mensucikan Allah dari keadaan-Nya di atas alam semesta dan para makhluk-Nya. Mereka mengatakan: “Sesungguhnya Allah di setiap tempat.” Dan berkata: “Tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan dan tidak di kiri, tidak di dalam dan tidak pula di luarnya serta tidak, tidak…”</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Bisa jadi mereka menyatakan bahwa Allah merupakan sesuatu yang tidak ada, atau menyetu pada segala sesuatu. Ini merupakan puncak pelecehan terhadap Allah Rabb semesta alam. Mereka mengesankan kepada manusia dan pengikut mereka yang jahat, bahwa mereka merupakan orang-orang yang mensucikan Allah. Kenapa? Mereka mengatakan: “Karena kalau kita menetapkan Allah berada di atas ‘arsy, berarti kita menetapkan Dia punya jasad, dan istiwa’ (di atas ‘arsy) berkonsekuensi Allah memiliki jasad, dan -menurut mereka- bisa jadi Allah lebih besar dari pada arsy atau lebih kecil atau juga lebih sangat besar lagi… dan seterusnya. (Semuanya itu adalah) omong kosong. Mereka menafikan dari Allah tajsim (berbentuk jasad) tetapi terjerumus ke dalam ta’thil (menafikan sifat-sifat Allah).<br />
Ahlussunnah mengatakan: “Istiwa (tingginya Allah di atas ‘arsy) sesuai dengan kemuliaan-Nya tidak seperti istiwanya para makhluk (di kursi dan seterusnya).”<br />
Sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya (Allah). Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy Syura: 11)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Ahlussunnah merupakan orang-orang yang Allah beri petunjuk untuk mengambil ayat ini tatkala manusia berselisih paham. Mereka mengambil ayat ini dan ayat lain yang semisalnya sebagai kaidah di dalam iman terhadap asma’ dan sifat serta perbuatan-perbuatan Allah ‘azza wa jalla. “Tidak ada sesuatupun yang semisal dengan-Nya” baik di dalam Dzat-Nya, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya. Maka mereka mensucikan Allah dari penyerupaan terhadap para makhluk, dan menetapkan bagi Allah apa yang Dia tetapkan bagi diri-Nya Jalla wa ‘Ala dari nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya sembari mensucikan Allah dari penyerupaan dari para makhluk. Maka ayat tersebut menyatakan: “Tetapkanlah nama-nama dan sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla seperti firman-Nya:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Dan mereka menafikan tasybih (penyerupaan dengan makhluk) berpatokan kepada firman-Nya:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Tidak ada sesuatupun yang semisal dengan-Nya.”</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Sesatlah orang-orang musyabbihah (orang-orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, -pen.) tatkala mengatakan: “Sesungguhnya Allah mempunyai nama-nama seperti nama-nama kita, punya penglihatan seperti penglihatan kita, dan beristiwa seperti istiwanya kita… dan seterusnya.”</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Orang-orang mu’athilah datang seraya menafikan dari Allah Tabaraka wa ta’ala permisalan dengan para makhluk dan tenggelam di dalamnya sampai menjerumuskan mereka untuk menafikan nama-nama dan sifat-sifat Allah. Sebagian mereka menafikan sifat-sifat Allah dan tidak menafikan nama-nama-Nya. Sebagian mereka menetapkan nama-nama dan menetapkan sebagian sifat-sifat, serta menafikan lainnya, seperti Asy’ariyah.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Yang jelas bahwa perang pemikiran sudah lama datang dari musuh-musuh Islam. Sedangkan gambaran pada benak manusia sekarang bahwa perang pemikiran baru datang pada masa sekarang. Karena apa? Karena mereka tidak mengingkari khurafat-khurafat, kebid’ahan-kebid’ahan dan penta’thilan (pembuangan) sifat-sifat Allah. Mereka tidak menganggap itu semua sebagai kemungkaran, karena ini adalah aqidah mereka. Sehingga mereka terbayang bahwa perang pemikiran baru muncul di masa kini. Kasihan mereka! Mereka datang memerangi negeri tauhid dengan khurafat dan kebid’ahan-kebid’ahan mereka. Ghazwul fikri muncul pada masa Ma’mun, pada masa Jahm bin Shofwan. Sejak saat itulah bermunculan beragam tipu daya terhadap islam. Pertama kali dengan menta’thilkan nama-nama dan sifat-sifat Allah serta mengingkari aqidah-aqidah Islam… dan seterusnya. Dan akhirnya tipudaya itu dilontarkan oleh tangan-tangan orang-orang Sufi dalam perkara tauhidul Ibadah. Dari sanalah timbul penta’thilan asma’ dan sifat-sifat Allah dan pengingkaran sebagian besar aqidah-aqidah islam. Pada puncaknya ahlul kalam mentahrifkan (memaknakan dengan makna yang bathil) La ilaha Illallah, orang-orang Sufi terpengaruh, sehingga klimaksnya timbul kerusakan yang parah yaitu terjatuh pada kesyirikan. Demi Allah, jika engkau pergi ke beberapa negara, niscaya engkau lihat bangunan-bangunan dibangun di atas kuburan, yang dulu orang jahiliyyah tidak mengenal bangunan di atas kuburan.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Pergilah engkau ke sebagian negeri, lihat bangunan (di atas kuburan) dan pohon-pohon yang digantungkan padanya, kain-kain yang diyakini di dalamnya ada barakah. Engkau lihat kuburan-kuburan, anjing, keledai dan hewan-hewan lain diibadahi dari selain Allah. Ini adalah pelanggaran besar. Dakwah-dakwah politik –demi Allah- melihat hal ini namun justru mengiyakannya. Dakwah-dakwah tersebut keluar sangat jauh dari dakwah dan manhaj para Nabi serta dakwah tauhid. Padahal inilah poros pembicaraan seluruh kerasulan. Mereka (dai-dai politik) pergi sangat jauh ke pertikaian-pertikaian politik dengan nama “Islami.”</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Kami membicarakan hal ini bukan untuk mencari muka manusia, kami hanya ingin memberi penerangan kepada orang yang tertipu dengan simbol-simbol ini yang menimbulkan kehancuran kaum muslimin dan tidak memberi manfaat apa-apa. Demi Allah, simbol-simbol ini tidaklah menambah kaum muslimin melainkan bencana. Dan tidaklah menambah di sisi Allah kecuali kerendahan dan kehinaan sampai mereka kembali kepada manhaj para nabi dan aqidah yang benar. Hingga mereka memperbaiki hal itu di sekolah-sekolah, universitas-universitas, rumah-rumah, akal-akal dan hati-hati mereka. Apabila mereka memperbaiki aqidah-aqidah ini dan amal-amal dibangun di atasnya, maka bergembiralah akan datangnya pertolongan Allah, kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Namun jika tetap enggan dan tetap memegang simbol-simbol rusak semacam ini, maka demi Allah ummat hanya bertambah rendah dan hina.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Lihatlah tindakan musuh-musuh Islam dan perhatikanlah sikap kaum muslimin. La haula wa la quwwata illa billah. Mereka sekarang sudah mencapai jumlah milyaran, namun seperti buih, buih di lautan kecuali yang Allah beri taufik, karena apa? Demi Allah karena mereka menyia-nyiakan tauhid, maka Allah tidak peduli mau di lembah mana mereka hancur. Mereka dikuasai oleh manusia-manusia yang paling rendah: Orang-orang Yahudi, Hindu dan Nashara. Orang-orang yahudi yang ditimpakan kepada mereka kerendahan dan kehinaan di manapun berada. Demi Allah mereka menghinakan kaum muslimin. Sekarang mereka menginjak-injak kepala kaum muslimin dengan kaki-kaki mereka. Orang-orang hindu lebih rendah dari mereka (Yahudi). Demi Allah mereka melecehkan kaum muslimin. Apa solusinya? Kembali kepada Tauhid. Bagaimana Allah akan menolong kalian, sedangkan berhala-berhala yang ada pada kalian lebih banyak daripada berhala-berhala yang ada pada orang-orang Nashrani dan Yahudi?! Bagaimana Allah akan menolong kalian, sedangkan mayoritas mereka meyakini bahwa para wali mengetahui perkara ghaib dan mengatur alam semesta?! Kalian tunduk bersimpuh kepada makhluk yang lemah, yang membutuhkan bantuan. Mereka adalah orang-orang yang tidak menguasai bagi diri-diri mereka madharat, manfaat, kematian, kehidupan dan kebangkitan. Demi Allah, mereka tidak menguasai bagi diri-diri mereka sedikitpun dari perkara itu.<br />
Tatkala Allah berkata kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Katakanlah aku tidak menguasai bagi diriku manfaat, tidak pula bahaya, kecuali apa yang Allah kehendaki.” (Al A’raf: 188)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Maka apa yang engkau inginkan setelah ini? Ucapan ini hak atau bathil? Yang tersirat pada orang-orang kubury (pengagung kuburan) ini mengatakan: “Tidak, ucapan ini tidak benar” –walaupun mereka tidak mendustakannya secara ucapan lisan-, akan tetapi kenyataannya mereka tidak menerima ucapan ini, tidak menerima, bahkan mengatakan: “Para wali bisa menolak madharat dan mendatangkan manfaat, Rasul bisa menolak madharat dan mendatangkan manfaat.” Ya akhi jadi engkau menentang Al Qur’an apabila aqidahmu demikian. Apabila engkau meyakini hal ini. Sedangkan Allah mengkafirkan perbuatan ini. Dia berfirman:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Katakanlah: Sesungguhnya aku tidak menguasai bagi kalian madharat tidak pula petunjuk.” (Al Jin: 21)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Apa yang engkau inginkan? Tidak menguasai bagi dirinya, orang lain, putrinya, tidak pula yang lainnya. Beliau bersabda kepada mereka:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Aku tidak bermanfaat sedikitpun bagi kalian dari (adzab) Allah.”</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Beliau berkata:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Hai Bani Abdi Manaf, hai sekalian orang-orang Quraisy, -atau kalimat semisal ini- belilah diri-diri kalian. Aku tidak bermanfaat sedikitpun bagi kalian dari (adzab) Allah. Wahai Bani Abdi Manaf aku tidak bermanfaat sedikitpun bagi kalian dari (adzab) Allah. Wahai Abbas bin Abdul Mutholib, aku tidak bermanfaat sedikitpun bagi kalian dari (adzab) Allah. Wahai Shafiyah bibi Rasulullah, aku tidak bermanfaat sedikitpun bagi kalian dari (adzab) Allah. Wahai Fathimah bintu Rasulullah, mintalah harta kepadaku sekehendakmu, aku tidak bermanfaat sedikitpun bagi kalian dari (adzab) Allah.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari di dalam Tafsir bab Wa andzir ‘Asyirataka wal aqrabin No. 4771 dan Muslim di dalam Al Iman bab Wa andzir ‘Asyirataka wal Aqrabin No. 206 dan lain-lain)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Apa yang engkau inginkan setelah ini? Allah memerintahkan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam untuk mengatakan:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Tidaklah aku ini melainkan hanya seorang pemberi peringatan dan pemberi kabar gembira bagi kaum yang beriman.” (Al A’raf: 188)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Dan berfirman:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang sangat jelas.” (Asy Syu’ara’: 115)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Inilah kepentinganku. Allah mewahyukan kepadaku dan aku menyampaikannya. Aku memberitakan kabar gembira dengan surga bagi orang-orang beriman dan memperingatkan orang-orang kafir dari neraka. Inilah yang aku miliki dan aku mampu. Adapun menolak madharat, mendatangkan manfaat, memberi kebahagiaan, mencelakakan, memberi petunjuk, dan menyesatkan maka seluruhnya hanya bagi Allah Rabb semesta alam.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Jika aku mengetahui perkara ghaib, niscaya aku akan memperbanyak kebaikan.” (Al A’raf: 188)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepada kalian di sisiku ada perbendaharaan Allah dan aku tidak mengetahui yang ghaib serta aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa aku seorang malaikat.” (Al An’am: 50)</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Apa yang engkau inginkan setelah keterangan ini? Apa gunanya keterangan ini bagi kaum muslimin di hari-hari ini? Datang para da’i kejelekan dan para da’i pembawa fitnah berupaya menyimpangkan tauhid dan dalil-dalilnya. Demi Allah berupaya menyimpangkan. Menurut pandangan mereka, tauhid memecah belah ummat. Mereka nyatakan dengan lisan, baik tersirat maupun tersurat: “Apabila kita menyeru kepada Tauhid, siapa yang akan datang mendatangi kami? Kami ingin sampai ke kursi, apabila kami mengatakan: Tauhid, Tauhid, maka manusia lari dari kami, sehingga kami tidak sampai (ke kursi kekuasaan). Kami ingin mempersatukan manusia. Orang Rafidhah saudara kami, orang Nashrani saudara kami, Khurafy Kubury saudara kami, dan seluruhnya saudara kami, hingga kami cepat sampai ke kursi. Baiklah, mereka sampai, lalu apa yang mereka perbuat? Persatuan agama dan muktamar persatuan agama-agama dan selainnya. Ini cukup bagi kalian.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Bahwasanya tatkala jamaah-jamaah yang menyeru kepada kursi-kursi ini hendak menampakkan apa yang diharapkan oleh manusia, mereka tidak memberimu penerapan syariah, tidak pula akidah, namun justru membangun gereja-gereja, kuburan-kuburan, dan mendeklarasikan muktamar penyatuan agama. Para politikus itu berkumpul, tiap bangsa dan negeri ikut serta dalam muktamar persatuan agama-agama. Ini menunjukkan bahwa dakwah-dakwah ini rusak dan jelek dasarnya, misi dan visinya. Apabila mereka telah mencapai yang diinginkan, maka berputarlah punggung-punggung mereka dari syiar-syiar Islam yang dulu mereka serukan.<br />
Permisalan-permisalan ini bisa disaksikan dan dirasakan. Demi Allah, pemuda-pemuda tauhid di kalangan kita tidak mengingkari perkara-perkara ini, karena apa? Karena sudah dirubah akal dan pikiran mereka. Aku tidak mendengar pengingkaran mereka terhadap arogansi para politikus ini. Berulang kali permainan semacam ini terjadi di beberapa negeri. Namun engkau tidak mendengar pengingkaran dari para politikus yang masih ada sedikit kebenaran pada agama dan interaksi mereka terhadap seruan-seruan politik semacam ini, walaupun menyeru kepada persatuan agama-agama, pembangunan gereja-gereja, dan kuburan-kuburan. Walaupun dan walaupun. Inilah pelajaran. Seorang yang jujur dan ikhlas dalam agamanya, apabila dia tertipu kemudian jelas baginya ternyata orang tersebut mengajak kepada kehancuran, dia akan menghindarinya dan akan berjalan di atas jalan islam. Adapun kalau engkau terus mengikutinya, menutupi aib-aibnya, dan membela (kesalahan-kesalahannya), ini adalah kesalahan.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">Dakwah-dakwah yang semacam ini, bukan dakwah para nabi –ia (dakwah para nabi) mengatakan: “Tauhid didahulukan.” Tapi dia mengatakan: “Politik terlebih dahulu. Ekonomi, tasawwuf dan khurafat terlebih dahulu.” Hal ini tidak ada nilainya. Dari dakwah-dakwah ini, kaum muslimin hanya mendapatkan kematian, kehancuran dan kesia-siaan. Kehidupan yang baik dan bahagia di dunia maupun di akhirat terletak pada tauhid, di atas makna La ilaha illallah Muhammad Rasulullah; jika demikian Allah akan menolong, memuliakan dan memberikan kewibawaan kepada kita. Masih juga melanjutkan jalan yang digariskan para penyeleweng, para kuburiyyun dan khurafiyun, maka demi Allah kita hanya menunggu dari Allah kerendahan dan kehinaan.</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span lang="EN">“Barangsiapa yang direndahkan oleh Allah, maka tidak ada yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.” (Al Hajj: 18)</span></p>
<p><span lang="EN">Aku mencukupkan sampai di sini, aku meminta kepada Allah tabaraka wa ta’ala untuk mempersiapkan para dai yang jujur dan ikhlas sehingga memuliakan dakwah para nabi dan menyeru kepadanya, mengorbankan jiwa dan raga, yang mahal maupun yang murah untuk meninggikan kalimat La ilaha illallah, dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kaum muslimin dengan adanya mereka, mengangkat keadaan kaum muslimin dan mengembalikannya ke jaman keemasannya, yang Allah memuliakan, mengangkat serta menjadikan mereka sebagai pimpinan-pimpinan ummat dan sebagai sebaik-baik ummat yang dikeluarkan bagi manusia. Tidaklah mereka mendapatkan kecuali dengan memurnikan La ilaha illallah Muhammad Rasulullah, beramar ma’ruf nahi munkar dan beriman kepada Allah. Aku memohon kepada Allah agar menjadikan kami dan kalian termasuk mereka. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para shahabatnya.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/r3ndr1.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/r3ndr1.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/r3ndr1.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/r3ndr1.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/r3ndr1.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/r3ndr1.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/r3ndr1.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/r3ndr1.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/r3ndr1.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/r3ndr1.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/r3ndr1.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/r3ndr1.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/r3ndr1.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/r3ndr1.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/r3ndr1.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/r3ndr1.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=13&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://r3ndr1.wordpress.com/2008/07/10/tawhid-first/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/454d5c90c00c5c4a78b6ffc247263b7f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">r3ndr1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bismillaahirrohmaanirrohiim</title>
		<link>http://r3ndr1.wordpress.com/2008/06/16/bismillaahirrohmaanirrohiim/</link>
		<comments>http://r3ndr1.wordpress.com/2008/06/16/bismillaahirrohmaanirrohiim/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 07:49:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yovi rendri</dc:creator>
				<category><![CDATA[CurHat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://r3ndr1.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Assalaamu&#8217;alaykum Ini adalah post perdanaku Assalaamu&#8217;alaykum<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=3&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Assalaamu&#8217;alaykum</p>
<p style="text-align:left;">Ini adalah post perdanaku</p>
<p style="text-align:left;">Assalaamu&#8217;alaykum</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/r3ndr1.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/r3ndr1.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/r3ndr1.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/r3ndr1.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/r3ndr1.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/r3ndr1.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/r3ndr1.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/r3ndr1.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/r3ndr1.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/r3ndr1.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/r3ndr1.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/r3ndr1.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/r3ndr1.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/r3ndr1.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/r3ndr1.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/r3ndr1.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=r3ndr1.wordpress.com&amp;blog=3990108&amp;post=3&amp;subd=r3ndr1&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://r3ndr1.wordpress.com/2008/06/16/bismillaahirrohmaanirrohiim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/454d5c90c00c5c4a78b6ffc247263b7f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">r3ndr1</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
