Pernikahan Indah dan Suci

October 21, 2010 at 10:37 pm Leave a comment

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمدالله حمداكثيراطيبامباركا فيه كمايحب ربناويرضى
أشهدأن لاإله إلاالله وحده لاشريك له وأشهدأن محمداعبده ورسوله
أمابعد :

Saudara-saudaraku kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah, semoga Allah selalu menjaga kita semua. . .
Merupakan nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla yang paling besar adalah ni’matul Islam, yaitu nikmat memeluk agama Islam. Di mana dengan nikmat ini kita diselamatkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dari agama-agama kafir, sehingga kita tidak akan kekal di dalam neraka. Di samping itu juga, dengan memeluk agama Islam ini kita akan merasakan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan hidup yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat (dengan catatan: kita mau mengilmui serta mengamalkan nilai-nilai agama ini secara kaffah), karena memang agama ini mengajarkan segala bentuk maslahat, prinsip-prinsip kebaikan, keadilan dan keselamatan, serta memperingatkan dari segala macam madharat, kejelekan, kejahatan maupun perkara-perkara yang membahayakan. Agama ini adalah rahmat yang dengannya Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wa salam diutus, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

١٠٧. وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiya’ : 107).

Maka tidaklah ada satu agamapun yang mengandung semua kebaikan dan mencegah dari seluruh bentuk kejelekan kecuali agama yang sempurna (Ad Dienul Kamil). Di mana, agama yang sempurna adalah agama yang utuh, lengkap, dan berbicara tentang seluruh aspek kehidupan, zhahir dan batin. Di dalamnya terdapat ajaran tentang hubungan manusia dengan Allah Rabbnya ‘Azza wa Jalla, hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam semesta, hubungan dengan makhluk-makhluk yang lain, dan hubungan dengan diri sendiri. Di dalamnya juga terdapat konsep-konsep muamalah duniawiyah dan ukhrawiyah. Di dalamnya juga terdapat prinsip dan nilai-nilai aqidah, ibadah, akhlaq, muamalah, halal-haram, dan lain sebagainya. Sehingga, agama yang sempurna sejatinya adalah agama yang mampu memanusiakan manusia secara utuh dan menempatkannya pada maqam (kedudukan) yang mulia.
Maka barangsiapa yang mau mengilmui ad dienul kamil, mengamalkan ajaran-ajarannya secara kaffah dan istiqamah di atasnya, berarti dia adalah manusia yang utuh dan memiliki kedudukan yang mulia.
Dialah manusia yang merasakan kebahagiaan yang sejati di dunia berupa ketenangan hidup, kedamaian, ketentraman serta keselamatan dari fitnah syubhat dan syahwat; Demikian pula kebahagiaan yang sejati di akhirat berupa keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla, keselamatan dari adzab neraka, serta kenikmatan dan kemuliaan di dalam jannah. Sebaliknya barangsiapa menjauh dari ad dienul kamil, tidak mengilmui dan mengamalkan ajaran-ajarannya, maka dia akan sangat rentan terjatuh ke dalam berbagai bentuk pelanggaran syari’at; dan kelak Allah ‘Azza wa Jalla yang akan membalas dia dengan hukuman yang setimpal sesuai dengan kadar kejahatan yang telah dia lakukan.
Saudara-saudaraku kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah, semoga Allah selalu melindungi kita. . .
Setelah kita memahami betapa pentingnya bagi kita untuk senantiasa menempuh jalan ad dienul kamil (agama yang sempurna), mengilmui dan mengamalkannya secara kaffah, maka ketahuilah, bahwa tidak ada satu tingkat kesempurnaan, utuh dan lengkap mengatur semua sisi kehidupan kecuali Dienul lslam (agama Islam). Allah ‘Azza wa Jalla sendiri telah merekomendasikan kesempurnaan Islam ini dengan firmanNya:

…الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً…

…Pada hari ini telah Kesempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagi kalian… (QS. Al Maidah: 3).

Al Islam adalah agama yang sempurna. Tidak ada satu kisipun dari kehidupan ini kecuali telah tersentuh bias cahaya Islam. Maka sudah selayaknya bagi kaum muslimin untuk berpegang teguh dengan ajaran-ajaran Islam, meluruskan pola pikir dan pemahamannya sesuai Islam, serta menjadikan Islam sebagai pijakan yang pertama dan utama dalam mengarungi samudra kehidupan ini.
Saudara-saudaraku kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah. . .
Salah satu kisi penting dari kehidupan ini yang tidak lepas dari perhatian Islam adalah PERNIKAHAN. Islam datang dengan membawa ajaran dan aturan yang demikian indah serta mengagumkan dalam masalah ini. Di mana, Islam tampil sebagai suatu konsep dan ideologi yang benar-benar ‘memanusiakan manusia’ (dalam hal pernikahan), memuliakan dan menempatkannya pada kedudukan yang terhormat. Islam mengatur masalah pernikahan dengan baik dan disiplin, sehingga pernikahan dalam pandangan Islam dan yang dijalankan sesuai tata cara Islam sangatlah jauh dari bentuk-bentuk perzinaan (walau sekecil apapun), jauh dari nuansa pornoaksi/pornografi, kerusakan, kejelekan, maupun perkara-perkara yang tidak pantas, baik dalam perspektif agama, fitrah yang suci, adat-istiadat yang baik, tata sosial kemasyarakatan yang lurus, serta nilai-nilai etika dan moralitas. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas MAKNA DAN TUJUAN PERNIKAHAN DALAM PANDANGAN ISLAM.
Saudara-saudaraku kaum muslimin, hafizhokumullah…
Pernikahan dalam pandangan Islam memiliki arti dan nilai yang suci. Pernikahan memiliki makna yang sangat dalam dan harapan jauh ke depan, dunia dan akhirat. Kita semua, insya Allah, telah mengetahui bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Maka Islampun memahami bahwa manusia diciptakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla sebagai makhluk yang memiliki syahwat, kebutuhan-kebutuhan biologis, serta ‘keinginan’ terhadap lawan jenis. Oleh karena itu, Islam datang dengan segenap aturan nan suci untuk menyalurkan semua itu di atas jalan yang benar dan diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga, dalam tinjauan Islam, pernikahan itu bukanlah sekedar sarana untuk mengumbar syahwat atau ajang pelampiasan hawa nafsu tanpa mengandung konsekuensi-konsekuensi tertentu (secara syar’i). Tidak! Akan tetapi dari kacamata Islam, pernikahan sejatinya memiliki tujuan-tujuan tertentu yang mendatangkan maslahat di dunia dan akhirat, di antaranya:

1) PERNIKAHAN MERUPAKAN SATU SARANA IBADAH KEPADA ALLAH ‘AZZA WA JALLA

Ya, pernikahan merupakan satu bentuk ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla (apabila diniatkan ibadah oleh pelakunya), karena ia merupakan perkara yang disyari’atkan dalam agama ini, bahkan termasuk sunnah para Rasul ‘alaihimushsholatu wassalam, tak terkecuali Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

٣٨. وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجاً وَذُرِّيَّةً…

“Dan sungguh Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum engkau dan Kami jadikan bagi mereka istri-istri dan keturunan…” (QS. Ar Ra’d : 38).

Di dalam hadits Anas bin Malik Rodhiallahu’anhu riwayat Al Bukhari dan Muslim, dikisahkan bahwa ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi Sholallahu ‘alayhi wassalam untuk menanyakan tentang ibadah beliau. Maka setelah diberitahu, merekapun merasa bahwa ibadah mereka tidak ada apa–apanya dibandingkan dengan ibadah beliau, padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang. Maka berkatalah salah seorang dari mereka, “Adapun aku, aku akan shalat malam selamanya.” Berkata yang lain, “Aku akan berpuasa sepanjang masa dan tidak akan pernah berbuka.” Orang yang ketiga berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya.” Maka datanglah Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam dan bersabda, “Apakah kalian yang mengatakan demikian dan demikian? Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat (malam) dan tidur, dan akupun menikahi wanita.” Kemudian beliau menyatakan:

…فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّيْ… (رواه البخاري(

“Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.”

Hadits ini menunjukkan bahwa menikah merupakan sunnah Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam.
Oleh karena itu, barangsiapa yang menjalani pernikahan dengan niat untuk ittiba’us Sunnah (mengikuti Sunnah Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam), serta niat yang ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla, maka yang demikian bisa terhitung sebagai satu ibadah di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.
Sebaliknya, barangsiapa yang menikah semata-mata untuk mencari kepuasan dan melampiaskan hawa nafsu serta kebutuhan biologis, sehingga ia tidak mau tahu dengan segala konsekuensi pernikahan, maka pernikahannya itu bisa dihukumi haram dan pelakunya berhak mendapat dosa berikut ancaman adzab Allah ‘Azza wa Jalla. Dalil yang menunjukkan bahwa pernikahan merupakan ibadah yang mendatangkan pahala juga datang dari hadits Abu Dzar Rodhiallahu’anhu riwayat Muslim. (Hadits ke-25 dari Al Arba’in An Nawawiyyah)

2) PERNIKAHAN MERUPAKAN SATU SARANA UNTUK MENJAGA KEHORMATAN DAN SELAMAT DARI FITNAH SYAHWAT

Manusia yang telah difitrahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla memiliki ‘keinginan’ dan syahwat (terhadap lawan jenis) tentu akan berusaha untuk bisa menyalurkan syahwatnya tersebut. Hal ini terutama menimpa para pemuda, di mana darah muda dan gelora keremajaan akan senantiasa membuat mereka terbuai, terombang-ambing serta terjebak dalam khayalan-khayalan yang muncul dari fitnah syahwat. Maka para pemuda yang masih memiliki semangat yang tinggi, kebugaran fisik dan impian-impian yang panjang akan sangat rentan untuk terjatuh ke dalam perbuatan-perbuatan yang haram, keji, dan merusak kehormatan apabila mereka tidak memiliki ilmu dien serta keimanan yang kokoh.
Berangkat dari latar belakang seperti inilah lslam datang dengan membawa bimbingan dan solusi yang tepat untuk menyelamatkan para pemuda dari fitnah syahwat sekaligus menjaga kehormatan mereka.
Sebagaimana termaktub dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud Rodhiallahu’anhu riwayat Al Bukhari dan Muslim, di mana Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam bersabda:

يامعْشرالشبابِ، من استطاع منكم الباءة فلْيتزوّجِ فإنه أغضُّ للبصروأحْصنُ للفرْج، ومن لم يستطِعْ فعليه بالصوْم فإنه له وِجاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian sudah ba’ah (mampu lahir batin) maka hendaknya dia menikah, karena hal itu lebih bisa menundukkan pandangan serta menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu maka atasnya untuk berpuasa, karena puasa itu merupakan tameng baginya.”

Maka hendaknya para pemuda mau memperhatikan dan menjalankan bimbingan indah Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam ini apabila mereka khawatir tidak bisa selamat dari fitnah syahwat. Betapa banyak realita tersebar di masyarakat, dari kasus-kasus perzinaan, perkosaan, ‘kumpul kebo’, hamil di luar nikah, pergaulan bebas, homoseks, lesbian, aborsi, onani, masturbasi, pelecehan seksual, dan lain-lain. Hal tersebut dikarenakan umat ini, terutama para pemudanya, tidak mau menempuh As Sunnah An Nabawiyyah yang suci, malah justru lebih senang memperturutkan hawa nafsu serta budaya-budaya kebebasan. Nas-alullahas salamah wal ‘afiyah.

3) PERNIKAHAN MERUPAKAN SATU SARANA UNTUK MERAIH KETENTRAMAN DAN KEDAMAIAN HIDUP

Siapapun orangnya, tentu menginginkan ketentraman dan kedamaian dalam hidup ini. Seseorang yang tidak merasakan kehidupan yang tentram dan damai, pasti akan merasakan hidup yang susah, gelisah, suntuk, tak tentu arah dan menderita. Sementara itu, salah satu perkara yang -insya Allah- akan bisa menghadirkan ketentraman dan kedamaian hidup adalah manakala seseorang memiliki pendamping hidup yang akan senantiasa menyertai hari-harinya, tempat mencurahkan perasaan hati, kawan dalam suka dan duka, tempat “berteduh dari panas” dan “bernaung dari hujan”, penyulut semangat serta pelipur lara. Seorang teman hidup yang akan membangunkannya manakala dia terjatuh, mengingatkannya tatkala dia bersalah, mendukungnya ketika dia lemah, membimbingnya pada saat dia salah langkah. Teman hidup inilah yang dinamakan “istri” bagi seorang lelaki dan “suami” bagi seorang wanita.
Mengingat betapa besar maslahat serta peran teman hidup ini dalam upaya meniti tapak-tapak kehidupan, maka Allah ‘Azza wa Jalla pun menetapkan bagi manusia pasangan dari jenisnya sendiri demi terwujudnya ketenangan hidup. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

٢١. وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isti-istri dari jenismu sendiri supaya kamu tentram dan cenderang kepadanya, dan dijadikannya di antara kamu rasa cinta kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Ruum : 21).

Maka diharapkan dengan adanya pernikahan, seseorang akan memperoleh ketentraman hidup. Kemudian dengan terwuiudnya ketentraman itu, diharapkan seseorang akan lebih baik dalam menjalani alur kehidupan, serta lebih termotivasi dalam merealisasikan amanah ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena memang manusia diciptakan di dunia ini adalah untuk beribadah kepada-Nya. (QS. Adz Dzaariyaat : 56).
Satu hal yang perlu diingat, bahwa harapan hidup tentram dan damai yang dijanjikan dari sebuah pernikahan akan benar-benar terwujud -insya Allah- apabila seseorang mendapatkan pasangan hidup yang baik agamanya, shalih/shalihah, memiliki sifat dan akhlaq yang mulia, serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam membimbing kita untuk lebih memprioritaskan kualitas agama di dalam memilih teman untuk mengayuh biduk rumah tangga. Di dalam hadits Abu Hurairah Rodhiallahu’anhu riwayat Al Bukhari dan Muslim, Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam menjelaskan bahwa seorang wanita dinikahi karena empat perkara: harta benda, kehormatan, kecantikan, dan agama. Kemudian beliau menasihatkan agar seseorang lebih mengutamakan wanita dengan agama yang baik, jika tidak, maka ia akan celaka.
Demikian pula, Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam membimbing para wali wanita agar menikahkan si wanita dengan seorang lelaki yang diridhai (dipercaya) agama dan akhlaqnya. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar. Sebagaimana hal ini termaktub dalam hadits Abu Hatim Al Muzany Rodhiallahu’anhu riwayat Al Imam At Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani Rohimahullah di dalam SHAHIH AT TIRMIDZI: 886.
Maka, sekali lagi, hendaknya seseorang lebih mengedepankan agama calon pasangan hidupnya. Betapa banyak sudah contoh terpampang di depan mata kita, perjalanan rumah tangga yang berakhir dengan kehancuran, penyesalan, duka nestapa yang mendalam serta warna hidup yang suram, dikarenakan seseorang lebih terobsesi untuk mendahulukan harta benda duniawi, pangkat jabatan, serta penampilan fisik yang menggoda ketika mencari pasangan hidup dengan menutup mata atas rusaknya agama berikut jeleknya akhlaq calon pasangannya tersebut. Padahal proses berumah tangga bukanlah untuk dijalani di dunia ini saja. Tetapi, lebih dari itu, ada nilai-nilai tanggung jawab kelak di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Maukah kita mengalami nasib seperti orang-orang yang ‘broken home’ tersebut!

4) PERNIKAHAN MERUPAKAN SATU SARANA UNTUK MEMPERBANYAK UMAT ISLAM

Tidak diragukan lagi, bahwa salah satu kekuatan umat ini bersumber dari kuantitas (jumlah) mereka yang besar (dengan catatan: Selama kaum muslimin mau berpegang teguh dengan ajaran-ajaran Islam yang benar, yang digali dari Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman para shahabat). Menang dalam kuantitas tetapi kalah dalam kualitas akan membuat umat ini gampang terombang-ambing, dipermainkan oleh musuh-musuhnya.
Di samping itu Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam kelak akan berbangga dengan banyaknya umat beliau di hadapan umat-umat yang lain. Sebagaimana sabda Nabi Sholallahu ‘alayhi wassalam:

تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ

“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur (banyak anak), karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan banyaknya (jumlah) kalian di hadapan para umat.” (HR. Abu Dawud dan An Nasa’i. Dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani Rohimahullahu di dalam SHAHIHUL JAMI’: 2940 dan AL IRWA’: 1784).

Oleh karena itu, merupakan satu kesalahan besar dalam tinjauan Islam ketika seseorang membatasi jumlah kelahiran anak tanpa udzur serta alasan-alasan yang syar’i.
Harus disadari, bahwa program-program pembatasan jumlah anak sejatinya tidak lebih dari propaganda orang-orang kafir (Barat) untuk menekan semaksimal mungkin pertambahan kuantitas umat lslam.
Karena mereka mengerti bahwa jumlah yang besar merupakan salah satu modal kekuatan umat ini (tetapi dengan catatan yang telah disebutkan).
Maka dari itu, wahai kaum muslimin…. Hendaknya kita kembali kepada ajaran agama kita yang mulia. Jangan mudah terseret arus. Jangan gampang terpengaruh oleh berbagai makar dan propaganda orang-orang kafir untuk melemahkan kekuatan kita. Karena apabila kita lemah, maka mereka akan leluasa menginjak-injak agama kita, hingga kemudian menyeret kita masuk ke dalam agama kafir mereka, yang itu berarti kita akan kekal di dalam neraka Allah ‘Azza wa Jalla jika kita meninggal di atas kekafiran. Allahul Musta’ an.
Saudara-saudaraku kaum muslimin…
Demikianlah sebagian kecil dari makna dan tujuan pernikahan dalam pandangan Islam. Ternyata ‘bagian hidup’ yang oleh sebagian orang dianggap sakral dan bersejarah ini memiliki nilai yang indah dan suci dalam perspektif Islam, agama kita yang mulia dan sempurna. Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar senantiasa memberi hidayah dan taufiq kepada kita, sehingga kita bisa selalu menjalani sekecil apapun bagian-bagian hidup kita di atas syari’at-Nya nan suci dan indah. Sehingga kita berharap, semoga kita selalu mendapat ridha Allah ‘Azza wa Jalla dan kelak kita diselamatkan dari adzab neraka serta dimasukkan ke dalam jannah-Nya, negeri kebahagiaan dan kemuliaan. Amin. Barakallahufikum.

Sumber: “PERNIKAHAN Indah dan Suci Di Atas Syari’at Ilahi” {Penulis: Abu Faqih Muhammad ibnu Ali ‘Umar Al Jombangi; Penerbit: Hikmah Ahlus Sunnah (HAS), Ramadhan 1427 H/Oktober 2006 M}

Advertisements

Entry filed under: Nasihat.

Keutamaan Hari ‘Asyura Kembali Kepada Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


HIKMAH SALAF

Berkata Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu:"Sesungguhnya Allah Ta'ala melihat hati para hamba-Nya dan Ia mendapatkan hati Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam yang paling baik, maka Ia memilihnya untuk diri-Nya dan Ia mengutusnya dengan risalah-Nya. Kemudian Ia melihat hati para hamba-Nya setelah melihat hati Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam, maka Ia mendapatkan hati para sahabat adalah yang paling baik. Maka Ia menjadikan mereka (para sahabat) sebagai pendamping nabi-Nya untuk menampakkan agama-Nya.Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin (para sahabat), maka hal itu baik di sisi Allah, dan apa yang dipandang buruk oleh mereka, maka buruk di sisi Allah" (Dikeluarkan oleh: Ahmad dalam Musnad-nya 1/379; At-Thiyalis dalam Musnad-nya no. 246. Di-HASAN-kan oleh Al-Albani dan di-SHAHIH-kan oleh Al-Haakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)

Post-post yg Recent

Arsip

Komen-komen yg Recent

abdullah harist on Jangan Gampang Memvonis Mati S…

Statistik Weblog

  • 633 kunjungan

%d bloggers like this: